TAP top app download banner
theAsianparent Indonesia Logo
theAsianparent Indonesia Logo
kemendikbud logo
Panduan Produk
Keranjang
Masuk
  • Kehamilan
    • Kalkulator perkiraan kelahiran
    • Tips Kehamilan
    • Trimester Pertama
    • Trimester Kedua
    • Trimester Ketiga
    • Melahirkan
    • Menyusui
    • Kehilangan bayi
    • Project Sidekicks
  • Anak
    • Bayi Baru Lahir
    • Bayi
    • Balita
    • Prasekolah
    • Anak
    • Praremaja & Remaja
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
    • Pengasuhan Anak
    • Edukasi Prasekolah
    • Edukasi Sekolah Dasar
    • Edukasi Remaja
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
    • Keluarga
    • Doa Islami
    • Pernikahan
    • Seks
    • Berita Terkini
  • Kesehatan
    • COVID-19
    • Info Sehat
    • Penyakit
    • Vaksinasi
    • Kebugaran
  • Gaya Hidup
    • Korea Update
    • Hiburan
    • Travel
    • Fashion
    • Kebudayaan
    • Kecantikan
    • Keuangan
  • Nutrisi
    • Resep
    • Makanan & Minuman
    • Sarapan Bergizi
  • Ayah manTAP!
    • Kesehatan Ayah
    • Kehidupan Ayah
    • Aktivitas Ayah
    • Hobi
  • VIP
  • Event

Waspada Hipokalemia, Saat Kondisi Kadar Kalium Rendah, Ini Gejalanya

Bacaan 4 menit
Waspada Hipokalemia, Saat Kondisi Kadar Kalium Rendah, Ini Gejalanya

Hipokalemia merupakan istilah medis untuk kadar kalium rendah di dalam darah yang bisa sebabkan kelemahan otot dan masalah lainnya. Seperti apa gejalanya?

Hipokalemia merupakan istilah medis untuk kadar kalium yang rendah di dalam darah. Kondisi ini dapat menyebabkan kelemahan otot dan masalah lainnya.

Kalium merupakan salah satu jenis elektrolit yang membantu membawa sinyal elektrik antarsel. Ini penting sebab sel-sel tubuh bergantung pada sinyal ini untuk bisa bekerja sesuai fungsinya. Mineral ini juga membantu mengatur kontraksi otot, menjaga fungsi saraf, dan mengatur keseimbangan cairan tubuh. 

Di dalam darah, kadar normal kalium sekitar 3,6 hingga 5,2 mmol/L. Bila kadarnya berada di antara 2,5-3,5 mmol/L, maka disebut hipokalemia ringan-sedang. Sedangkan bila berada di bawah 2,5 mmol/L, maka disebut hipokalemia berat. 

Gejala Hipokalemia

hipokalemia

Penurunan kadar kalium darah, meski sedikit saja, sudah dapat menimbulkan gejala-gejala berikut:

  • Sembelit atau konstipasi.
  • Jantung berdebar.
  • Kelelahan.
  • Kelemahan atau kejang otot.
  • Kesemutan atau mati rasa.
  • Kerusakan otot.

Bila kadarnya banyak berkurang, maka ada beberapa risiki yang bisa dirasakan. Mulai dari mengalami gangguan irama jantung (aritmia), di mana detak jantung menjadi tidak teratur. Imbasnya, Anda bisa merasa pusing hingga mengalami penurunan kesadaran. Bahkan, bila kadarnya sangat rendah, dapat menyebabkan henti jantung.

Hipokalemia juga dapat menyebabkan komplikasi lain seperti kadar gula darah tinggi, penurunan fungsi otak, penyakit ginjal, kelumpuhan otot, gangguan otak, dan sesak napas.

Penyebab Hipokalemia

hipokalemia

Konsumsi obat diuretik (yang memicu buang air kecil) atau kehilangan cairan akibat muntah dan/atau diare sering menyebabkan hipokalemia. Beberapa kondisi berikut juga meningkatkan risiko terjadinya hipokalemia:

  • Konsumsi alkohol yang berlebihan.
  • Mengalami gangguan makan seperti bulimia.
  • Hiperaldosteronisme, yakni kelainan hormonal yang menyebabkan hipertensi.
  • Menderita penyakit ginjal kronis atau kelainan genetik seperti sindrom Bartter.
  • Kadar magnesium darah rendah.
  • Tubuh sering berkeringat.
  • Kekurangan asam folat.
  • Efek samping konsumsi antibiotik.

Hipokalemia dapat ditemukan melalui pemeriksaan darah dan urin. Pemeriksaan rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG) juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi kondisi jantung.

Cara Mengobati Hipokalemia

hipokalemia

Pengobatan hipokalemia disesuaikan dengan gejala yang muncul dan derajat keparahannya. Pada hipokalemia ringan-sedang, dokter akan merekomendasikan untuk:

  • Menghentikan atau mengurangi dosis obat yang menyebabkan kadar kalium rendah.
  • Mengonsumsi suplemen kalium setiap hari.
  • Mengonsumsi obat yang dapat meningkatkan kadar kalium.

Setiap obat yang dikonsumsi harus sesuai anjuran dokter, termasuk suplemen kalium. Ini karena kelebihan dosis suplemen kalium dapat menyebabkan hiperkalemia, yang juga berbahaya bagi tubuh. Hindari pula menghentikan konsumsi obat tanpa konsultasi dengan dokter sebelumnya. 

