Di Balik Ketegaran Seorang Istri yang Menulis Surat “Halo Selingkuhan Suami Saya”

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Wanita selingkuhan suaminya datang dan perlahan pernikahannya hancur tak dapat dipertahankan lagi. Hatinya perih, namun ia menolak untuk terpuruk karenanya.

Perselingkuhan memang jadi momok menakutkan dalam pernikahan. Hadirnya orang ketiga sebagai wanita selingkuhan suami memang bisa membuat hati istri manapun runtuh, namun hidup harus terus berjalan.

Ary Yogeswary menunjukkan ketegaran tersebut. Ia membuktikan bahwa badai apapun yang menerpanya tak akan membuatnya jatuh. Ia siap berlari lagi dan berdiri tegak, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya memang jadi luka tersendiri di hatinya. Walau begitu, ia mencari cara untuk bisa terus tegak dan berdiri di kakinya sendiri dan ia memastikan bahwa dirinya berhak untuk bahagia, bagaimanapun caranya.

Untuk mengobati luka, ia menjadikan kegiatan menulis sebagai terapi ampuh agar nyala pikirannya tetap dapat menerangi lorong hidup yang sempat memadam. Kini, pijarnya tak hanya dapat menguatkan dirinya sendiri, melainkan para wanita yang mengalami hal serupa dengannya.

Dari sekian banyak tulisannya di blog, ada satu tulisan khusus yang didedikasikan untuk wanita selingkuhan suaminya. Tulisan ini tidak ditujukan untuk mempermalukan wanita selingkuhan suaminya tersebut, melainkan sebagai pelajaran bagi perempuan lain agar lebih pengertian pada sesamanya.

Berikut tulisan yang sempat viral tersebut:

Halo Mbak yang memacari suami saya. Nggak risih gitu Mbak?

Santai Mbak, saya nggak berusaha nge-judge Mbak kok, apalagi merebut kembali mantan suami saya. Dia boleh buat Mbak kok, saya rela. Saya menulis ini buat Mbak-mbak yang lain yang sedang atau berpikiran untuk memacari pasangan orang.

Selingkuh itu mahal lho.

Buat saya yang diselingkuhi, kisah asmara kalian membuat saya rugi:

  • 1588 hari bersamanya. Ini jumlah hari saya bersama mantan suami, dari kami pertama bertemu sampai saat saya pergi dari rumah
  • 216 weekend bersama anak-anaknya. Ini kurang lebih jumlah weekend plus hari libur yang kami habiskan bersama anak-anaknya.
  • 5 hari ulang tahun, 4 hari natal, 5 hari Ayah, 3 Thanksgiving.
  • Sekian banyak mainan, buku cerita, baju, tiket nonton/game, bentuk-bentuk hadiah atau hiburan lainnya untuk dia dan anak-anaknya.
  • Sekian banyak amarah, kesedihan, frustasi, tangisan yang saya alami, serta yang dia alami dan berusaha saya bantu tanggung
  • Karir saya, karena saya berhenti kerja demi persiapan pindah untuk bersamanya
  • Keluarga dan teman-teman saya, yang juga harus saya tinggalkan
  • Umur saya, yang jelas nggak bertambah muda
  • Pasangan saya adalah investasi saya untuk masa depan yang saya rawat dengan baik dan benar, dan Mbak dengan sukses menjebolnya. Bangga Mbak?
    Iya, Mbak tahunya dari mantan suami saya bahwa saya tidak cinta lagi sama dia, bahwa hubungan kami sudah tidak terselamatkan, bahwa kami akan bercerai. Mbak jelas nggak tahu kalau:
  • Saat kalian bertemu saya yang membelikan tiket pergi ke kota Mbak, karena saya takut dia sebagai orang asing ditipu di negara orang
  • Saya sibuk dag dig dug berharap dia baik-baik saja karena jarang dengar kabar dari dia saat seminggu dia di kota Mbak, alasannya sih ga dapat sinyal
  • Keluarga saya yang walaupun nggak mengerti kenapa dia pulang kampung tanpa saya tetap menyambutnya dengan hangat
  • Saya mengirimkan bunga ke makam ibunya untuk Hari Ibu plus bunga untuk ibu-ibu anak-anaknya, saat dia asyik masyuk dengan Mbak di negara asal saya.
  • Sebelum dia pergi untuk liburan (baca: selingkuh) dan sampai saya minta cerai, saya masih tinggal serumah dengannya, masih menjalankan hubungan suami istri normal; walaupun dia bilang ke Mbak saya hanya datang untuk minta ‘jatah’.
  • Setelah kalian ‘berteman’ di Facebook (yang saya nggak tahu), saya masih: membawa dia kencan ke resto cihui untuk merayakan hari jadi kami, menyiapkan kukis ulang tahun untuknya, sampai membelikan hadiah Hari Ayah untuk dia dan anaknya plus dinner seru lengkap dengan penari Samba. Yang Hari Ayah ekstra spesial karena 3 hari sebelumnya saya menemukan bukti perselingkuhan kalian.

Kebayang nggak Mbak jadi saya? Kebayang nggak saya menemukan “Baby I miss you” di Facebook dia? Kebayang nggak saya membaca “I love your son” dari Mbak? Saya lho Mbak yang disitu bersama dia, yang mengeloni anak-anaknya, dan Mbak nggak ada angin nggak hujan bisa dengan entengnya bilang ‘Love your son’.

Kebayang nggak saya yang mati-matian minta dia melepas Mbak, berusaha mengingatkan soal anak-anaknya? Kebayang nggak anak-anaknya yang bingung karena ibu tirinya mendadak hilang, dan tiba-tiba ada yang baru dijejalkan ke mereka?

Ini hasil selingkuhan Mbak. Ini keluarga yang hancur karena pilihan Mbak. Puas, Mbak?

Iya sih setelahnya Mbak minta maaf ke saya, tapi kok Mbak nggak mikir sih saat Mbak belum ketahuan? Buat apa sih memangnya, Mbak? Nggak malu gitu?

Jangan pakai alasan Mbak masih kecil, Mbak ditipu mantan suami saya dan sebagainya. Sebagai penulis tulisan saya bisa dibaca publik, Mbak bahkan nggak perlu repot stalking saya untuk tahu siapa saya. Kalaupun nggak ada info tentang saya, Mbak bisa dong berpikir dari pihak perempuan, bagaimana rasanya kalau terjadi pada Mbak.

Bedanya saya dengan Mbak adalah, saat ketahuan Mbak berujar: “Kenapa dia bisa tahu tentang saya?”, kalau saya akan berujar: “Kok dia bisa baru tahu tentang saya?”.

Ketahuan kan mana yang lebih superior?

Dan ini adalah sesuatu yang akan dibawa sampai seterusnya lho Mbak: cap perusak rumah tangga orang, cap perempuan rendahan. Orang-orang yang tahu cerita aslinya akan melihat Mbak dengan rendah, dan ini termasuk keluarga dan teman dekatnya.

Yang nggak tahu tapi kepo dan berhasil menemukan blog saya bisa membaca artikel-artikel mengenai perceraian saya yang saya tulis sebagai bentuk terapi. Dan seringkali ya Mbak, nggak penting siapa yang benar, yang penting siapa yang berbuat skandal.

Walau Mbak selingkuh atas nama cinta, tetap saja selingkuh dan lidah akan bergoyang. Nggak selingkuh pun kita wanita perlu menjadi benar-benar super untuk mengalahkan bayangan si mantan pacar/istri, apalagi selingkuh.

Buat [para] Mbak yang sudah terlanjur di dalamnya, tulisan ini mungkin percuma.

Tapi buat Mbak-mbak yang lain yang berniat, dipikir lagi deh.

Apa iya menghancurkan perasaan wanita lain (dan sebuah keluarga) itu seharga cinta yang akan anda dapatkan? Apa iya rasa malu dan hinaan orang lain seharga cinta tersebut? Kalau benar cinta kan nggak kemana, dan bisa menunggu sampai si dia benar-benar single (putus/cerai dari pasangannya).

Apalagi yang pasangannya track recordnya doyan selingkuh. Rugi kan, sudah dosa karena berbohong dan melukai perasaan orang lain, seumur hidup dicap perempuan nggak benar, eh hubungannya nggak bertahan juga. Menuntut kepastian demi harga diri kalian itu jauh lebih baik lho, Mbak-mbak sekalian.

Kata orang urusan begini jangan diumbar, tapi buat saya ini penting.

Biasanya kita hanya tahu “Si A dan Si B bercerai karena si A selingkuh,” tapi tidak ada yang tahu detail yang terjadi saat itu. Ini yang sebenarnya terjadi saat anda memutuskan berselingkuh.

Akan ada orang-orang yang hanya membaca berita ini sebagai skandal sensasional, tapi akan ada, dan ini target saya sebenarnya, orang-orang yang membaca ini dan bisa mengerti mengapa selingkuh itu salah. Orang-orang ini akan mengedepankan harga diri mereka dan bilang ‘tidak’ pada tawaran selingkuh, baik pria maupun wanita, dan akan mengingatkan anak-anak mereka untuk tidak berselingkuh, terutama anak gadis.

Kenapa? Karena kita perempuan yang paling terlihat jelek saat berselingkuh.

Balik lagi ke Mbak tersayang, selamat dan semoga hidup Mbak bahagia. Terlepas dari semua kepahitan saya, saya membuang seorang suami yang tidak setia dan hidup single dengan ceria. Walau di negara orang, saya mampu mencapai kebebasan finansial (baca: hidup kere tapi asyik) sambil menikmati lirikan-lirikan dari para pria tampan disini.

Bisa kok meraih kebahagiaan tanpa bantuan orang lain, dan jelas tanpa merebut kebahagiaan orang lain.

Sukses ya Mbak, perjuanganmu masih panjang dan berat. Berjuanglah!!

*Update*

Saat ini (6 am 7 Maret 2017, waktu Los Angeles) artikel ini sudah hampir 21k dibaca. Whoaaaa!!! Terima kasih banyak atas semua dukungannya!!!! Kalau boleh aku mau nambahin:

  1. Artikel ini bukan untuk ‘menyerang’ si Mbak, tapi untuk memberitahu dan menguatkan para pembaca diluar sana. Jadi nggak usah penasaran kayak gimana sih mantan suami dan si mbak hihihi. Kalau tujuan saya jahat saya kasi semua link sosmednya dari awal ;).
  2. Saya juga ga ngulik ‘Kenapa’ atau alasan mereka, karena tiap orang punya alasan masing-masing dan karena kita nggak di posisi mereka kita nggak bisa ngejudge. Jadi please jangan ngejudge :*.
  3. In fairness, si Mbak ini sudah minta maaf dan menawarkan mundur, tapi saat itu saya sudah babak belur dan ga bisa lagi (secara nurani) untuk menerima suami saya kembali. Saya tetap menghargai usaha dia untuk memperbaikinya 🙂

Jadiiii…. Mari kita perlakukan tulisan ini sebagai mana tujuan aslinya: untuk menginfokan dan menguatkan. Nggak usah bawa-bawa yang lain oceee. Love you all!

Tegar dan berusaha tetap maju

Ary bersama mantan suami dan anak-anak tirinya. Doc pribadi

Ary bersama mantan suami dan anak-anak tirinya. Doc pribadi

Selain menulis, Ary mengobati keperihan hatinya dengan berbagai kegiatan positif yang dapat menghibur hatinya. Beruntung bahwa Los Angeles memiliki berbagai pilihan hiburan yang terjangkau. Ia aktif ikut berbagai grup pertemuan dengan beragam aktivitas.

“Saya sebelumnya cukup pemalu, namun setelah perceraian saya memaksakan diri untuk bergaul dan mencari teman. Tambah lagi posisi saya sendirian di Los Angeles, jadi penting untuk punya teman bilamana ada keadaan emergensi,” tutur Ary lewat email pada penulis theAsianParent.

Baca juga: Jenis perselingkuhan yang mungkin sudah dilakukan pasangan Anda.

Beruntungnya lagi, mengurusi perceraian di negara bagian California tidak seribet perceraian di Indonesia. Ditambah, dari pernikahan tersebut tidak ada anak biologis yang hadir dan hutang ia serta mantan suami jumlahnya sangat minim.

“Perceraian di sini cukup dengan mengisi formulir, menyiapkan berkas pajak, lalu menyerahkannya ke pengadilan. 6 bulan kemudian surat cerai keluar tanpa sidang. Saya yang mencari tahu bagaimana caranya, dan formulir terisi dalam waktu 1 jam saja,” urainya.

Sebelum menikah dengannya, mantan suami adalah duda dengan dua orang anak dengan dari dua ibu yang berbeda. Sebagai ibu tiri baru untuk anak-anak suami, ia menyayangi mereka seperti anak sendiri.

