"Menghargai anak penting untuk pertumbuhannya," tutur seorang ibu

"Menghargai anak penting untuk pertumbuhannya," tutur seorang ibu

"Salah ngomong sama orang dewasa paling bikin dia marah. Salah ngomong sama anak, efeknya bisa ke pembentukan karakter anak," ungkap Damar.

Melihat anak yang tengah cemberut atau menangis terkadang memang sangat menggemaskan! Namun hati-hati, jangan sampai Anda sengaja melakukannya dan justru membuat dia merasa tidak nyaman. Meskipun mereka masih kecil tetapi kita tetap perlu menghargai anak selayaknya seorang manusia dewasa.

Hal itu diungkapkan oleh seorang ibu satu anak sekaligus Montessori Parenting Speaker, Damar Wijayanti.

Pentingnya menghargai anak

menghargai anak 2

Damar dan anaknya Embun.

Sebagai seorang ibu, Damar mengaku sedih bila ada orang dewasa yang sengaja menggoda anak-anak hingga membuatnya menangis. Apalagi bila setelah itu, orang tersebut tertawa dan justru tidak merasa bersalah.

Menurutnya salah satu tugas orang dewasa dalam perkembangan anak usia 0-2 tahun adalah menumbuhkan trust pada dunia dan attachment pada keluarga. Jika hal ini gagal dicapai oleh anak, maka jangankan punya teman yang iseng, keluar rumah buat cari teman saja dia takut.

Artikel terkait: Panduan lengkap perkembangan anak 2 tahun (Milestone)

“Bayangkan yang dirasakan anak: keluargaku sering membuatku merasa tidak aman dan tidak nyaman, sering membuatku menangis. Apakah dunia itu memang tidak aman seperti ini? Efek panjangnya, anak tidak mempercayai keluarga dan dunia, tidak berani untuk eksplorasi yang berkaitan dengan minimnya informasi dan hal baru yang dia pelajari,” ujar Damar dalam unggahannya di Instagram, Kamis (9/1/2020).

menghargai anak 3

Damar menyatakan pentingnya orang dewasa menghargai anak.

Tidak hanya itu, Damar juga menyesalkan perilaku orang dewasa yang meminta sesuatu yang sedang dimakan anak hingga memaksanya. Terlebih bila anak tersebut justru dibilang pelit dan menangis.

I mean, do you really want that baby food? No. Kita bahkan gak benar-benar mau minta, kita tahu betul si anak akan bilang apa, tapi kita tetap memaksa, dan akhirnya ngatain pelit.

Apakah itu tujuan awal kita melakukannya? Karena pengen ngatain anak pelit? Salah apa sih dia sampai kita sebegitu pengennya bilang dia pelit?,” tegas Damar.

Untuk itu, Damar meminta agar para orang dewasa lebih menghargai dan berpikir sebelum berkomunikasi dengan anak. Sebab dampak yang ditimbulkan bisa sangat berbahaya untuk pembentukan karakter anak.

So next time we have contact with children, mau anak, ponakan, tetangga, anak orang ga kenal, please please please treat them with respect, and think before you act. Salah ngomong sama orang dewasa paling bikin dia marah. Salah ngomong sama anak, efeknya bisa ke pembentukan karakter anak,” pungkasnya.

Menghargai anak adalah salah satu cara membentuk karakter si kecil

 

View this post on Instagram

 

RESPECT THE CHILD Jarang banget ngepost yg berbau2 kebetean gini, but on behalf of our children, I wanna say this tou you, the adults in the environment: Please respect our children. Suka sedih (dan bete) kalau ada orang yg ngisengin anak, menggodanya sampai menangis, lalu diketawain. Tujuannya apa sih? Kalau butuh hiburan, I recommend you to watch Kevin Hart instead. Sedihnya lagi kalau ditegur, malah bilang: justru biar belajar, nanti pasti dia punya temen yg iseng, biar ga lembek dll. Blup blup blup! Let me stop you there! Salah satu tugas perkembangan anak usia 0-2 tahun adalah menumbuhkan trust pada dunia dan attachment pada keluarga. Jika tugas ini gagal dia capai, jangankan punya teman yg iseng, keluar rumah buat cari teman aja dia takut. Bayangkan yg dirasakan anak: keluargaku sering membuatku merasa tidak aman dan tidak nyaman, sering membuatku menangis. Apakah dunia itu memang tidak aman seperti ini? Efek panjangnya, anak tidak mempercayai keluarga dan dunia, tidak berani untuk eksplorasi yg berkaitan dengan minimnya informasi dan hal baru yg dia pelajari. Another “kasus bikin bete”: Orang dewasa bilang mau minta sesuatu yg sedang dimakan anak, sampai memaksa, dan anaknya tetep bilang ga boleh bahkan kadang sampai menangis. Lalu anak dibilang pelit dengan nada bercanda. I mean, do you really want that baby food? No. Kita bahkan ga benar2 mau minta, kita tahu betul si anak akan bilang apa, tapi kita tetap memaksa, dan akhirnya ngatain pelit. Apakah itu tujuan awal kita melakukannya? Karena pengen ngatain anak pelit? Salah apa sih dia sampai kita sebegitu pengennya bilang dia pelit? So next time we have contact with children, mau anak, ponakan, tetangga, anak orang ga kenal, please please please treat them with respect, and think before you act. Salah ngomong sama orang dewasa paling bikin dia marah. Salah ngomong sama anak, efeknya bisa ke pembentukan karakter anak. Thank you ❤ #montessoriseharihari

