Pengakuan Rahasia Seorang Ibu: "Aku Membenci Anak Perempuanku"

lead image

Seorang ibu membuat pengakuan mengejutkan. Ia menulis surat di media dan mengakui bahwa dia membenci anak perempuan yang ia lahirkan sendiri. Ibu ini terus mencari tahu mengapa ia membenci anaknya sendiri.

Seorang ibu mestinya mencintai anaknya apa adanya. Namun, bagaimana jika seorang ibu merasa bahwa anak perempuannya aneh dan tidak normal sehingga ia harus mengakui bahwa ia membenci anak perempuan pertamanya.

Pernyataan mengejutkan ini datang dari seorang ibu yang tidak mau disebut namanya. Ia kecewa bahwa anaknya bukanlah seperti ekspektasinya.

Berikut tulisan yang sebelumnya dimuat di Marie Claire ini:

Seorang ibu tidak seharusnya mengakui hal ini, tapi aku harus mengakui ini: aku tidak pernah menyukai anakku. Saat sudah mulai dewasa, aku berharap suatu hari nanti bisa memiliki anak perempuan. Aku memiliki visi yang jelas tentang seperti apa dia nantinya.

Anakku nanti harus lincah, tangguh dan cerdas. Ia juga cerdas secara sosial dan percaya diri. Tapi yang aku dapatkan justru kebalikannya.

Saat lahir, Sophie kurus dan lemah. Dia seperti kurang terawat dan dia menangis sangat keras sehingga dia muntah setiap hari.

Sebagai balita, dia juga aneh. Dia tidak pernah melakukan kontak mata dan dia menangis dengan keras saat mendengar kertas robek. Alih-alih mencoret-coret krayon, dia hanya akan menaruhnya di tepi kertas. Dia akan naik ke rak atas dan kemudian menangis minta diturunkan.

Pengakuan Rahasia Seorang Ibu:

Dia tidak bisa atau malah tidak menjawab pertanyaan langsung. Dia tidak bisa berteman. Hidup tampak terasa berat baginya. Ini menyakiti hatiku setiap harinya.

Seperti yang mungkin bisa Anda bayangkan, aku merasa bersalah karena sepertinya aku ditolak oleh anakku sendiri. Siapa sih yang tak merasa bersalah jika ada di situasi semacam itu?

Tapi jujur saja, rasa bersalah itu dibayangi oleh kekecewaan yang klasik. Ini bukanlah ikatan luar biasa ibu-anak yang biasa aku baca di setiap buku, di setiap film yang aku lihat dan setiap keluarga yang pernah aku temui telah membuatku jadi lebih berharap.

Ketika Sophie berusia 18 bulan, kami mengunjungi saudara perempuanku yang seorang psikolog. Ia tiba-tiba berkata, “Tahu nggak, Sophie adalah anak yang aneh.” Aku bertanya apa maksudnya. “Dia hanya agak… error,” katanya.

Komentarnya memang mengecewakan, tapi apa yang dia katakan justru mengonfirmasi kecurigaanku bahwa Sophie mungkin memiliki spektrum autisme.

Aku berbicara dengan direktur daycare-nya yang memintanya diuji oleh salah satu departemen di sekolah. Mereka tidak menemukan ada sesuatu yang salah.

Akhirnya aku menemukan ahli saraf anak, tapi ketika mereka mengirim formulir untuk diisi, Sophie tidak memiliki gejala fisik di kotak di bawah “Reason for Visit”.

Aku membatalkan kunjungan ke dokter itu. Suamiku menuduh bahwa aku mencari diagnosis yang tidak ada. Tapi aku perlu tahu mengapa anak perempuanku tidak mencapai tumbuh kembang yang semestinya, apalagi memenuhi ekspektasiku soal anak.

Sebaliknya, suamiku selalu mencintai dan menghargai Sophie apa adanya. Seolah mudah sekali mencintainya! Alih-alih menggertakkan gigi saat melihat perilaku eksentriknya, suamiku senang bercanda dengannya, yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Lalu mereka akan mulai tertawa serta berpelukan. Aku iri dengannya.

Mungkin naluri keibuanku memang kurang. Tapi ketika putri keduaku lahir, cintaku pada bayiku luar biasa. Lilah adalah bayi yang aku bayangkan: kuat, sehat dan memiliki tatapan yang tajam. Dia mudah sekali diasuh dan bisa tertawa dengan mudah.

