Mendikbud: Pembelajaran Jarak Jauh akan Dijadikan Permanen Usai Pandemi

Mendikbud: Pembelajaran Jarak Jauh akan Dijadikan Permanen Usai Pandemi

Mendikbud Nadiem Makarim mewacanakan pembelajaran jarak jauh akan diterapkan secara permanen usai pandemi. Seperti apa pelaksanaannya?

Sejak ditetapkan pandemi, terhitung sudah tiga bulan lebih anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah. Kegiatan belajar mengajar pun beralih dari tatap muka di kelas bersama guru dan teman-teman menjadi sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Setelah berjalan beberapa bulan, pembelajaran jarak jauh diwacanakan akan diterapkan secara permanen bahkan setelah pandemi Covid-19 usai. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR, Kamis (2/7/2020).

“Pembelajaran jarak jauh, ini akan menjadi permanen. Bukan pembelajaran jarak jauh pure saja, tapi hybrid model. Adaptasi teknologi itu pasti tidak akan kembali lagi,” ujar Nadiem.

Artikel terkait: KPAI banjir aduan belajar jarak jauh, Mendikbud kaji kurikulum darurat

Guru dan wali murid didorong untuk beradaptasi

KPAI

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim (Foto: Kompas/Kristianto P)

Dia mengatakan, pemanfaatan teknologi ini akan memberikan kesempatan bagi sekolah melakukan berbagai macam modeling kegiatan belajar. 

“Kesempatan kita untuk melakukan berbagai macam efisiensi dan teknologi dengan software dengan aplikasi dan memberikan kesempatan bagi guru-guru dan kepala sekolah dan murid-murid untuk melakukan berbagai macam hybrid model atau school learning management system itu potensinya sangat besar,” tuturnya.

Menurut Nadiem, hal ini terbukti dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19.

Meski pada penerapannya saat ini masih mengalami banyak kekurangan, seperti kecakapan guru hingga infrastruktur, seperti ketersediaan internet dan listrik.

Meskipun demikian, lanjut dia, baik guru maupun orang tua dapat beradaptasi dan bereksperimen memanfaatkan teknologi untuk kegiatan belajar. 

 “Walau sekarang kita semua kesulitan beradaptasi dalam PLJ, tapi belum pernah dalam sejarah Indonesia kita melihat jumlah guru dan kepala sekolah yang bereksperimen dan orangtua juga bereksperimen beradaptasi dengan teknologi,” tutur Nadiem.

“Jadi ini merupakan sebuah tantangan dan ke depan akan menjadi suatu kesempatan untuk kita,” lanjutnya.

Kurikulum pembelajaran jarak jauh sedang digodok Kemendikbud

pembelajaran jarak jauh

Ilustrasi siswa belajar jarak jauh

Saat ini, Kemendikbud tengah menyiapkan kurikulum dan modul pembelajaran hingga asesmen PJJ. 

Kurikulum itu disusun dengan mempertimbangkan penyederhanaan belajar dan fokus kepada aspek literasi, numerasi, dan pendidikan berkarakter. Tim dari Kemendikbud, yakni Balitbang, sedang mempersiapkan kurikulum itu.

Selain kurikulum PJJ, lanjut dia, Kemendikbud juga menyiapkan modul pembelajaran. Dengan modul tersebut, siswa dapat belajar di rumah secara mandiri. Modul itu juga membantu guru melakukan PJJ. Kemendikbud juga menyusun modul untuk para orang tua dalam mendampingi anaknya belajar.

“Jadi ada satu tim khusus di bagian tim Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan) kita yang sedang merumuskan bagaimana kita me-reformat atau melakukan berbagai macam perubahan pada kurikulum dan asesmen kita selama masa PJJ ini,” kata Nadiem.

Artikel terkait: Agar Proses Belajar di Rumah Berjalan Efektif, Terapkan 5 Cara Ini!

Hasil survei terkait pembelajaran jarak jauh 

Pembelajaran Jarak Jauh

Infografis Survei Orang Tua Khawatir Jika Sekolah Dibuka Kembali – (Infografis Republika.co.id)

Beberapa waktu lalu, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengadakan survei terhadap orang tua, guru, dan siswa sendiri terkait sekolah dibuka kembali. Survei tersebut dilakukan di 514 kota/kabupaten di 34 provinsi dengan melibatkan 61.913 orang tua, 19.296 guru, serta 64.386 siswa.

Dari survei itu didapatkan hasil sebagai berikut:

  • Sebanyak 85.5% orangtua khawatir jika sekolah dibuka kembali saat pandemi
  • Sebanyak 72.2% orangtua dilaksanakan pembelajaran jarak jauh
  • Sebaliknya, lebih banyak siswa yang tidak setuju jika PJJ dilanjutkan yakni sebanyak 57.4%. Hal ini kemungkinan disebabkan anak-anak bosan di rumah dan ingin bertemu dengan teman-temannya di sekolah.
  • Sementara itu, sebanyak 53.5% guru menyatakan siap dengan tatanan new normal sedangkan sisanya sebanyak 46.5% guru mengaku belum siap.

Merujuk pada hasil survei tersebut, Sekjen PB PGRI, Ali Rahim menyimpulkan bahwa perlu evaluasi dan perbaikan pelaksanaan PJJ agar ke depan lebih baik dan siswa merasa nyaman.

Menurut Parents, apakah setuju jika pembelajaran jarak jauh dijadikan permanen? Apapun kurikulum yang dibuat oleh Kemendikbud nanti, sebaiknya semua pihak belajar beradaptasi dengan segala kemungkinan karena pendidikan harus terus berjalan baik di dalam maupun di luar sekolah.

Sumber: Kompas, Republika

Baca juga:

Belajar dari Rumah Masih Berlanjut, Ini Pedoman dari Kemendikbud

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner