Ingin Coba Metode MPASI BLW Seperti Anak Ruben Onsu dan Sarwendah? Ini Caranya

lead image

Sering upload video MPASI dengan metode BLW (Baby Led Weaning), Thalia Putri Onsu menang Baby Socmed Kesayangan Award. Baca kisahnya dan bagaimana cara mereka memberikan MPASI dengan metode BLW.

Memasuki masa pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) tentu saja jadi masa indah dan penuh tantangan bagi setiap ibu selain masa menyusui. Menurut anjuran ilmu kesehatan pemberian MPASI paling baik dilakukan saat bayi telah berusia 6 bulan atau 180 hari.

Ada beberapa metode pemberian MPASI di antaranya metode  WHO, food combining dan Baby Led Weaning. Setiap metode MPASI ini memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Metode food combining belakangan sudah tidak disarankan lagi.

Cara ketiga, Baby Led Weaning (BLW) dipilih oleh pasangan artis Sarwendah dan Ruben Onsu untuk putri pertama mereka Thalia Putri Onsu.

Apa itu BLW untuk pemberian MPASI?

Dalam metode pemberian MPASI BLW, bayi diberikan kepercayaan untuk menyuap makanannya sendiri. Orangtua tinggal menyiapkan makanan yang terdiri dari karbohidrat, protein, dan serat dalam bentuk yang mudah dipegang dan dicerna bayi.

Seperti yang dilakukan Sarwendah untuk putri pertamanya, Thalia ini. Menu BLW yang diberi Sarwendah sangat beragam seperti kentang kukus, salmon, buncis rebus, buah pepaya, strawberry, tempe, buah naga, alpukat, dll.

Namun untuk makanan yang sulit digenggam seperti kacang hijau Sarwendah tetap menyuapi Thalia.

Apa kelebihan dan kekurangan metode BLW?

Pemberian MPASI dengan metode BLW ini tentu dapat melatih kemampuan motorik halus bayi dengan latihan menggenggam dan menyuap sendiri makanan. Selain itu metode ini juga mengajarkan bayi lihai mengunyah dengan gusinya.

Di sisi lain sang ibu tentu terbantu melakukan pekerjaan rumah dengan efektif karena tak perlu menyuapi bayi. Meski, ibu tetap harus memperhatikan bayinya saat makan dengan metode BLW dan harus sigap menambah makanan ketika yang tersedia di kursi makan habis dilahap sikecil.

Lalu apa kekurangannya?

Sebagian ibu khawatir bayinya tidak dapat nutrisi yang cukup sesuai dengan kebutuhannya jika makan dengan metode ini. Namun ada pendapat yang mengatakan bayi memiliki insting sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Mereka akan terus memakan makanan yang ada dihadapannya jika masih merasa lapar, dan akan berhenti sendirinya jika sudah merasa kenyang.

Argumen lain mengatakan, masa MPASI , saat anak berusia dibawah satu tahun masih merupakan masa belajar makan bagi bayi. Kebutuhan bayi akan makanan padat masih sekitar 30 persen. Sementara 70 persen sisanya masih dicukupi dengan pemberian ASI. Jadi ibu tak perlu khawatir bayi kekurangan nutrisi selama pemberian ASI masih mencukupi.

Kekurangan lain yang pasti adalah, berantakan. Ya, karena bayi dibiarkan makan sendiri tentu berisiko ceceran makanan beterbangan kemana-mana.

Namun istri Ruben Onsu ini mengantisipasinya dengan menggunakan celemek makan khusus bayi yang terbuat dari plastik dan memiliki kantung penampung sisa makanan. Selain itu karena bayi makan di kursi makan, maka area yang akan dikotori bayi juga tidak terlalu luas.

Penasaran? Lihat salah satu videonya berikut ini.

A video posted by Sarwendah29 (@sarwendah29) on

Lucu dan menggemaskan bukan?

Menang Baby Socmed Kesayangan

Hampir setiap hari, Sarwendah, mengunggah video dan foto Thalia, baik saat sarapan, makan siang maupun malam di akun instagramnya @sarwendah29. Ini pula yang mendukung Thalia memenangkan Baby Socmed Award yang diselenggarkan sebuah televisi swasta beberapa waktu lalu.

A photo posted by Sarwendah29 (@sarwendah29) on

Selamat ya, Thalia!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.