Kalium juga bisa didapat dari konsumsi makanan sehari-hari. Secara alami, Anda dapat memperolehnya dari konsumsi susu dan produk olahannya, berbagai macam buah dan sayur, daging, ikan, dan kacang-kacangan.

Bagaimana Mencegah Hipokalemia?

Waspada Hipokalemia, Saat Kondisi Kadar Kalium Rendah, Ini Gejalanya

Hipokalemia dapat dicegah dengan menghindari obat diuretik dan laksatif secara berlebihan. Sebaiknya gunakan obat-obatan sesuai dosis yang dianjurkan oleh dokter. Di samping itu, Anda juga bisa mengonsumsi beberapa jenis makanan berikut untuk mengatasi dan mencegah hipokalemia:

Makanan yang Bisa Dikonsumsi

1. Buah-buahan

Di antara semua jenis buah-buahan, pisang merupakan buah yang paling kaya kalium. Buah lain yang juga dapat menjadi sumber kalium, yakni jeruk, melon, jeruk bali, aprikot, kiwi, apel, anggur, nanas, stroberi, kismis, dan kurma.

2. Sayuran

Sayuran berdaun hijau memiliki kandungan kalium yang tinggi. Tomat, brokoli, jamur, timun, labu, dan sayuran lain juga bisa dikonsumsi untuk mendapatkan kalium. Pilihan lainnya adalah kentang yang diyakini sebagai sumber kalium terbaik, terutama jika diolah dengan cara dipanggang tanpa tambahan garam. Kalium paling banyak ditemukan pada kulit kentang.

3. Kacang-kacangan dan polong-polongan

Ada banyak jenis kacang-kacangan yang bisa Anda konsumsi untuk meningkatkan kadar kalium. Beberapa di antaranya adalah kacang merah, kacang kedelai, dan lentil.

4. Susu dan produk olahannya

Selain mengandung kalsium yang baik untuk menjaga kesehatan tulang, susu dan produk olahannya seperti yogurt dan keju juga mengandung kalium.

5. Makanan laut (seafood)

Ini termasuk ikan salmon, tenggiri, tuna, trout dan kerang laut. American Heart Association merekomendasikan makan ikan setidaknya dua kali seminggu. Selain mengandung lemak omega-3 yang dapat menyehatkan jantung, ikan juga menjadi sumber kalium yang baik.

Cerita mitra kami
Pekan Cegah Alergi Anak, Cara Cerdas Orangtua Mencegah Alergi Pada Anak
Pekan Cegah Alergi Anak, Cara Cerdas Orangtua Mencegah Alergi Pada Anak
Bagaimana Cara Mendidik Anak Hebat? Ini 3 Hal yang Perlu Diperhatikan Menurut Psikolog dan Mam Hebat
Bagaimana Cara Mendidik Anak Hebat? Ini 3 Hal yang Perlu Diperhatikan Menurut Psikolog dan Mam Hebat
Latihan Meraih dan Menggenggam untuk Tingkatkan Koordinasi Tangan dan Mata
Latihan Meraih dan Menggenggam untuk Tingkatkan Koordinasi Tangan dan Mata
Promo Diskon Hingga 99%, Tokopedia Adakan Bagi Bagi Semangat Ramadan
Promo Diskon Hingga 99%, Tokopedia Adakan Bagi Bagi Semangat Ramadan

6. Protein Hewani

Daging ayam, sapi, dan unggas merupakan salah satu usupan yang penting dan dibutuhkan tubuh untuk membantu meningkatkan kadar kalium rendah di dalam darah.

7. Lainnya

Kandungan kalium juga bisa ditemukan pada roti gandum, pasta, sereal, nasi merah, jus buah/sayuran.

Semoga informasi terkait hipokalemia ini bisa bermanfaat.

 

Baca Juga:

10 Hal yang Paling Sering Sebabkan Sakit Kepala Sebelah Kanan, Cek Parents!

Sebabkan Kerusakan Sel Saraf Otak, Apa Saja Gejala Penyakit Huntington?

5 Tanda Limpoma si Benjolan Tumor Jinak

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

dr. Fiona Amelia, MPH

  • Halaman Depan
  • /
  • TAPpedia
  • /
  • Waspada Hipokalemia, Saat Kondisi Kadar Kalium Rendah, Ini Gejalanya
Bagikan:
  • 5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

    5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

  • Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

    Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

  • Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

    Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

Author Image

dr. Fiona Amelia, MPH

Medical Writer dengan pengalaman di dunia kesehatan digital selama 5 tahun terakhir. Dokter sekaligus ibu dari 2 putra ini memiliki passion yang kuat di dalam dunia parenting serta edukasi seputar kesehatan ibu dan anak. Menyukai travelling dan olahraga, khususnya bulutangkis dan bersepeda. Untuk kontak, email di [email protected] atau DM Instagram @amelifio.
  • 5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

    5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

  • Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

    Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

  • Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

    Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

Daftarkan email Anda sekarang untuk tahu apa kata para ahli di artikel kami!
  • Kehamilan
  • Tumbuh Kembang
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Home
  • TAP Komuniti
  • Beriklan Dengan Kami
  • Hubungi Kami
  • Jadilah Kontributor Kami
  • Tag Kesehatan


  • Singapore flag Singapore
  • Thailand flag Thailand
  • Indonesia flag Indonesia
  • Philippines flag Philippines
  • Malaysia flag Malaysia
  • Vietnam flag Vietnam
© Copyright theAsianparent 2026. All rights reserved
Tentang Kami|Tim Kami|Kebijakan Privasi|Syarat dan Ketentuan |Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti