TAP top app download banner
theAsianparent Indonesia Logo
theAsianparent Indonesia Logo
kemendikbud logo
Panduan Produk
Keranjang
Masuk
  • Kehamilan
    • Kalkulator perkiraan kelahiran
    • Tips Kehamilan
    • Trimester Pertama
    • Trimester Kedua
    • Trimester Ketiga
    • Melahirkan
    • Menyusui
    • Kehilangan bayi
    • Project Sidekicks
  • Anak
    • Bayi Baru Lahir
    • Bayi
    • Balita
    • Prasekolah
    • Anak
    • Praremaja & Remaja
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
    • Pengasuhan Anak
    • Edukasi Prasekolah
    • Edukasi Sekolah Dasar
    • Edukasi Remaja
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
    • Keluarga
    • Doa Islami
    • Pernikahan
    • Seks
    • Berita Terkini
  • Kesehatan
    • COVID-19
    • Info Sehat
    • Penyakit
    • Vaksinasi
    • Kebugaran
  • Gaya Hidup
    • Korea Update
    • Hiburan
    • Travel
    • Fashion
    • Kebudayaan
    • Kecantikan
    • Keuangan
  • Nutrisi
    • Resep
    • Makanan & Minuman
    • Sarapan Bergizi
  • Ayah manTAP!
    • Kesehatan Ayah
    • Kehidupan Ayah
    • Aktivitas Ayah
    • Hobi
  • VIP
  • Event

Cara Mengajarkan Anak Mengenali Berita Hoax di Internet

Bacaan 3 menit
Cara Mengajarkan Anak Mengenali Berita Hoax di Internet

Berita hoax tak hanya menyasar orang dewasa yang menggemari politik saja. Namun juga mengincar anak-anak. Ajari ia bijak bermedia sejak dini.

Saat ini, ada banyak berita hoax, tulisan dengan judul bombastis, satire, dan informasi yang membuat orang-orang panik. Jika ada banyak orang tua yang tersesat dengan berita hoax, bagaimana dengan anak-anak?

Mengajarkan anak-anak daya kritis sangat penting agar ia lebih bijak mengonsumsi informasi. Selain baik untuk anak, hal ini juga baik untuk mengingatkan orang tua agar tidak mudah menelan informasi mentah-mentah.

Sayangnya, melatih anak untuk dapat mencerna informasi yang sehat tidak mudah. Bahkan, orang dewasa pun masih rentan mempercayai berita hoax.

Memberikan pertanyaan akan melatih kekritisan anak. Selain itu, ada metode khusus yang dapat diterapkan agar anak dapat belajar kritis dalam bermedia.

Berikut cara mengajari anak untuk kritis dalam menggunakan sosial media.

1. Ajukan pertanyaan kritis padanya

Berikan pertanyaan berikut ketika anak menerima broadcast “dari tetangga sebelah” yang biasanya ada di whatsapp maupun berita-berita online yang bombastis.

  • Siapa yang membuat berita ini?
  • Siapa target pembaca?
  • Siapa yang membayar untuk ini? Atau, yang dibayar jika kamu mengklik ini?
  • Siapa yang akan diuntungkan atau dirugikan oleh pesan ini?
  • Apa yang tersisa dari pesan ini yang mungkin penting?
  • Apakah media ini dapat dipercaya dan apa yang membuat kamu berpikir bahwa media ini layak dipercaya?

2. Periksa sumber berita

Periksa alamat sumber maupun url berita. Misalnya, apakah berita tersebut berasal dari laman dengan alamat yang valid. Misalnya, ajarkan anak untuk membedakan akun berita yang asli maupun blog. Perhatikan alamat situs, apakah itu dari blogspot, .com, .io, dsb.

3. Mengetahui kualitas berita

Mencari tanda-tanda berita berkualitas rendah. Misalnya seperti judul berita maupun isi berita dengan huruf kapital semua, berita utama dengan kesalahan mencolok soal tata bahasa, klaim berani tanpa sumber, dan gambar sensasional (gambar editan). Ini adalah petunjuk bahwa Anda harus skeptis dari sumber.

Periksa bagian “Tentang Kami” pada bagian situs. Cari tahu siapa mendukung situs atau yang terkait dengan itu. Jika informasi ini tidak ada dan jika situs mengharuskan mereka untuk mendaftar sebelum dapat mempelajari apa-apa tentang para pendukungnya, maka anak harus bertanya-tanya mengapa mereka tidak transparan.

4. Cek ulang berita

Periksa Wikipedia, dan Google sebelum mempercayai atau berbagi berita yang tampaknya terlalu bagus untuk dibaca maupun terlalu atau buruk untuk menjadi kenyataan.

Pertimbangkan apakah media utama lainnya melaporkan berita yang sama. Jika mereka tidak, itu tidak berarti itu tidak benar, tapi itu tidak berarti Anda harus menggali lebih dalam.

5. Ajari kepekaan emosi

Periksa emosi Anda. Berita pencari klik dan hoax selalu berusaha untuk memberikan reaksi ekstrim. Jika berita yang anak baca membuat ia benar-benar marah atau super puas, itu bisa menjadi tanda bahwa Anda sedang dimainkan. Memeriksa beberapa sumber sebelum mempercayainya.

Bahkan, metode ini bisa juga diajarkan dari orang tua kepada anak dalam komunikasi verbal agar anak tak menelan mentah-mentah gosip dari teman yang ia dengar. Jadi tahap ini tak hanya berlaku soal berita di media.

Menjalankan tahap itu memang tak mudah. Hal ini juga hanya bisa diterapkan pada anak yang benar-benar sudah menjadikan internet sebagai sumber informasinya. Misalnya, anak usia 9 tahun sampai remaja.

Mengajarkan anak berpikir kritis dalam bermedia agar dapat mendeteksi berita hoax pada anak juga dapat menjadi pengingat bagi orang tua. Sekalipun sudah berhati-hati, kadang kita pun masih termakan oleh berita palsu, apalagi yang berhubungan dengan isu kesehatan maupun politik.

Semoga dengan ini kita lebih hati-hati dalam bermedia ya, Parents…

 

 

Referensi: CNN, Standard.

Baca juga:

Bolehkah Anak SD Punya Akun Media Sosial?

 

Cerita mitra kami
Memberikan Sogokan untuk Anak, Boleh atau Tidak, Ya?
Memberikan Sogokan untuk Anak, Boleh atau Tidak, Ya?
Serunya theAsianparent on the Go 2025 di Bekasi, Banyak Talk Show Bermanfaat!
Serunya theAsianparent on the Go 2025 di Bekasi, Banyak Talk Show Bermanfaat!
MY BABY dan theAsianparent Indonesia Meriahkan Hari Ibu Lewat Acara Spesial 'Mari Rayakan Ibu'
MY BABY dan theAsianparent Indonesia Meriahkan Hari Ibu Lewat Acara Spesial 'Mari Rayakan Ibu'
Bangga jadi Bunda, Apresiasi Peran Penting untuk Keluarga
Bangga jadi Bunda, Apresiasi Peran Penting untuk Keluarga

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Syahar Banu

  • Halaman Depan
  • /
  • Keluarga
  • /
  • Cara Mengajarkan Anak Mengenali Berita Hoax di Internet
Bagikan:
  • Niat Puasa Syaban Lengkap dan Amalan Lain yang Bisa Dilakukan

    Niat Puasa Syaban Lengkap dan Amalan Lain yang Bisa Dilakukan

  • Sering Diucapkan saat Figur Publik Meninggal, Ini Arti Rest in Peace

    Sering Diucapkan saat Figur Publik Meninggal, Ini Arti Rest in Peace

  • 20 Arti Mimpi Hamil tapi Belum Menikah, Tanda Ada Kabar Baik!

    20 Arti Mimpi Hamil tapi Belum Menikah, Tanda Ada Kabar Baik!

  • Niat Puasa Syaban Lengkap dan Amalan Lain yang Bisa Dilakukan

    Niat Puasa Syaban Lengkap dan Amalan Lain yang Bisa Dilakukan

  • Sering Diucapkan saat Figur Publik Meninggal, Ini Arti Rest in Peace

    Sering Diucapkan saat Figur Publik Meninggal, Ini Arti Rest in Peace

  • 20 Arti Mimpi Hamil tapi Belum Menikah, Tanda Ada Kabar Baik!

    20 Arti Mimpi Hamil tapi Belum Menikah, Tanda Ada Kabar Baik!

Daftarkan email Anda sekarang untuk tahu apa kata para ahli di artikel kami!
  • Kehamilan
  • Tumbuh Kembang
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Home
  • TAP Komuniti
  • Beriklan Dengan Kami
  • Hubungi Kami
  • Jadilah Kontributor Kami
  • Tag Kesehatan


  • Singapore flag Singapore
  • Thailand flag Thailand
  • Indonesia flag Indonesia
  • Philippines flag Philippines
  • Malaysia flag Malaysia
  • Vietnam flag Vietnam
© Copyright theAsianparent 2026. All rights reserved
Tentang Kami|Tim Kami|Kebijakan Privasi|Syarat dan Ketentuan |Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti