Panduan Memilih Sekolah Anak menurut pakar psikologi

lead image

Pakar psikologi Rosdiana Setyaningrum membagikan tips dalam memilih sekolah untuk anak. Yang perlu diketahui oleh semua orangtua.

Dalam memilih sekolah anak, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan orangtua. Selain masalah biaya, letak sekolah, juga kemampuan anak harus menjadi hal yang dipertimbangkan.

Pakar Psikologi Rosdiana Setyaningrum mengatakan, “Anak tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi mimpi orangtua yang belum terwujud. Jadi memilih sekolah anak tidak boleh berdasarkan ambisi orangtua semata.”

“Ambisi orangtua dalam menyekolahkan anak, bisa menghancurkan masa depan anak,” tambahnya.

Lebih lanjut, lulusan psikologi UI ini juga menjelaskan, dalam memilih sekolah anak, hal penting yang harus diperhatikan orangtua adalah kecocokan sekolah dengan anak. Dari sistem belajar, lingkungan sekolah, hingga budaya di sekolah tersebut.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2017/11/panduan memilih sekolah anak.jpg Panduan Memilih Sekolah Anak menurut pakar psikologi

Psikolog yang akrab disapa Mbak Diana ini, membagikan beberapa tips yang bisa Parents tiru dalam memilih sekolah anak.

Panduan memilih sekolah anak

Dalam memilih sekolah anak, Parents harus mempertimbangkan beberapa hal penting. Yakni sebagai berikut:

1. Faktor dalam diri anak

  • Umur anak. Hindari memasukkan anak ke sekolah saat masih balita. Karena sebelum anak berusia 7 tahun, otaknya belum matang dan belum mampu belajar calistung. Jadi, tak perlu buru-buru memasukkan anak ke sekolah.
  • Potensi anak. Bila anak memiliki bakat di bidang olahraga, usahakan dia masuk sekolah yang memiliki kegiatan olahraga. Agar bakatnya bisa tersalurkan.

2. Tahapan perkembangan anak

  • Anak belajar bersosialisasi. Sekolah adalah tempat anak bergaul, jadi sedini mungkin ajari ia untuk bersosialisasi. Caranya, ajak anak untuk bersama teman sebayanya sebelum masuk usia sekolah.
  • Anak harus dibimbing untuk mengikuti aturan sekolah. Terlalu memanjakan anak, hingga membuatnya melanggar aturan sekolah adalah hal tidak baik. Anak harus dibiasakan untuk mengikuti aturan, agar terbebas dari perilaku egois yang bisa merugikan dirinya.
  • Mengembangkan kecerdasan emosi anak. Tiap anak memiliki kecerdasan berbeda-beda, juga cara belajar yang berbeda. Temukan cara belajar paling efektif pada anak. Bisa itu melalui visual, audio atau kinestetik.
  • Mengenalkan anak pada olahraga dan seni. Anak harus sering menggerakkan tubuhnya, agar otaknya bisa berkembang. Olahraga dan seni harus dikenalkan padanya sedini mungkin.

Artikel terkait: Sikap disiplin salah satu pertimbangan memilih sekolah untuk anak

3. Karakter kepribadian

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2017/11/panduan memilih sekolah untuk anak 1 1024x508.jpg Panduan Memilih Sekolah Anak menurut pakar psikologi

Mengenali karakter anak, akan memudahkan orangtua dalam memilih sekolah anak.

  • Aktif. Anak aktif harus masuk ke sekolah yang memiliki kegiatan olahraga.
  • Hobi. Carilah sekolah di mana anak bisa menyalurkan hobinya.
  • Percaya diri. Sekolah tempat anak membangun kepercayaan diri. Lingkungan sekolah yang ramah bisa mendukung kepercayaan dirinya.
  • Senang belajar. Sistem belajar dan guru menyenangkan, bisa membuat anak betah di sekolah. Tidak ada salahnya Parents mengunjungi sekolah dan mengobrol dengan guru di sana untuk mengetahui metode mengajar dan sistem pengajaran mereka.
  • Problem solving adalah kemampuan yang harus dikuasai anak. Hindari sekolah yang hanya menerapkan hafalan tanpa cara untuk menyelesaikan sebuah soal pada anak.

4.  Potensi kecerdasan anak

Sebelum memilih sekolah anak, ketahui jenis kecerdasan yang dimiliki anak. Agar tidak salah memilihkan sekolah untuknya. Jangan pernah memasukkan anak yang memiliki kecerdasan di bidang bahasa ke sekolah kedokteran atau akuntansi, karena anak tidak akan sulit berprestasi.

Berikut adalah 3 potensi kecerdasan anak.

  • Bahasa
  • Berhitung
  • Multiple intellegence

Cara belajar anak:

Auditori atau kinestetik (gerakan).

5. Keinginan orangtua vs keinginan anak

  • Libatkan anak dalam memilih sekolah, agar dia merasa memiliki andil dalam masa depannya.
  • Ajak anak bicara mengenai apa yang dia sukai dan tidak disukai. Juga preferensi belajarnya
  • Jelaskan keinginan orangtua pada anak. Jika bisa berkompromi, maka lebih baik.

6. Cermati sistem sekolah

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2017/11/elementary 1511115403 1024x682.jpg Panduan Memilih Sekolah Anak menurut pakar psikologi

aditiotantra / Pixabay

Dari sisi sekolah, ada 3 hal yang harus Parents pertimbangkan sebelum memasukkan anak ke sekolah tersebut. Yakni:

  • Letak sekolah. Usahakan agar sekolah tidak terlalu jauh dari rumah, karena bisa menyulitkan anak. Waktu yang terbuang di jalan, melawan kemacetan, saat anak sekolah di tempat jauh dapat membuat anak kelelahan dan tidak fokus belajar.
  • Jam belajar. Orangtua juga harus mempertimbangkan kebutuhan anak untuk bermain dan istirahat. Jam belajar terlalu panjang bisa membuat anak stres, dan membuat prestasinya menurun.
  • Sistem pendidikan yang baik, akan membuat anak mencapai potensinya secara maksimal. Namun bila sebaliknya, anak malah akan terus-terusan belajar tanpa mencapai apapun. Pilih yang seimbang ya, Parents.

Artikel terkait: Kenali 4 macam kurikulum berikut ini, sebagai pertimbangan dalam memilih sekolah untuk anak

7. Dorong anak berprestasi di bidang yang ia kuasai

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2017/11/elementary 1511115574 1024x682.jpg Panduan Memilih Sekolah Anak menurut pakar psikologi

naomisuzu0803 / Pixabay

Seperti yang telah dibahas dalam poin sebelumnya, setiap anak memiliki kecerdasan di bidang berbeda.  Jika anak dipaksa berprestasi di bidang yang bukan keahliannya, ketika gagal ia bisa merasa dirinya tidak mampu. Padahal sebenarnya ia hanya belum mengembangkan keahliannya.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk mengetahui potensi kecerdasan anak sedini mungkin. Agar bisa mendorongnya meraih prestasi di bidang yang ia kuasai.

Bila anak memiliki prestasi sesuai kemampuannya, dia tidak akan merasa rendah diri jika memiliki kelemahan di bidang lain. Maksimalkan potensinya di bidang yang ia kuasai.

Misal, anak memiliki bakat dan kemampuan di bidang olahraga. Masukkan dia di sekolah yang memiliki kegiatan olahraga. Dan jangan merendahkannya hanya karena dia tidak mampu berprestasi di kelas. Puji dia akan prestasinya di bidang olahraga.

***

Semoga bermanfaat.

 

Baca juga:

Pertimbangan Dalam Memilih Sekolah Terbaik Untuk Anak – Negeri atau Swasta?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.