Dia bisa bicara di usia yang lebih cepat dan cerewet. Bahkan sejak usia balita, ia bisa berteman dengan semua orang yang ditemuinya. Ketika aku memeluknya, dia memeluk kembali dengan erat. Aku merasakan jantungku berdegup kencang dalam dua tubuh sekaligus.

Artikel terkait: Surat Ibu untuk Anak Perempuannya, “jika kelak kau merasa tak cukup baik…”

Di saat Lilah tumbuh sehat dan kuat, Sophie tampak sangat lemah. Memang benar bahwa aku dan seluruh saudaraku bertubuh mungil, tapi Sophie terlalu lemah, kurus dan pucat.

Perbedaan antara Lilah dan Sophie melampaui fisik. Lilah bisa mulai permainan cilukba yang menyenangkan pada usia 6 bulan, sementara kakaknya baru bisa memainkan itu saat berusia 3 tahun.

Dia akan duduk di lantai dan mengocehkan kata-kata dari buku dan acara TV. Kami akan bertanya, “Sophie, mau ikut main?” Dan dia akan berkata, “Lihat, tebak! Di mana? Di sana!”

Aku menyebut itu sebagai tindakan ‘tukang tebak-nya’.

Sampai pada titik di mana aku melihat bahwa setiap langkah Sophie dengan pandangan kegagalan.

Aku semakin membenci anakku, tapi juga berusaha mencintainya

Pada pesta ulang tahun, dia berjalan menjauh dari permainan parasut yang dimainkan anak-anak lain. Aku berkata, “Tuh kan, dia antisosial lagi.” Tapi ibu lain berkata, “Sophie anak yang mandiri. Dia tidak menginginkan parasut itu seperti anak-anak lain. Gadis yang pintar.”

Aku pikir, whoa! Aku tidak akan pernah melihatnya seperti itu. Bagiku, dia terjebak dalam dunia anehnya sendiri, yang didorong oleh motivasi misteriusnya sendiri dan dengan putus asa tidak mampu bersikap normal. Aku tahu bahwa aku sedang berusaha keras padanya, tapi sepertinya aku tidak bisa berhenti.

Hari itu datang juga. Saat itu usia Sophie 4 tahun. Ia bermain dengan teman baikku dan putrinya. Aku menghakimi Sophie seperti biasa, mengkritik caranya melukis dengan kuas cat daripada dengan bulu.

Saat itu temanku berpaling kepadaku dan mengatakan dengan jelas, “Kamu adalah ibu Sophie. Kamu seharusnya menjadi sandaran teramannya, jadi orang yang paling dapat diandalkannya di dunia ini untuk mendapatkan cinta dan dukungan tanpa syarat. Tidak masalah jika kamu menyukai tindakannya atau tidak. Kamu harus tetap mendukungnya.”

Aku mulai menangis, karena aku tahu dia benar. Dan jauh di lubuk hatiku, aku merasa malu dengan betapa mudahnya aku mengkhianati putriku sendiri. Jika aku melihat diriku secara obyektif, apa yang aku lakukan sangat menjijikkan.

Temanku menghibur, tapi tidak membiarkanku begitu saja. “Apa yang akan kamu lakukan soal ini?” tanyanya. Sejujurnya aku tidak tahu.

Kemudian, beberapa hari kemudian, kami mendapat selebaran dari prasekolah Sophie yang mengiklankan sebuah lokakarya dari seorang psikolog klinis yang bertajuk “Mencintai dan Menghormati Anak yang Anda Miliki, Bukan yang Anda Inginkan.”

Bingo! Saya menghubungi psikolog untuk melihat apakah kami bisa bertemu secara pribadi. Atas desakannya, aku menggambarkan berbagai keterbatasan Sophie. Yang aku tulis di belakang kartu nama:

  • Tidak terampil (sebagai balita, dia tahu keseluruhan alfabet dan bisa menghitung sampai 60, tapi hampir tidak bisa merangkai tiga huruf dalam satu kata).
  • Menyakiti diri sendiri, mungkin karena kegelisahan (biasanya menjambak rambutnya, lalu mulai menyakiti dirinya sendiri).
  • Tidak mengungkapkan kebutuhan atau bahkan menyebut dengan kata yang benar (ia akan menangis saat lapar bahkan saat rekan-rekannya menggunakan kalimat tertentu).
  • Terganggu dengan suara bernada tinggi (seperti bunyi ATM).
  • Lebih suka bermain sendiri (saat anak-anak lain mencoba bermain dengannya, dia mengabaikannya, atau mencoba bermain tapi sepertinya tidak mengerti bagaimana caranya).

