9 Fakta Ilmiah: Punya Anak Pengaruhi Kesuksesan Orangtua

lead image

Ini adalah bacaan wajib untuk setiap ayah dan ibu yang bekerja. "Isi artikel tentang kesuksesan ini sangat mengejutkan," begitu komentar hampir setiap pembaca.

Parents, apa yang Anda rasakan setelah menjadi orangtua? Apakah Anda merasa hidup semakin sulit atau Anda merasa kesuksesan sudah di tangan Anda?

Simak 9 fakta ilmiah yang menjelaskan mengapa memiliki anak dapat mempengaruhi kesuksesan orangtua:

1. Orangtua, terutama ibu, mengalami bias di tempat kerja

Menurut sebuah laporan penelitian yang dikeluarkan LeanIn.Org and McKinsey and Company, menjadi seorang ibu seringkali memicu asumsi bahwa perempuan akan menjadi kurang kompeten dan kurang berkomitmen dalam karir mereka.

Akhirnya kesempatan ibu untuk mencapai posisi lebih tinggi pun menjadi lebih sedikit.

Laporan ini senada dengan penelitian Cornell yang menyatakan bahwa banyak perusahaan cenderung mendiskriminasi ibu yang bekerja.

Dalam penelitiannya, para peneliti mengirimkan sejumlah surat lamaran palsu kepada sejumlah perusahaan. Dalam beberapa resumenya, pelamar mencantumkan data bahwa mereka merupakan anggota asosiasi guru dan orangtua.

Lantas bagaimana respon perusahaan-perusahaan tersebut?


Kandidat pria yang menyebutkan mereka bagian dari asosiasi ini cenderung lebih banyak dipanggil oleh perusahaan.

Sementara hanya setengah dari perempuan yang mencantumkan hal yang sama, yang dipanggil oleh perusahaan.

Partisipan penelitian ini juga menggolongkan ibu sebagai pilihan terakhir. Mereka menganggap para ibu kurang kompeten dan kurang komitmen untuk bekerja dibanding wanita yang tak punya anak dan pria.

Selain itu, kandidat yang merupakan seorang ayah dianggap lebih berkomitmen terhadap pekerjaan dari pada pria lajang atau pria yang tak punya anak.

2. Punya anak membantu para ayah menghasilkan lebih banyak uang

Sebuah grup penelitian Third Way’s President Jonathan Cowan and resident scholar, Dr. Elaine C. Kamarck menulis tentang “The Fatherhood Bonus and The Motherhood Penalty: Parenthood and the Gender Gap in Pay.”

Dalam tulisan ini dinyatakan bahwa faktanya para ayah mendapat bonus lebih besar, sementara para ibu mendapat gaji standar.

Dalam sebuah jurnal akademik, penulis Michelle J. Budig, seorang profesor di University of Massachusetts-Amherst menulis,”Saat kesenjangan gaji karena gender menurun, kesenjangan gaji karena menjadi orangtua justru meningkat.”

Selama 15 tahun penelitiannya untuk hal ini, Budig menemukan bahwa rata-rata pria menghasilkan 6% lebih banyak ketika mereka memiliki anak, sementara perempuan terus berkurang 4% dari setiap anak yang mereka miliki.

“Semua ini berkaitan dengan bias budaya terhadap para ibu,” ujar Corell pada New York Times.

3. Orangtua cenderung lebih produktif

Ada pandangan bahwa orangtua, karena punya lebih banyak tanggungan dibanding karyawan lajang, akan lebih terganggu kinerjanya. Namun penelitian menunjukkan bahwa para orangtua cenderung akan lebih produktif daripada rekan mereka yang tak punya anak.

Setelah menganalisa sejumlah penelitian yang dipublikasikan oleh lebih dari 10,000 penelitian akademik dan ekonomi, penelitian di bawah the Federal Reserve Bank of St. Louis menemukan bahwa ibu usia 30 an yang berkarir umumnya lebih produktif dari pada perempuan yang tak punya anak. Ibu dengan dua anak atau lebih menjadi yang paling produktif.

Sementara ayah dengan minimal dua anak lebih produktif dibanding ayah dengan satu anak dan pria lajang.

4. Orangtua cenderung mengembangkan keahlian dan melatih diri untuk bekerja dengan lebih baik.

Terkait poin ini, Clark Univeristy dan Center of Creative Leadership di Carolina Utara meneliti performa kerja manajer di beberapa perusahaan dikaitkan dengan komitmen mereka terhadap anak.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemampuan membesarkan anak membawa manfaat di tempat kerja. Manajer yang memiliki anak lebih berkomitmen meningkatkan kinerja mereka.

Menurut peneliti, hal ini karena membangunn keluarga praktis mengembangkan kemampuan negosiasi, kompromi, kemampuan penyelesaian masalah, kesabaran dan melatih mereka menjadi multitasking. Selain itu, keluarga cenderung membuat para manajer bekerja dengan perasaan positif.

