Ajari anak untuk tidak lakukan hal ini pada difabel

lead image

Penyandang disabilitas sudah mempunyai pengalaman tersendiri dengan keadaan tubuhnya. Mereka sudah terbiasa melakukan banyak hal dengan kondisi yang tidak sempurna

Pada 3 Desember setiap tahunnya, dunia memperingati Hari Disabilitas Internasional atau International Day of Persons with Disabilities. Peringatan ini juga dikenal dengan Hari Penyandang Cacat Internasional. 

Tahukah bunda bahwa berdasarkan data Perhimpunan Bangsa Bangsa, 15 persen dari total populasi dunia merupakan penyandang disabilitas, baik dalam fisik maupun mental. Jumlah itu berearti kurang lebih setara dengan 1,1 miliar jiwa

Di masyarakat, para penyandang disabilitas kerap kali dipandang sebelah mata, terutama atas ketidakmampuannya dalam melakukan hal-hal tertentu. Asumsi itulah yang kemudian banyak mendasari sikap keliru yang dilakukan oleh masyarakat saat berinteraksi dengan kaum difabel.

Kekeliruan ini tentunya harus dihindari sejak dini. Maka itu mulai sekarang kita harus mendidik anak-anak bagaimana bersikap kepada penyandang disabilitas. Sehingga tidak mendiskreditkan kemampuan mereka dan menganggapnya terlalu lemah

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/shutterstock 316713161 1506401397 1.jpg Ajari anak untuk tidak lakukan hal ini pada difabel

Apa yang tidak boleh kita lakukan pada para penyandang disabilitas?

Dilansir dari The Guardian, terdapat tujuh hal yang sebaiknya tidak dilakukan atau dikatakan kepada para penyandang disabilitas saat bertemu dan menjalin interaksi.

1. Menyebutnya pemberani

Ucapan ini umumnya diungkapkan ketika seorang disabilitas bepergian atau melakukan suatu hal seorang diri tanpa didampingi orang lain. Jangan sekali-kali Anda berkata, “kamu berani sekali ya”. Mengapa? Sebab, ungkapan itu sama halnya dengan Anda mendiskreditkan kemampuan si penyandang disabilitas dan menganggapnya terlalu lemah untuk melakukan segala sesuatu tanpa pendampingan orang lain.

2. Gaya bicara “baby talk”

Gaya bicara baby talk ini adalah berbicara secara pelan dan perlahan, terkadang juga ditambah dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuh ekstra, dengan maksud agar kalimat yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami oleh lawan bicaranya.

Namun, hal ini tidak selayaknya dilakukan kepada mereka yang menyandang tunarungu dan menggunakan alat bantu pendengaran. Tanpa gaya bicara yang demikian pun, mereka sudah bisa memahami apa yang Anda katakan.

Kalau pun kalimat yang Anda sampaikan kurang jelas, mereka dapat meminta Anda untuk berbicara lebih jelas, agar dapat diterima dengan lebih baik. 

3. Bertanya kekurangannya

Pertanyaan tentang kekurangan yang ada pada diri seorang penyandang disabilitas merupakan pertanyaan membosankan dan tidak penting bagi mereka. Mereka akan sangat merasa berterima kasih ketika orang-orang di sekelilingnya menanyakan kebutuhan yang ia perlukan, dibandingkan dengan menanyakan pertanyaan mengenai kekurangannya. 

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/720437 720.jpg Ajari anak untuk tidak lakukan hal ini pada difabel

4. Menganggap sama semua penyandang disabilitas 

Menyamakan pandangan terhadap semua penyandang disabilitas adalah sesuatu yang keliru. Hal itu dikarenakan masing-masing dari mereka memiliki kondisi yang berbeda-beda meskipun sama-sama terlihat tidak memiliki kaki atau tidak bisa melihat, dan sebagainya.

Jadi, ajari pemahaman anak mengenai penyandang disabilitas, bahwa orang buta tidak selamanya tentang kaca mata hitam yang membawa tongkat kemana-mana.

5. Membantu tanpa diminta

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/69367 liburan kaum difabelshutterstock.jpg Ajari anak untuk tidak lakukan hal ini pada difabel

Jangan pernah memberi bantuan kepada penyandang disabilitas tanpa mereka minta terlebih dahulu. Niat baik yang Anda miliki bisa menjadi keliru, karena tanpa disadari telah menyinggung perasaan orang lain.

Tanpa bantuan Anda, penyandang disabilitas sudah mempunyai pengalaman tersendiri dengan keadaan tubuhnya, dan mereka sudah terbiasa melakukan banyak hal dengan kondisi yang tidak sempurna.

6. Memberi saran salah

Memberi saran yang salah juga sejenis dengan memberikan bantuan tanpa diminta. Karena bantuan atau saran yang ditawarkan seseorang bisa jadi salah, karena mereka tidak tahu persis bagaimana kondisi si difabel.

Orang yang secara fisik terlihat tidak sempurna, bukan berati cacat dalam hal komunikasi dan sebagainya. Mereka normal layaknya manusia sempurna lainnya, hanya saja mereka hidup dengan cara berbeda bersama keterbatasan yang ada pada dirinya.

7. Mendefinisikan berdasarkan ketidaksempurnaan

Apa yang terlihat secara fisik tidak bisa menggambarkan keadaan batin dan jiwa seseorang. Ketidaklengkapan fungsi tubuh atau mental yang seseorang miliki, tidak dapat digunakan untuk menilai kepribadian seseorang.

Cacat fisik yang ada, bisa saja berbanding terbalik dengan semangat, motivasi, dan inspirasi yang ada di dalam batinnya.

Ajari pemahaman pada anak bahwa mereka memang tidak dapat melakukan semua hal dengan sempurna, layaknya orang normal. Akan tetapi banyak jalan yang bisa mereka lalui untuk membuat hidup jauh lebih berarti dan tidak menyedihkan seperti apa yang orang lain lihat dari diri mereka.

Sumber Kompas.com

Baca juga:

Stop Body Shaming terhadap anak, pesan seorang ibu untuk orangtua lainnya

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.