Dia mengangguk saat aku mencatat keluhanku dan aku merasa senang. Aku mengharapkan untuk mendengar diagnosis yang akhirnya akan membuat kebiasaan Sophie berubah dan mengarah pada pengobatan yang efektif.

Tapi aku tidak beruntung. Dia merasa tidak selaras dengan kerapuhan yang ada pada Sophie. Dia bilang Sophie memiliki jiwa yang peka, sedangkan aku bagaikan orang yang sekeras banteng namun dengan versi produk made in China. Tapi aku masih saja terus berpikir bahwa ada yang salah dengan anakku. Kenapa sih tidak ada orang lain yang melihatnya?

Sebagai gantinya, dia membuat saran yang dirancang untuk membantuku bisa akrab dengannya. Aku mencatat. Kata psikolog tersebut, hal pertama yang harus aku lakukan adalah mengidentifikasi harapanku tentang Sophie sehingga aku dapat mengerti apakah itu realistis ataukah justru tidak dapat dicapai.

Selama aku menginginkan dia menjadi seseorang yang bukan dirinya, aku telah membuatnya jadi seseorang yang gagal di mataku, setiap hari.

Aku menjelaskan bahwa aku juga ingin Sophie melakukan kontak mata denganku. “Itu terlalu sulit baginya,” kata psikolog itu sambil memeriksa daftar catatanku sendiri. “Dia sangat sensitif. Saat kamu berbisik, baginya itu seperti megafon.”

Aku menyadari bahwa aku berharap Sophie lebih tangguh lagi (dia hipersensitif), lebih banyak berekspresi (sedangkan dia pemalu), dan “keren” (bahkan sekarang, saat berusia 9 tahun, dia lebih menyukai anak kucing dan malaikat).

Aku mencoba mengerti hal-hal itu. Mulai dari awal, aku harus berhenti melihat apa yang bukan Sophie dan mulai melihat dia apa adanya.

Beberapa bulan kemudian, ketika Sophie menggambar unicorn dan bilang bahwa itu untuk undangan pesta ulang tahunnya, aku menahan godaan untuk menyembunyikannya di tempat sampah dan memilih untuk memesan undangan yang lebih bagus lagi.

Foto copy undangan pelangi Sophie ke 45 anak telah disebar. Aku mendapat email pujian karena hal itu! Skor satu untuk Sophie.

Meski begitu, menyangkal harapanku dari hari ke hari sangat sulit. Aku bertanya-tanya apakah cara mengasuhku memang berstandar terlalu tinggi?

Sebagai putri seorang politisi lokal, aku diharapkan bisa menjadi teladan – berpakaian dengan pantas, tersenyum dan bisa berbasa-basi, menulis catatan ucapan terima kasih. Ibuku biasa mengatakan, “Tidak ada anak yang sukses tanpa ibu yang sukses,” dan aku tidak meragukan ini. Mengapa Sophie tidak bisa?

Pengakuan Rahasia Seorang Ibu:

Aku mencoba mengabaikan insting bahwa ada sesuatu yang tidak beres padanya. Psikolog tersebut merekomendasikan agar aku berhubungan dengan Sophie atas sesuatu yang dia sukai, dan aku merasa bahwa Calico Critters yang ia suka tidak menarik minatku.

Aku bersumpah bahwa aku sudah mencoba. Beberapa hari kemudian, aku melihatnya sedang membaca katalog Boden Mini. Aha! Kami berbagi hobi belanja! Ini mungkin bukan hobi yang paling sehat secara finansial, tapi setidaknya kita harus memulai sesuatu yang sama di satu titik.

Aku duduk di sampingnya dan bertanya, “Jika kamu bisa mendapatkan satu barang di setiap halaman, kamu milih barang yang mana?” Adikku dan aku telah memainkan permainan ini saat anak-anak, dan Sophie langsung memberikan respons.

Sayangnya, kehidupan yang sebenarnya bukanlah sebuah katalog besar. Seringnya, Sophie hanya akan merangkak, mengoceh dan menjerit dalam bahasa yang dibuat-buat. Ia juga mengajukan pertanyaan yang tidak masuk akal.

Seperti “Bagaimana jika ada hari di mana siang hari dan malam hari terjadi secara bersamaan? Bagaimana jika salju turun di musim panas? Bagaimana jika nama belakang kita adalah Nebraska?”

Bahkan ketika aku mencoba menetahnya supaya ia bisa berjalan di kelas, aku malah membuatnya jatuh. Aku juga memintanya untuk berhenti memindahkan ingus dari hidung ke mulutnya.

Aku hanya melakukan itu karena aku ingin dia bisa diterima dan disukai, yang mana ini merupakankan agendaku sendiri, bukan agenda miliknya.

Sayangnya, usahaku hanya membuatnya merasa lebih cemas. Aku terus merasa jengkel dan kesal. Mengapa putriku sendiri membuatku sangat sulit bagiku untuk menjadi orang tua? Aku perlahan terbiasa dengan perasaan itu, tapi aku tidak pernah berdamai dengannya.

Diagnosis

Ketika Sophie berusia 7 tahun, sebuah kabar menakjubkan datang mengguncang keluarga kami. Atas dorongan dokter anak kami, yang prihatin dengan pertumbuhan lamban Sophie, dia diuji dan didiagnosis menderita defisiensi hormon pertumbuhan yang telah memperlambat tumbuh kembangnya sejak lahir.

Keterampilan motorik dan kematangan sosialnya tiga tahun lebih lambat dari biasanya. Wow! Itu bukan diagnosis yang aku harapkan, tapi masuk akal.

Hormon pertumbuhan mengatur begitu banyak fungsi dalam tubuh; keterlambatan yang ada pada Sophie menjelaskan semuanya, dari suasana hatinya yang mellow dan perilakunya yang selalu cemas. Termasuk kesulitannya untuk mengomunikasikan selera makannya dan ototnya yang kecil. Reaksi pertamaku adalah lega bahwa akhirnya ada diagnosis!

Kemudian harapan, bahwa kami masih belum terlambat melakukannya. Lalu ada rasa bersalah. Selama ini, Sophie sedang berjuang dan aku membiarkannya sendiri. Dia berusia 7 tahun berdasarkan kalender, tapi hanya dengan jam tubuhnya sendiri. Sampai masuk ke kelas dua.

Dia menghadapi tantangan yang sangat besar setiap hari tanpa seorang ibu yang percaya padanya. Lebih buruk lagi, aku telah membencinya karena kecewa.

Padahal akulah yang membiarkannya jatuh. Aku segera menyesali kesalahan mengerikan yang telah aku katakan kepadanya selama bertahun-tahun dan berdoa agar kerusakan itu dapat diperbaiki. Ini adalah alarm yang membangunkanku.

Saat diagnosis itu, aku mendapati diriku merasa lebih lembut, lebih keibuan terhadap Sophie. Alih-alih mengeluh tentangnya. Sekarang kita bersama-sama melawan diagnosis ini.

Suamiku sangat optimistis tentang pengobatan berupa suntikan hormon malam hari. Namun khawatir dengan kemungkinan efek sampingnya. Bagaimanapun, selama ini dia telah menerima Sophie apa adanya. Hanya aku saja yang bersyukur dengan adanya diagnosis ini. Aku akhirnya belajar menjadi orang tua yang baik bagi Sophie, sekalipun selama ini tidak melakukan itu.

Anakku yang sekarang berusia 9 tahun ini berada di tempat yang cukup bagus. Suntikan hormon telah memberikan efek positif di setiap inci maupun berat badannya. Sophie kini ikut berkompetisi di tim senam lokal, mengikuti tes ejaan, pergi bermain, dan suka mendownload lagu untuk iPod-nya. Dia bisa melakukan kontak mata dan menjawab pertanyaan langsung.

Aku cukup yakin dia benar-benar bahagia hampir sepanjang waktu, meskipun dia masih cukup cemas dan kadang-kadang masih menjerit. Kadang-kadang aku mengawasinya, mencari tahu tentang sensitivitas emosionalnya yang pernah aku alami.

Tapi aku tidak melihat satupun. Sebagai gantinya, dia menarik lenganku, kakinya yang kuat meremas tubuhku dengan tangannya yang memperlihatkan “pelukan kobra.”

Apakah kita pernah kontak mata? Hampir tidak pernah. Tapi apakah aku mencoba untuk mendukungnya setiap hari? Ya, aku melakukannya. Karena bagaimanapun, aku adalah ibunya.

Ketika suami dari penulis ini dimintai pendapatnya tentang sang istri, ia menjawab bahwa istrinya adalah ibu yang baik karena selalu berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi tentang anaknya. Ia tak menyerah dengan rasa tidak nyamannya pada si anak perempuan.

Apakah Anda pernah merasakan hal yang sama pada anak? Jika iya, bagaimana pendapat Anda tentang ibu ini?

 

Baca juga:

Bunda, Inilah 7 Luka hati Anak Perempuan yang Merasa Tidak Dicintai Ibunya

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.