Stop Body Shaming terhadap anak, pesan seorang ibu untuk orangtua lainnya

lead image

Ibu ini menyampaikan pesan penting untuk para orangtua agar stop body shaming, terutama yang dilakukan anak-anak. Ini dampak body shaming terhadap anak.

Body shaming berupa kata-kata ejekan terhadap kondisi bentuk tubuh yang terjadi lewat percakapan bisa membuat seorang anak menjadi tidak percaya diri. Setidaknya hal itu dialami oleh seorang gadis kecil bernama Ayesha (10 tahun) yang terjadi di sekolahnya di Grundschule di Frankfurt, Jerman. Simak ajakan ibunya untuk stop body shaming.

Stop Body Shaming terhadap anak – Jadikan pengalaman Ayesha ini pelajaran

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/BULLYING.jpg Stop Body Shaming terhadap anak, pesan seorang ibu untuk orangtua lainnya

Tak cuma sekali saja Ayesha menjadi korban bullying, bahkan beberapa kali pindah sekolah pun ia juga mendapatkan perlakuan yang sama.

Perawakan Ayesha memang lebih kecil dari teman-teman sebayanya. Di Indonesia pun dia sudah paling kecil di kelas. Bisa dibayangkan perbedaan fisiknya dengan anak-anak di Jerman.

Ade Kumalasari sang ibu bercerita, suatu hari ia pulang sekolah sambil mewek. Ia cerita kalau ada temannya yang mengejek-ejeknya karena dia kecil. Sang ibu tentu saja ikutan kesal, sebab itu pertama kalinya terjadi di sekolahnya yang baru.

Tambah lagi ketika Ayesha sebut nama si tukang bully, sang ibu sampai kelepasan bilang, “Udah dikasih nama dengan arti bagus gitu kok kelakuannya jahat,” tegasnya.

Kedengarannya wajar kan? Tapi sedetik kemudian ia ingat catatan di buku ‘The Danish Way of Parenting’ yang sudah ia terjemahkan. Celetukannya seolah menghakimi si pelaku bully. Ini tidak menyelesaikan masalah dan malah kesannya tidak apa-apa mengejek balik tukang rundung.

Padahal ia bermaksud agar Ayesha feels good about herself, bahwa dia sudah selalu berbuat baik, sesuai nama yang dia sandang.

Hari-hari berikutnya sang ibu selalu menanyakan perkembangan ‘kasus’ ini. Tapi Ayesha selalu bilang, ‘Nothing to worry about.’

Lalu suatu hari Ayesha pulang dengan membawa bendera Indonesia yang dibuat dari beads. Ternyata M (sebut saja begitu ya) yang membuatkan bendera ini untuk Ayesha. ‘We are good friends now,’ katanya.

“Saya menarik napas lega. Ah anak-anak memang begitu, kemarin bertengkar, hari berikutnya sudah baikan,” ujar Ade.

Tapi kedamaian ini ternyata tidak berlangsung lama. Dua hari yang lalu Ayesha mewek dalam perjalanan ke sekolah. Kali ini yang dicurhatin Ayahnya. Katanya si M kumat lagi merundung, sampai Ayesha males masuk sekolah.

Nino Aditomo, sang ayah ternyata bisa lebih bersikap rasional. Setelah mendengarkan cerita Ayesha, dia menjelaskan bahwa apa yang dialami Ayesha adalah body shaming.

Ini tidak hanya dialami oleh orang yang badannya kecil, tapi juga orang dengan bentuk badan yang lain. Ayesha kaget, Kok yang tubuhnya udah tinggi kena body shaming juga?’

Nino menerangkan, semua yang dianggap ‘tidak normal’ bisa kena body shaming. Bisa karena terlalu pendek, terlalu tinggi, terlalu kriwil, hidung pesek, gigi tonggos, punya freckles, dll.

Sesampai di rumah Ade bercerita kalau dirinya dulu dirundung karena terlalu pendek dan terlalu putih. Ayesha tambah melongo, ‘How come?’ Nino menambahkan bahwa si perundung hanya ingin orang tersebut merasa malu pada tubuhnya.

‘But why?’ tanya Ayesha. ‘How could people do such horrible thing?’ tambahnya. Kemudian Ayesha menebak sendiri, mungkin di rumah anak ini selalu diejek ya, jadinya di sekolah ngejek teman lain biar merasa lebih baik. Mungkin di rumah dimarah-marahi terus…

Ayesha merasa mendingan setelah tahu bahwa ia tidak sendiri menjadi korban perundungan. Nino melanjutkan, ‘Should you feel ashamed that you are not as tall as your friends?’

Ayesha sudah paham bahwa perawakan tubuhnya yang kecil bukan sesuatu yang membuatnya malu. ‘I know I should not be ashamed. But it hurts, Daddy, when he called me that.’ Nino berempati, ‘I understand what you feel.’

“Kami menekankan bahwa tidak ada yang salah dengan bentuk tubuh kita. Kalau pun ukurannya dianggap tidak normal, bukan sesuatu yang seharusnya membuat kita malu.” 

Hal tersebut ia tekankan pada Ayesha karena tahu bahwa perundungan ini mungkin akan terjadi lagi di masa depan. Yang penting Ayesha mengerti bahwa yang dilakukan pembully itu salah, dan seharusnya mereka yang merasa malu.

Nino juga pernah tanya, kenapa kira-kira teman sekelasnya itu body shaming ke dia. ‘Maybe he’s jealous because you are smart in class?’ Ayesha mengiyakan, ‘It could be.’

“Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Dan Nggak usah malu mengakui kekurangan, dan bersyukur lah pada kelebihan yang kita punyai.”

4 Langkah cara stop body shaming

Apabila anak Anda mengalami perundungan seperti Ayesha, cara menyelesaikannya memang tidak bisa langsung dalam satu waktu. Berikut langkah-langkah yang harus di lakukan :

1. Dengarkan Cerita Anak

Sampaikan kalau Anda senang bahwa si anak mau bercerita pada Anda. Dengarkan sampai selesai, jangan ikut emosi duluan.

2. Berikan Empati dan Jangan Remehkan

Kalau anak menangis, biarkan dia mengeluarkan emosinya. Jangan meremehkan, ‘Duh, cuma gitu aja nangis.’ Sekali anda meremehkan apa yang dirasakan anak, dia nggak akan cerita/percaya lagi sama ortunya.

3. Bantu Anak Menghadapi Situasi Tersebut

Bantu anak untuk menguraikan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana menghadapinya. Beri dia sikap positif terhadap dirinya.

4. Pantau Perkembangannya

Kalau terjadi perundungan fisik atau perundungan verbal yang parah, dorong anak untuk membicarakan dengan gurunya. Pastikan kondisi anak bisa kembali percaya diri.

Parents ada cara lain untuk stop body shaming pada anak? Berbagi di kolom komentar yuk.

 

Sumber : Facebook

Baca juga: 

9 Strategi Mengajari Anak Membela Diri saat Menghadapi Bullying (Perundungan)

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.