TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Penelitian: Kematian Orangtua Bisa Memicu Anak Bunuh Diri

Bacaan 3 menit
Penelitian: Kematian Orangtua Bisa Memicu Anak Bunuh Diri

Sebuah penelitian tahun 2015 mengungkap bahwa kematian orangtua saat anak masih kecil bisa memicu perilaku bunuh diri ketika sang anak dewasa.

Kematian orangtua tidak hanya membuat anak sedih dan berduka, tapi juga bisa memicu kecenderungan anak untuk melakukan bunuh diri.

Hal ini dikemukakan oleh sebuah penelitian yang dilakukan di Denmark dan dipublikasikan di Jurnal PLOS Medicine di tahun 2015. Studi ini menemukan kaitan antara kematian orangtua di masa kecil anak dengan kecenderungan mereka melakukan bunuh diri saat dewasa.

Dampak kematian orangtua terhadap anak

Kecenderungan ini tidak ditemukan pada anak-anak yang orangtuanya tetap hidup hingga mereka berusia 18-20 tahun. Awalnya, para peneliti menemukan fakta bahwa anak yang kehilangan orangtuanya karena kematian, mereka cenderung akan meninggal 40 tahun kemudian, dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya tetap hidup hingga mereka berusia 18 tahun.

Ketika tim peneliti menggali lebih dalam data penelitian mereka, ternyata sebagian alasan mereka meninggal adalah karena bunuh diri. Hanya sekitar 4% dari anak yang diteliti yang bisa hidup dan beradaptasi dengan kehilangan orangtuanya di masa kanak-kanak.

Jumlah orang yang bunuh diri pada masa dewasanya memang kecil namun signifikan. Studi yang dilakukan di Universitas Aarhus melihat data pemerintah dari 7,3 juta anak dari Denmark, Swedia dan Finlandia.

Mereka menemukan sejumlah 189,094 anak kehilangan orangtua mereka sebelum berusia 18 tahun.

Data ini kemudian dikomparasi dengan 1,8 juta anak yang melewati masa kecil hingga dewasa dengan kedua orangtuanya tetap hidup mendampingi. Peneliti mengikuti dampak kehadiran dan kematian orangtua ini di kedua kelompok data selama 40 tahun.

Artikel terkait: Didoktrin Orang Tua, Anak Usia 7 dan Tahun Menjadi Pelaku Bom Bunuh Diri

Anak-anak yang kehilangan orangtuanya karena kematian memiliki risiko dua kali lebih besar untuk melakukan bunuh diri, terutama anak lelaki. Studi ini memang hanya melihat data dan tidak memasukkan faktor seperti genetis, lingkaran sosial, juga gaya hidup keluarga.

Namun hasil dari studi ini menguatkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Universitas Pittsburgh di tahun 2008. Penelitian yang dipublikasikan secara online di Science Daily ini menemukan fakta bahwa anak-anak yang orangtuanya meninggal secara mendadak memiliki risiko tinggi terkena depresi atau PTSD (Kelainan Stres Pasca Trauma).

Artikel Terkait: Parents, Kenali Perbedaan Stres dan Penyakit Mental Gangguan Kecemasan pada Anak Ini

Anak yang orangtuanya meninggal harus mendapatkan terapi

Para peneliti di Denmark menyimpulkan pada kasus anak yang kehilangan orangtuanya karena kematian, sebaiknya mereka diberikan terapi meskipun kelihatannya mereka baik-baik saja.

“Penelitian kami menegaskan adanya penurunan tingkat stres dan risiko bunuh diri yang lebih rendah, pada anak-anak yang kehilangan orangtuanya karena meninggal.”

Penelitian ini dilakukan di negara yang memiliki akses kesehatan dan layanan sosial yang mudah. Situasi yang lebih buruk bisa terjadi pada anak-anak di negara lain dimana akses kesehatan dan layanan sosialnya tidak terlalu banyak.

Kita tidak pernah tahu kapan kematian datang menjemput. Oleh sebab itu luangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk anak kita agar mereka memiliki kenangan indah bersama kita setelah kita tiada.

Selain itu, menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat dan olahraga juga bisa mencegah kematian yang bersumber dari penyakit karena gaya hidup. Sayangi diri Anda, demi keluarga dan anak-anak Anda.

 

Baca juga:

Orangtua Bunuh Diri adalah Tindakan Egois yang Berdampak Negatif pada Anak

Cerita mitra kami
Rekomendasi Layanan Profesional yang Membantu Ibu Mengelola Rumah & Anak di 2026
Rekomendasi Layanan Profesional yang Membantu Ibu Mengelola Rumah & Anak di 2026
Wajib Tahu! Ini Mitos dan Fakta Makanan Peningkat Kecerdasan Menurut Dokter Anak
Wajib Tahu! Ini Mitos dan Fakta Makanan Peningkat Kecerdasan Menurut Dokter Anak
Asma Anak Tiba-tiba Kambuh? Ingat, Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital
Asma Anak Tiba-tiba Kambuh? Ingat, Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital
Pediatric Emergency Mayapada Hospital Siaga 24 Jam Tangani Kondisi Gawat Darurat Anak
Pediatric Emergency Mayapada Hospital Siaga 24 Jam Tangani Kondisi Gawat Darurat Anak

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Fitriyani

  • Halaman Depan
  • /
  • Info Sehat
  • /
  • Penelitian: Kematian Orangtua Bisa Memicu Anak Bunuh Diri
Bagikan:
  • Cara Memijat Payudara agar Cepat Membesar yang Aman Dilakukan

    Cara Memijat Payudara agar Cepat Membesar yang Aman Dilakukan

  • Apakah Bisa Hamil Jika Sperma Tidak Keluar di Dalam? Ini Penjelasannya!

    Apakah Bisa Hamil Jika Sperma Tidak Keluar di Dalam? Ini Penjelasannya!

  • 11 Minuman yang Mengandung Asam Folat Alami, Bagus untuk Bumil!

    11 Minuman yang Mengandung Asam Folat Alami, Bagus untuk Bumil!

  • Cara Memijat Payudara agar Cepat Membesar yang Aman Dilakukan

    Cara Memijat Payudara agar Cepat Membesar yang Aman Dilakukan

  • Apakah Bisa Hamil Jika Sperma Tidak Keluar di Dalam? Ini Penjelasannya!

    Apakah Bisa Hamil Jika Sperma Tidak Keluar di Dalam? Ini Penjelasannya!

  • 11 Minuman yang Mengandung Asam Folat Alami, Bagus untuk Bumil!

    11 Minuman yang Mengandung Asam Folat Alami, Bagus untuk Bumil!

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti