Kulit bayi kuning dan berat badannya turun? Waspadai Atresia Bilier!

lead image

Kebanyakan bayi baru lahir dengan atresia bilier tampak sehat. Mereka mulai menunjukkan gejala setelah 2-3 minggu.

Kulit bayi Parents terlihat agak kekuningan dan tubuhnya terlihat makin kurus?  Anda sempet menerka-nerka, mungkinkah bayi Anda menderita penyakit atresia bilier?
 
Tapi mertua dan ibu Anda bilang itu normal. “Dia hanya butuh sedikit sinar matahari,” kata mereka mengomentari bayi Anda.  Namun, naluri keibuanmu bilang ada yang tidak beres dengan si bayi dan langsung membawanya ke dokter anak. 

Hasilnya sungguh mengejutkan: dokter bilang anak menderita penyakit atresia bilier.

Penyakit atresia bilier adalah kondisi medis neonatal yang langka, yang dapat berakibat fatal jika dibiarkan tanpa terdeteksi dan tidak diobati. Penyakit yang menyerang hati dan empedu ini dilaporkan mempengaruhi satu dari 10.000 bayi di seluruh dunia, dan lebih sering terjadi pada perempuan.

Gejala penyakit  atresia bilier pada bayi memang baru terlihat setelah dua atau empat minggu setelah lahir. Tetapi setelah didiagnosis, penyakit atresia bilier pada anak-anak membutuhkan perhatian sesegera mungkin dan perawatan medis.

Penyakit atresia bilier pada anak

Seperti yang Parents ketahui, sel-sel hati kita menghasilkan cairan empedu. Cairan ini mencerna lemak dan membawa semua limbah dari hati ke usus. Tubuh kemudian membuang kotoran itu.

Seluruh jaringan saluran ini membentuk sistem empedu. Ketika sistem ini berfungsi dengan baik, ia mengalirkan empedu dari hati ke usus dengan mudah.

Namun, pada kasus atresia bilier, empedu terperangkap di dalam hati. Tidak dapat mengalir ke kandung empedu dan akhirnya ke usus. Sehingga merusak dan meninggalkan sel-sel hati dan akhirnya dapat menyebabkan gagal hati.

Penyebab dan risiko penyakit atresia bilier pada anak-anak

Meskipun para peneliti masih mencoba untuk memahami penyebab pasti penyakit atresia bilier pada anak-anak, beberapa alasan telah dikaitkan dengan kondisi langka ini.

Beberapa percaya bahwa penyakit ini disebabkan kesalahan mekanisme autoimun, meski demikian, penyakit ini muncul dengan berbagai sebab.

Pada beberapa bayi, atresia bilier terjadi karena saluran empedu tidak berkembang selama kehamilan. Ini juga disebut embryonic (fetal) biliary atresia atau atresia biliaris embrio (janin). Pada kasus lain, infeksi pasca kelahiran oleh virus juga dapat merusak saluran empedu. Ini disebut atresia biliaris perinatal.

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa itu dapat terjadi pada 1 dari 10,00 bayi atau 1 dari 18.000 kelahiran hidup. Ini juga lebih umum di Asia dan Afrika-Amerika, dibandingkan dengan bayi Kaukasia.

Biasanya, penyakit atresia bilier pada anak-anak tidak selalu mempengaruhi bagian tubuh lain.

Namun Parents harus selalu waspada, karena dalam kasus yang lain, penyakit atresia bilier dapat meningkatkan risiko sebagai berikut:

  • Kelainan di hati
  • Masalah pada pembuluh darah vena cava inferior dan vena portal preduodenal
  • Potensi limpa pecah
  • Malrotasi usus, di mana midgut berputar secara abnormal mendorong usus kecil ke arah ujung kanan

Selama kelahiran, kebanyakan bayi dengan Kulit bayi kuning dan berat badannya turun tampak normal dan sehat. Mereka mulai menunjukkan gejala setelah dua atau tiga minggu. Berikut 4 gejala penyakit atresia bilier pada anak-anak:

1. Penyakit kuning

Ketika sel darah merah di dalam tubuh kita menghancurkan secara alami, mereka meninggalkan produk samping yang disebut bilirubin.

Jika tubuh memproduksi terlalu banyak bilirubin, maka dapat menyebabkan perubahan warna kuning pada kulit dan area putih pada mata dan selaput lendir. Kondisi inilah yang sering Parents sebut sebagai penyakit kuning.

Jaundice atau penyakit kuning ini adalah gejala paling umum dari penyakit atresia bilier. Jika hilang dalam satu atau dua minggu sejak lahir, Parents tidak perlu khawatir, karena itu berarti anak Anda tidak menderita atresia bilier.

Namun jika terus muncul setelah dua atau empat minggu kelahiran, Parents harus membawa si kecil menjalani pemeriksaan sesegera mungkin.

2. Urin berwarna kuning gelap

Ketika tubuh buah hati menghasilkan sejumlah besar bilirubin, itu menyebabkan urin berwarna gelap.

Bisa berwarna kuning gelap yang berbatasan dengan oranye, atau bahkan mungkin tampak cokelat dalam beberapa kasus. Jika Anak memerhatikan urine bayi berwarna gelap, itu bisa jadi gejala penyakit atresia bilier.

3. Tinja akuatik

Gejala lainnya adalah feses bayi terlihat seperti tanah liat dan lunak tetapi tidak berair. Hal ini dikarenakan ada penumpukan tambahan bilirubin dan empedu yang tidak dibuang, yang kemudian menyebabkan perubahan warna feses bayi. Pembesaran hati bayi juga kadang mengakibatkan perut bayi keras.

4. Penurunan berat badan secara tiba-tiba

Dikarenakan organ hati anak bermasalah sehingga mengakibatkan kotoran tertimbun di perutnya. Akibatnya, anak mungkin tidak merasakan dorongan untuk makan. Ini yang akhirnya akan mengakibatkan dia kehilangan banyak berat badan.
 
 

Jika Parents melihat gejala-gejala ini, segera bawa anak ke dokter. Hanya dengan pemeriksaan yang tepat dan menyeluruh, bayi dapat didiagnosis tingkat atresia biliernya dan dokter dapat meresepkan obat yang sesuai.

Diagnosis penyakit atresia bilier pada anak-anak

Jika bayi menderita penyakit atresia bilier, hal pertama yang akan didiagnosis adalah penyakit kuning. Untuk mendiagnosis penyakit kuning dengan benar, ia harus menjalani beberapa tes, termasuk pemeriksaan darah.

Berikut adalah list tes kesehatan selengkapnya:

1. Tes darah

Tes darah dapat membantu mengidentifikasi masalah mendasar apa pun dengan hati. Tes ini juga dapat mengungkap penyebab penyakit kuning dan masalah organ lainnya yang mungkin dihadapi anak karena penyakit atresia biliaris.

2. Tes X-ray dan ultrasound

X-ray dapat menunjukkan pembesaran hati atau limpa. Oleh karena itu, kebanyakan dokter akan memilih untuk melakukan tes ini pada bayi. Selain itu, pemeriksaan USG juga akan memeriksa kelayakan dan fungsi kantung empedu.

3. Biopsi hati

Biopsi hati adalah metode yang dapat diandalkan untuk memeriksa atresia biliaris pada anak-anak. Ini juga dapat membantu dokter untuk memutuskan apakah akan merekomendasikan operasi dan meresepkan obat lebih lanjut berdasarkan pada kondisi hati anak.

4. Operasi diagnostik

Bayi yang menderita penyakit atresia bilier mungkin juga memerlukan pembedahan diagnostik. Dalam prosedur ini, para dokter dapat memeriksa bagian yang terluka dari saluran empedu dan hati, serta usus. Berdasarkan analisis ini, mereka dapat memulai perawatan yang dibutuhkan.

5. Kolangiogram operatif

Ini adalah operasi diagnostik lain yang dapat mengkonfirmasi penyakit atresia bilier pada anak-anak. Dalam operasi diagnostik ini, dokter menyuntikkan pewarna melalui kantong empedu. Pewarna ini bergerak ke saluran empedu.

Setelah operasi, dilakukan pemeriksaan x-ray. Jika pewarna mengalir normal, bayi normal. Tetapi jika pewarna tidak dapat mengalir dengan baik, itu berarti anak menderita penyakit atresia bilier.

Setelah diagnosis yang tepat selesai, dokter dapat mendiskusikan rencana perawatan dengan Anda. Anda harus tahu bahwa atresia bilier tidak dapat disembuhkan 100 persen.

Tetapi dengan operasi, anak itu memiliki kesempatan untuk bertahan hidup untuk waktu yang lama. Namun begitu, dia tetap membutuhkan perawatan ekstra.

Perawatan untuk atresia bilier pada anak-anak

Pengobatan penyakit atresi bilier dapat dilakukan dengan operasi, yaitu prosedur Kasai atau hepatoportoenterostomy. Operasi ini diberi nama ‘kasai’ setelah ahli bedah Jepang Dr Morio Kasai pertama kali melakukannya.

Bagaimana prosedur Kasai?

Dalam prosedur ini, ahli bedah mencoba untuk membangun kembali aliran empedu antara saluran dan usus. Selama operasi, dokter akan mengidentifikasi dan mengangkat saluran empedu yang rusak, termasuk yang berada di luar hati (saluran ekstrahepatik).