Ann Crittenden penulis buku “If You’ve Raised Kids, You Can Manage Anything,” setuju dengan hal ini. Dalam bukunya dia menulis,”Orang yang belajar bagaimana menenangkan balita yang mengamuk, menyamankan perasaan remaja yang jengkel, mengatasi krisis, mengatasi masalah penting dalam waktu yang sama mampu memotivasi tim, dan bertahan dalam berbagai intrik di kantor.”

5. Menjadi orangtua cenderung menjadi punya ambisi

Ada yang salah dalam persepsi bahwa perempuan yang membangun keluarga berarti kurang ambisius dalam karir mereka. Dalam survey LeanIn.Org and McKinsey & Company terhadap 118 perusahaan dan hampir 30.000 karyawan, para ibu 15% lebih tertarik menjadi top eksekutif di kantor mereka dibanding perempuan tanpa anak.

Faktanya, baik ibu dan ayah sama-sama mengatakan mereka ingin dipromosikan dan menjadi top eksekutif dibanding mereka yang bukan orangtua.

6. Persahabatan pasti berubah setelah punya anak

Bicara soal kesuksesan biasanya dikaitkan dengan percepatan karir dan uang, namun satu faktor penting lain seperti hubungan interpersonal juga punya peran penting dalam kesuksesan kita.

Saat Child Magazine melakukan survey pada sekitar 100 orangtua, hampir setengah dari ayah dan ibu mengatakan mereka punya sedikit teman setelah anak lahir.

Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah waktu. Sebelum punya anak, perempuan menghabiskan rata-rata 14 jam seminggu dengan teman-teman, sementara pria 16 jam. Setelah punya anak jumlah tersebut turun menjadi 5 jam bagi perempuan dan 6 jam bagi pria.

Faktor lainnya adalah apa yang mereka harapkan dari pertemanan. Misalnya, hampir semua perempuan yang disurvei mengatakan mereka bergantung pada teman mereka untuk having fun— jumlah tersebut turun hingga setengahnya setelah punya keluarga. Mayoritas perempuan yang disurvei merasa punya teman yang mau mendengarkan lebih penting setelah punya anak.

7. Pernikahan cenderung ‘menderita’ setelah kelahiran anak

Dalam ulasan penelitian sebelumnya, peneliti menyimpulkan bahwa parenthood cenderung memberi efek negatif dalam kepuasan rumah tangga. Hal ini disebabkan konflik yang meningkat karena pengaturan peran dalam pernikahan dan terbatasnya kebebasan orangtua.

Penelitian ini juga mengindikasikan semakin banyak anak dalam keluarga semakin rendah tingkat kepuasan orangtua dalam pernikahan. Perbedaan kepuasan tersebut terutama pada ibu yang memiliki bayi, sementara bagi pria efeknya hampir sama dengann anak usia berapapun.

Selain itu, menurut penelitian, kelompok yang punya efek negatif lebih banyak adalah orangtua dari golongan sosial ekonomi tinggi, orangtua berusia muda dan mereka yang melahirkan lebih banyak anak.

8. Gaya hidup para orangtua cenderung lebih tidak sehat

John Dick, pendiri CivicScience menulis di Quartz bahwa para non orangtua cenderung memiliki gaya hidup lebih sehat dibanding para orangtua.

Menurut poling yang dilakukan Dick, mereka yang bukan orangtua 75% memiliki rata- rata jam tidur lebih dari 8 jam setiap malam, sementara orangtua memiliki jam tidur dibawah 6 jam setiap malam.

Sebanyak 73% non parents juga mengatakan mereka tak pernah makan makanan cepat saji di restoran dan 38% melakukan fitnes di gym minimal satu kali seminggu; sementara para orangtua mengatakan mereka tak pernah olahraga, 10% lebih banyak kelebihan berat badan, dan 54% lebih banyak merokok.

9. Punya anak sangat mempengaruhi kebahagiaan orangtua

Banyak orang mengukur kesuksesan dengan seberapa bahagia mereka, dan banyak penelitian menunjukkan bahwa memiliki anak memiliki peran besar untuk hal ini.

Peneliti kebahagiaan, Sonja Lyubomirsky menjelaskan pada Time, beberapa penelitian mengindikasikan bahwa orangtua cenderung lebih bahagia daripada non orangtua. Sedangkan penelitian lain menyatakan sebaliknya– itu tergantung orangtua dan anak.

Analisa lengkap dari beberapa penelitiannya menunjukkan:
– orangtua yang masih muda dan orangtua dengan anak kecil cenderung lebih tidak bahagia
– ayah, orangtua yang menikah cenderung memiliki kepuasan hidup tinggi, bahagia dan hidup lebih bermakna.

Bagaimanapun, semua tipe orangtua punya hidup yang lebih bermakna dari pada rekan mereka yang tak punya anak. Dengan kata lain reward dari punya anak bisa lebih tak terlukiskan.

Parents, apakah Anda setuju dengan hal di atas?

Referensi: Bussines Insider

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.