4 kesalahan umum keuangan keluarga yang bisa hancurkan pernikahan, hati-hati Parents!

4 kesalahan umum keuangan keluarga yang bisa hancurkan pernikahan, hati-hati Parents!

Masih sering dilakukan, 4 kesalahan keuangan dalam rumah tangga ini bisa menghancurkan pernikahan, apa saja?

Mengelola keuangan keluarga bisa dibilang menjadi hal yang cukup krusial dalam tolak ukur pernikahan yang harmonis. Bukan tanpa alasan, studi yang dipublikasikan oleh SunTrust Bank mengungkapkan bahwa sebanyak 35% pasangan mengeluhkan uang sebagai masalah utama penyebab hancurnya rumah tangga.
 
Oleh sebab itu, penting bagi Parents milenial mengetahui pengelolaan keuangan yang tepat agar kesejahteraan keluarga tetap terjaga.

Kesalahan dalam mengelola keuangan keluarga

kesalahan pengelolaan keuangan keluarga

Kesalahan keuangan yang bisa menghancurkan pernikahan

Jacqueline Newman seorang mitra pengelola Berkman Bottger Newman & Rodd di New York City menuturkan ragam kesalahan mengelola keuangan keluarga yang menempati urutan teratas, namun sayangnya masih umum dilakukan:

#1 Tidak terbuka mengenai keuangan

Saat menikah, Anda tak lagi memikirkan satu kepala karena Bunda sudah berbagi kehidupan dengan pasangan tak terkecuali masalah keuangan. “Sekali habit ini menjadi kebiasaan, maka bisa menghancurkan kepercayaan yang sudah terbentuk dengan susah payah,” ungkap Newman.

Faktanya, 2 dari 5 orang mengaku menyembunyikan topik keuangan dari pasangannya demikian hasil survei yang dirilis oleh National Endowment for Financial Education yang kedepannya memengaruhi pernikahan mereka.

#2 Menyembunyikan utang

Menyimpan uang dari pasangan dengan tujuan baik tidak disarankan, namun tak ada yang lebih buruk daripada seseorang yang menyembunyikan masalah utang pada pasangannya. “Tidak semata kebohongan, kondisi keuangan yang dihiasi utang akan membuat Anda merasa tidak aman dan selanjutnya akan lebih banyak kemarahan,” sambung Newman.

Bahkan, sebanyak 31% orang mengatakan mereka memilih tidak menceritakan kepada pasangan tentang kartu kredit dengan alasan tidak ingin memicu masalah. Padahal, komunikasi dua arah secara jujur tentang apa yang kita miliki kepada pasangan sejatinya lebih baik sehingga jika ada masalah akan lebih ringan untuk diselesaikan.

#3 Pengeluaran yang tidak terkontrol

Kebiasaan pasangan menghabiskan keuangan pastinya berbeda, namun pastikan Anda memiliki anggaran rumah tangga supaya pengeluaran keuangan lebih terkendali setiap bulannya.

Untuk itu, buatlah anggaran belanja rumah tangga secara periodik. Tentukan siapa di dalam pernikahan yang lebih piawai membelanjakan uang dan jadikan ia manajer keuangan rumah tangga. Seringkali suami istri mengabaikan hal ini sehingga uang mengalir begitu saja tanpa adanya perencanaan yang jelas.

“Ini banyak terjadi ketika satu orang menghasilkan lebih banyak, sementara pasangan hanya menghabiskan tanpa mampu mengelola,” ujar Newman. Untuk itu, komunikasikan hal ini dengan gamblang bersama pasangan.

Hal ini berlaku baik jika pemasukan rumah tangga berasal dari dua sumber maupun hanya salah satu pihak yang bekerja.

#4 Kekerasan finansial

Jangan berpikir bahwa kekerasan dalam rumah tangga hanya berpatokan pada kekerasan fisik semata. Dalam beberapa kasus, uang bahkan mampu menjadi sebuah kekuatan yang tak sehat untuk menekan pasangan.

“Ini sering terjadi dalam situasi yang masih menganut sistem tradisional,” jelas Newman.

Beberapa ciri bisa menandakan Anda terjebak dalam kekerasan finansial antara lain pemaksaan pada pasangan untuk tidak bekerja, hanya memberikan uang dalam jumlah terbatas setiap bulan untuk kebutuhan rumah tangga, harus melaporkan setiap pengeluaran secara rinci dengan cara yang tidak nyaman merupakan beberapa di antaranya.

Mengelola keuangan keluarga dengan cara yang sehat

Tidak ada pasangan yang mau terlibat pertengkaran karena sebab apapun, termasuk keuangan. Karenanya, sebaiknya pasangan mulai mendiskusikan hal ini mengingat keuangan cukup sensitif dan bisa memicu permasalahan lebih besar.

“Pada dasarnya setiap keluarga itu memiliki pola pengelolaan uang yang unik. Misalnya, keluarga yang pemasukan utama hanya dari suami tentu berbeda dengan keluarga yang kedua pasangan sama-sama bekerja. Ini harus dibicarakan dengan seksama,” tutur Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog saat diwawancarai oleh theAsianparent Indonesia melalui whatsapp pada Rabu (24/4).

Psikolog anak dan keluarga yang akrab disapa Nina ini menekankan pentingnya mengelola keuangan keluarga berdasarkan kebutuhan dan keinginan. Misalnya jumlah anak di dalam keluarga tentu akan berbeda dan semakin besar seiring semakin banyaknya anak. Perlu diperhatikan juga jika ada kondisi lain misalnya adanya tanggungan orangtua atau anggota keluarga yang sudah tidak memungkinkan untuk bekerja tentu akan membutuhkan pos pengeluaran tambahan yang perlu dibicarakan dengan pasangan.

“Oleh karena itu, suami istri harus membicarakan topik mengelola keuangan keluarga ini secara terbuka. Sepakati bagaimana mengelola keuangan yang baik karena sekali lagi, setiap keluarga berbeda,” pungkas Nina.

Bagaimana dengan Bunda dan suami, sudahkah mengelola keuangan keluarga dengan baik?

Referensi : CNBC

Baca juga : 

Kakeibo, menabung ala ibu rumah tangga Jepang yang wajib Bunda tiru

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner