Menjadi Wanita Karir Sekaligus Ibu Yang Baik, Mungkinkah?

lead image

Simaklah pendapat Indra K. Nooyi, CEO PepsiCo, tentang keseimbangan antara wanita karir yang sukses dan orangtua yang ideal.

dreamstime xs 12947746 Menjadi Wanita Karir Sekaligus Ibu Yang Baik, Mungkinkah?

Semua pilihan mengandung konsekuensi, termasuk pilihan menjadi wanita karir.

Wanita karir harus pandai menempatkan diri

Persoalan sekitar pilihan hidup menjadi wanita karir memang sudah sering Anda baca di berbagai media. Bagaimana jika kali ini Anda melihatnya dari perspektif berbeda?

Indra K. Nooyi menceritakan pengalamannya, tentang reaksi ibunya ketika mendegar bahwa ia terpilih menjadi presiden PepsiCo.

“Dengar, Nak. Kau mungkin adalah seorang bos di kantor. Tapi di rumah kau adalah seorang perempuan, seorang ibu, seorang istri, dan juga seorang menantu. Tinggalkanlah jabatanmu itu di tempatnya, dan jangan dibawa masuk ke dalam rumah. Begitulah yang dikatakan ibu saya,” ujar Nooyi.

Inilah hal yang harus dihadapi semua wanita karir, bahwa ada kehidupan lain yang menantinya di rumah yang juga membutuhkan perhatian, waktu dan energi. Menjadi yang terbaik di kantor dan di rumah bukanlah suatu perkara mudah. Bisa jadi suatu hari Anda merasa tertekan dan kelelahan karenanya.

Tapi tidak demikian menurut Ibu Nooyi. Menurutnya, seorang wanita karir juga bisa menjadi ibu dambaan anak-anak. Dan untuk mencapainya, diperlukan strategi khusus. Strategi apakah itu? Ibu Nooyi dengan senang hati membagikan tipsnya:

Anda tak bisa melakukan semuanya

“Saya pikir, tak mungkin bagi seorang wanita karir melakukan segala hal dengan sempurna. Tapi kita bisa berpura-pura bahwa kita bisa.

dreamstime xs 21217871 Menjadi Wanita Karir Sekaligus Ibu Yang Baik, Mungkinkah?

Yang seperti ini sebaiknya jangan terjadi ketika Anda memutuskan untuk menjadi wanita karir.

Saya sudah menikah selama 34 tahun dan kami punya dua anak perempuan. Anak-anak saya mungkin akan mengatakan bahwa saya bukan ibu ideal.

Dan saya menerimanya. Anda juga sebaiknya bekerja sama dengan seluruh keluarga besar Anda untuk mengasuh dan membesarkan anak, ”  ungkap Nooyi.

Sebelum Anda memutuskan untuk bekerja dan meraih posisi lebih tinggi di tempat kerja, ada baiknya Anda bicarakan hal ini dengan seluruh keluarga, misalnya orangtua Anda, mertua dan suami.

Jika mereka setuju untuk membantu mengasuh anak-anak selama Anda bekerja, bersyukurlah. Karena tak semua wanita karir tinggal sekota dengan keluarga besar mereka dan menitipkan anak di TPA sering menjadi satu-satunya pilihan.

dreamstime xs 38540884 Menjadi Wanita Karir Sekaligus Ibu Yang Baik, Mungkinkah?

Karena pekerjaan, mungkin anak akan menganggap Anda bukan ibu ideal dan terimalah hal itu dengan lapang dada.

Jangan menyiksa diri

Keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga sering menjadi suatu hal yang membuat para wanita karir merasa tertekan.

Hal ini bisa saja karena seorang wanita karir merasa bersalah karena meninggalkan anak untuk bekerja di luar rumah dalam waktu yang lama (belum lagi kalau terjebak macet di jalan!).

“Jam biologis manusia dan jam kerja kantor sering mengalami benturan satu sama lain, dan mau tidak mau Anda harus bisa mengatasinya,” kata Nooyi.

Dari perkataan Nooyi ini kita bisa menyimpulkan bahwa anggapan untuk menjadi ibu sempurna bisa menjadi beban dan mengakibatkan stres, jika seorang wanita karir melakukannya dengan penuh rasa keterpaksaan. Membandingkan situasi Anda dengan orang/ keluarga lain sama artinya dengan menyiksa diri Anda sendiri.

Oleh karena itu, berpikir panjang sebelum memutuskan untuk menjadi wanita karir harus dilakukan jauh-jauh hari agar Anda siap dengan segala konsekuensi yang mungkin akan terjadi.

Bos dan rekan kerja yang toleran

“Anda tahu menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan full time yang berat. Tapi menjadi CEO adalah tiga kali lebih berat. Jika Anda tidak bisa mengatur agar semua orang di tempat kerja memahami situasi Anda, sudah dipastikan Anda akan gagal (menjadi ibu sekaligus wanita karir),” tambah Nooyi.

Kebahagiaan seorang wanita karir yang sudah berumah tangga tidak hanya terletak pada gaji yang besar. Namun karena memiliki rekan-rekan kerja dan atasan yang tak banyak komplain ketika Anda meminta izin cuti ketika anak sedang sakit, atau bersedia menggantikan Anda sebentar ketika Anda hendak memerah ASI.

Saya tahu hal semacam ini tidak mudah didapatkan, Bunda. Meningkatkan skill dan menjaga profesionalisme saat bekerja sebaiknya Anda lakukan sesegera mungkin, agar atasan dan rekan-rekan kerja mempunyai alasan untuk mempertahankan Anda di posisi saat ini dan mereka bersikap seperti yang Anda inginkan.

Bunda, semoga ulasan ini bermanfaat.

Baca juga:

Tips Manajemen Waktu untuk Ibu

Tips Manajemen Stres untuk Wanita Karir