A post shared by Montessori Sehari-hari (@damarwijayanti) on

Artikel terkait: Ini karakter anak usia 3 tahun yang harus Anda pahami. Parents wajib tahu!

Anak-anak bisa kehilangan kepercayaan karena terlalu sering digoda

Damar bercerita kerap mendapatkan curhatan dari para ibu yang mengalami masalah yang sama. Di mana anak menjadi super clingy (terlalu lengket dengan orangtua) dan memiliki stranger anxiety (takut pada orang asing) yang parah, bahkan dalam lingkungan keluarga sendiri.

“Saat saya gali lebih dalam, mereka memiliki kesamaan, kehilangan trust pada lingkungan karena sering “digodain” sampai merasa tidak nyaman dan menangis,” ujarnya saat dihubungi oleh tim theAsianparent, Jumat (17/1/2020).

Damar dan keluarga kecilnya

Selama ini Damar mengaku kerap membagi informasi tentang teknik reframing atau cara-cara menjaga anak dari labelling dan hal-hal yang tidak pantas dari lingkungan sekitarnya di akun Instagram pribadinya @damarwijayanti.

Hal itu semata-mata dilakukan agar dapat menjadi bekal bagi para ibu dalam melindungi anaknya dan dampak buruk dari labelling yang ditimbulkan tidak menjadi permanen bagi anak.

Namun sayangnya ia masih juga mendapatkan banyak cerita tentang ibu yang mengalami hal tersebut, sehingga ia merasa perlu mengingatkan kembali pada orang dewasa di sekitar anak tentang dampak perilaku dan ucapan mereka seperti apa.

Because it’s heart breaking when our kids come to us and ask ‘Ibu, aku sombong ya? Aku cengeng ya? Apakah aku jelek ya? Aku nakal ya?’ Di tengah-tengah kerja keras kami menumbuhkan anak yang baik dan kami harus bekerja keras lagi meyakinkan anak kami bahwa dia adalah individu yang baik,” jelas Damar.

Damar pun mengaku cukup tegas dalam menghadapi orang dewasa di sekitar anaknya, Embun yang saat ini masih berusia 2 tahun. Ia mengaku tidak akan segan menegur orang yang telah melakukan anaknya dengan tidak pantas.

Meski begitu, Damar rupanya tetap saja kecolongan. Sang anak sempat merasa menjadi sosok yang nakal karena perkataan orang lain yang jarang ia dengar.

Artikel terkait: 7 Cara melatih anak laki-laki untuk menghargai wanita, sudah diterapkan belum?

Embun

“Anak saya pernah datang ke saya dan bertanya ‘ibu, E itu nakal!’ (Bukan bertanya, tapi yakin banget bilangnya). Kebayang gak anak yang aku lindungi dengan reframing dan aku gak segan menegur orang yang melabeli anakku aja masih bisa pick up something like that. 

Sampai percaya bahwa dia nakal cuma dari omongan orang yang jarang dia dengar. Apalagi anak-anak yang setiap hari harus deal with these kind of things,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Damar merasa kesadaran untuk menghargai dan berpikir sebelum berkomunikasi dengan anak sangat penting bagi setiap orang dewasa.

Semoga apa yang disampaikan oleh Damar bisa diterapkan oleh semua orang dewasa.

Baca juga

Membangun dasar kepribadian positif pada anak sejak dalam kandungan

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner