Pesan Seorang Ibu Tentang Pentingnya Membiarkan Anak Laki-laki Menangis

Pesan Seorang Ibu Tentang Pentingnya Membiarkan Anak Laki-laki Menangis

Seorang ibu diejek karena memeluk anak lelakinya yang menangis. Padahal, menangis bukanlah sebuah tanda kelemahan seperti yang dikira selama ini.

Benarkah anak lelaki tidak boleh menangis karena itu menunjukkan kelemahan? Apakah seorang ibu yang memeluk anak lelakinya yang sedang menangis karena terluka akan membuat si anak jadi lemah?

Setelah diejek oleh orang yang tidak dikenal, Jaime Primak Sullivan memberikan alasan mengapa ia harus memeluk anak lelakinya yang sedang menangis karena terluka. Karena melarang anak lelaki untuk menangis akan berbahaya untuk masa depannya kelak.

Sabtu lalu, putraku yang berusia 8 tahun Max sedang bermain pada pertandingan basket sekolah. Saat sedang berbagi umpan bola, tiba-tiba saja wajahnya terlempar bola dan terpukul keras.

Aku melihat kejadian tersebut bagaikan sebuah gerakan lambat yang ada di fim-film. Aku melihat matanya melebar dan kemudian menyipit karena rasa sakit. Dia melihat sekeliling berusaha memusatkan perhatian.

Aku tahu dia mencariku.

“Wajah Max terpukul,” kataku pada suami sambil secara alami aku melompat dari bangku penonton.

Pada saat itu, aku melihat Max mulai berlari mengitari lapangan ke arahku saat mulai menahan tangis. Dia tampak kesulitan bernafas.

Rasanya kakiku tidak bisa bergerak cukup cepat agar dapat segera sampai ke arahnya.

Saat akhirnya kami bertemu, aku berlutut di depannya..

“Atur nafasmu, nak…”

Dia memiringkan kepalanya ke belakang. “Max, bernafaslah. Tidak apa-apa.”

Dia akhirnya mulai bisa mengatur napas. Aku memeluknya saat dia mulai menangis di pundakku.

Sebuah suara terdengar dari belakangku, “Anda harus berhenti memanjakan anak seperti itu.”

Pikiranku menangkap sentimen itu, tapi aku tetap fokus pada Max. Aku membersihkan wajahnya dan menyeka air matanya.

Setelah aku memastikan bahwa dia baik-baik saja, aku mengantarnya kembali ke lapangan untuk bergabung dengan timnya di bangku cadangan.

Aku kembali ke bangku penonton.

Tanganku bergetar. Aku merasa sangat marah pada orang yang menyebutku memanjakan anak itu.

Aku sibuk memikirkannya sepanjang perjalanan pulang.

Suamiku berkata, “siapa yang peduli dengan apa yang mereka pikirkan?”

Pikiran bahwa anak laki-laki tidak akan pernah terluka dan tidak akan pernah merasakan luka akan membawa kerusakan pada mereka dalam jangka waktu yang panjang.

Keyakinan tersebut menganggap bahwa setiap tanda atau ungkapan kasih sayang akan membuat anak lelaki tidak dewasa.

Tekanan sosial untuk selalu menjadi seorang “lelaki” akan terus mengikuti mereka sampai dewasa. Di mana mereka berjuang untuk merasakan cinta dan kasih sayang yang sebenarnya.

Satu-satunya emosi yang mereka pelajari dengan sehat adalah rasa senang. Lalu mendadak seolah kita jadi bertanya-tanya mengapa mereka selalu mengejarnya seolah tidak pernah benar-benar mendapatkannya.

Mereka diajari oleh orang-orang bahwa kesedihan adalah sebuah kelemahan. Berbicara tentang ketakutan atau kekhawatiran membuat mereka “kurang jantan”.

Mereka tidak dapat menunjukkan kesedihan dengan baik, dan sulit untuk berduka tentang sesuatu. Mereka khawatir saat menangis.

Banyak suami dan ayah mereka mengajarkan itu dan aku membenci fakta tersebut.

Cinta adalah sebuah kata kerja. Itu adalah sesuatu yang Anda lakukan.

Hal ini tidak sama dengan memperlakukannya seperti anak kecil, memanjakan atau dimanjakan. Hal tersebut adalah sesuatu yang pantas untuk didapatkan oleh anakku.

Aku akan selalu mencintainya saat dia sedang sakit hati dan doa saya untuknya adalah bahwa dia akan selalu jadi pribadi yang terbuka untuk menerima cinta. Sehingga dia dapat mencintai dan dicintai, dan semoga saja ia dapat mempertahankan siklus itu.

Anak lelaki yang diizinkan mengekspresikan emosinya akan membuat mereka jadi lebih berperasaan. Karena sebenarnya para lelaki yang kurang peka terhadap perasaan orang lain disebabkan oleh adanya larangan bahwa mereka tak boleh menangis karena akan disebut kurang jantan oleh orang sekitarnya.

Apakah Parents juga melakukan apa yang dilakukan  Jaime yang memeluk anak lelakinya saat menangis? Bagaimana reaksi orang-orang di sekitar Anda?

 

Baca juga:

3 Cara Mendidik Anak Laki-laki Agar Ia Lebih Berperasaan

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Semua opini & pendapat dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi milik penulis, dan sama sekali tidak mewakilkan theAsianparent atau klien tertentu.
app info
get app banner