Secara jujur, ia mengakui bahwa saat ini Ary sangat memikirkan psikologis anak-anak tirinya atas perceraiannya dengan suami, “Sekalipun aku ini ibu tiri dan hak asuh anak masih berada di kedua ibu mereka. Saya menyayangkan komunikasi yang terputus dengan mereka berdua,”

Usia kedua anak tirinya tersebut adalah 5 dan 9 tahun. Bahkan, ia mengetahui bahwa kadang-kadang, anak-anak tirinya masih bertanya tentang dirinya, “tampaknya mereka masih bingung dan shock. Karena baru 9 bulan yang lalu ibu tiri mereka menghilang dan sekarang sudah dipaksakan ada yang baru,” sesalnya.

Agar menjadi pelajaran bagi semua pihak, ia berharap bahwa para wanita tahu kapan harus mengakhiri hubungan yang tidak sehat. Sendiri itu lebih baik daripada disakiti.

Saya rasa yang paling penting adalah melihat siapa diri kita sebenarnya dan apa yang kita inginkan untuk diri kita. Jangan takut menjadi sendiri bilamana dirasakan perselingkuhan ini menyakiti anda dan mempengaruhi harga diri Anda,” pesannya.

Ia memahami bahwa di luar sana ada banyak wanita yang memilih bertahan pada pernikahan yang tidak sehat demi anak-anak. Namun, ia punya pendapat berbeda di sini, “alasan untuk anak harus dipikirkan baik-baik, karena anak-anak sangat peka. Waktu saya kecil mendengar orang tua saya bertengkar rasanya dunia kiamat. Walau hanya bertemu saat weekend pun anak tiri saya tahu kalau saya sedih.”

Sebagai pengingat, ia juga meminta para wanita untuk memikirkan apakah bertahan dalam pernikahan yang bernuansa ‘racun’ akan membantu anak, atau justru akan merusaknya.

Co-parenting tanpa pernikahan itu bisa dicapai kok. Karena saat menikah saya hitungannya co-parenting dengan dua wanita lain (dua anak dari dua ibu berbeda) plus dengan mantan suami saya. Sampai sekarang pihak keluarga ibu-ibu ini masih berhubungan baik dengan saya.”

Baca juga: Alasan mengapa wanita bertahan dalam pernikahan sekalipun tahu bahwa suami selingkuh.

Selain soal anak, persoalan yang membuat wanita bertahan dengan hubungan yang tidak sehat adalah soal keuangan. Maka dari itu, Ary berharap sejak awal para wanita sebaiknya memiliki kemandirian finansial karena persoalan ekonomi akan jadi masalah yang sangat besar dalam pernikahan.

“Faktor ekonomi jelas mempengaruhi. Inilah kenapa kemandirian finansial sangat penting bagi wanita dan harus menjadi gol utama kita. Jangan takut untuk punya rekening bank sendiri, anggap itu untuk anak Anda kelak,” tegasnya.

Baca juga: Mengapa seseorang berselingkuh sekalipun pernikahannya bahagia?

Ia bercerita bahwa saat perceraian terjadi, ia baru bekerja selama 1 tahun. Gajinya pun hanya sedikit diatas UMR. Beruntungnya, perencanaan keuangannya bagus sehingga ia punya cukup dana saat memilih untuk ‘pergi’.

“Inilah kenapa saat ini saya juga bekerja sebagai financial service agent, untuk membantu para wanita-wanita Indonesia di sini (Los Angeles –red) untuk memiliki opsi seperti saya. Kondisi finansial akan membuat pernikahan Anda jadi baik atau justru sebaliknya, akan merusak hubungan Anda dengan suami.”

Menguatkan perempuan yang lain membantunya untuk memperkuat diri sendiri. Maka dari itu, dengan langkah yang mantap, alih-alih tenggelam dalam kesedihan, ia justru membantu perempuan lain untuk bangkit dari keterpurukan paska perselingkuhan maupun perceraian.

Ia berharap, para wanita mengambil pelajaran berharga darinya. Ia masih akan menulis untuk berbagi kisah dan menguatkan sesama.

Semoga suatu hari, para wanita bisa saling menguatkan. Bukan menyakiti, apalagi menjatuhkan.

 

Baca juga:

Curahan Hati Seorang Wanita, “Suamiku Selingkuh Ketika Aku Sedang Hamil…”

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kisah Mengharukan