Bersamaan dengan itu, mereka juga membidik saluran kecil yang berfungsi dengan baik dan mampu mengalirkan empedu ke dalam usus. Setelah diidentifikasi, mereka mengeluarkan saluran yang rusak.  Setelah ini, empedu mengalir langsung dari hati ke usus tanpa halangan.

Setelah prosedur ini, bayi dijaga konstan selama sekitar 10 hari dan diberikan antibiotik untuk menjaga infeksi.

Idealnya, keberhasilan prosedur ini tergantung pada hal-hal berikut:

1. Usia bayi. Semakin muda bayinya, semakin banyak peluang keberhasilan operasi. Jika anak berusia empat bulan atau lebih, kemungkinan keberhasilan menurun. Pada saat ini hati seharusnya berkembang dengan cepat, tetapi fungsinya sudah mulai menurun.

2. Tingkat kerusakan hati. Tingkat kerusakan pada hati juga menentukan keberhasilan operasi. Jika hati tidak berfungsi, sulit untuk membantu bayi.

3. Jumlah saluran kecil yang masih bisa melewati empedu ke usus juga menentukan keberhasilan. Lebih sedikit saluran kecil menunjukkan penurunan tingkat keberhasilan.

Setelah operasi dilakukan dan itu sukses, anak telah memiliki kehidupan baru. Tetapi itu juga berarti Parents harus memberinya perhatian ekstra.

Berikut perawatan untuk bayi yang menderita atresia bilier:

Biasanya, anak-anak yang menderita kondisi medis langka ini memiliki metabolisme yang cepat. Bahkan lebih dari anak yang sehat. Karena itu, mereka membutuhkan lebih banyak kalori untuk tubuhnya.

Seorang anak dengan kondisi ini dan penyakit kuning tidak dapat mencerna lemak. Itu karena empedu tidak mencapai usus. Dan karena kerusakan pada hati, vitamin dan protein adalah kebutuhan yang penting.

Nutrisi khusus pasca operasi untuk anak atresia bilier

1. Parents harus memberi tiga kali makan ditambah makanan ringan sepanjang hari. Makanan mereka juga harus rendah lemak dan tinggi protein, mineral dan serat.

2. Anak perlu mendapatkan suplemen vitamin tambahan, yang direkomendasikan dokter.

3. Parents  juga perlu menambahkan minyak medium-chain triglyceride (MCT) untuk menambah kalori ekstra ke dalam makanan anak. Anda bahkan mungkin harus melengkapi ASI dengan minyak ini, setelah mendapat rekomendasi dokter.

4. Untuk bayi kurang dari empat bulan, makanan diberikan melalui tabung nasogastrik. Ini ditempatkan di hidung dan membawa makanan ke perut.

Ada juga kemungkinan operasi ini tidak akan berhasil. Jika tidak, bayi bisa terkena infeksi di saluran empedunya. Dia mungkin mengalami gatal atau kambuhnya penyakit kuning.

Dan dalam kasus yang jarang terjadi, memar pada kulit dan bahkan mimisan dapat terjadi. Itu juga dapat menyebabkan retensi cairan tubuh.

Efek jangka panjang atresia bilier pada anak-anak

Sangat penting untuk disebutkan di sini bahwa keberhasilan operasi tergantung pada kondisi hati dan perkembangan tekanan darah tinggi.

Sebagian besar anak-anak yang menjalani prosedur Kasai mungkin memerlukan transplantasi hati, terutama jika mereka berusia di bawah lima tahun. Anak-anak yang lebih tua bisa menjalani hidup tanpa hati atau kambuh.

Beberapa anak mungkin juga menderita hipertensi, tekanan darah tinggi, perdarahan gastrointestinal dan bahkan pembesaran limpa.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa 85 persen anak-anak yang menderita atresia bilier membutuhkan transplantasi hati sebelum mereka berusia 20 tahun. Sekitar 15 persen dapat menjalani hidup mereka tanpa transplantasi.

Transplantasi hati sering menjadi pilihan terakhir. Dokter akan terlebih dahulu mencoba prosedur Kasai dan kemudian merekomendasikan transplantasi. Yang penting untuk dicatat di sini bahwa seperti halnya setiap penyakit, atresia bilier pada anak-anak juga dapat diobati.

 

Yang perlu digarisbawahi adalah, Parents harus selalu bersabar dan sayang dalam merawat anak sama seperti yang akan dilakukan jika ia tidak memiliki kondisi ini.

 

Disadur dari artikel Deepshikha Punj di theAsianparent Singapura

Baca juga:

Meninggal di Kereta; Kisah Mengharukan Bayi Pejuang Atresia Bilier