TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Ramadan MomTAP
  • Event
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Ramadan MomTAPRamadan MomTAP
  • EventEvent
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Mengapa Kemampuan Belajar Siswa Sekolah Dasar di Indonesia Buruk?

Bacaan 3 menit
Mengapa Kemampuan Belajar Siswa Sekolah Dasar di Indonesia Buruk?

Dalam seminar pendidikan yang diadakan Desember 2016, pemerintah menyatakan bahwa kemampuan nalar siswa rendah di Indonesia, dibandingkan dengan negara lain.

Hasil penilaian tentang efektifitas pendidikan sekolah dasar di Indonesia, belum bisa memberikan hasil yang memuaskan. Kemampuan nalar siswa rendah, meski jam pelajaran SD di negeri ini lebih banyak dibanding negara lain.

Sebagai perbandingan, dalam satu tahun, Indonesia memberlakukan 1.095 jam pelajaran. Sedangkan Korea Selatan hanya 903 jam pelajaran per tahun.

Di Jepang lebih sedikit lagi, mereka hanya memberlakukan 712 jam pelajaran per tahun. Dan hasil penilaian pendidikan mereka berada di peringkat atas dunia.

Artikel terkait: 3 Faktor yang Membentuk Kemandirian Anak-Anak Sekolah di Jepang

Hal ini disampaikan pada Seminar Hasil Penilaian Pendidikan untuk Kebijakan yang dilaksanakan oleh Kemendikbud, pada tanggal 14 Desember 2016 lalu. Seminar ini dihadiri oleh perwakilan dari dinas Pendidikan, perguruan tinggi dan juga sekolah.

Nizam, Kepala Puspendik mengungkapkan, pembelajaran di sekolah yang menggunakan sistem ulangan harian dan ujian sekolah, tidak mengasah nalar siswa. Ujian nasional juga terlalu banyak ditempeli beban, sehingga kemampuan nalar siswa yang rendah tidak bisa dihindari.

“Siswa Indonesia bagus dalam mengerjakan soal yang bersifat hafalan. Namun dalam pelajaran yang menuntut nalar dan aplikasi, itu masih rendah,” ujar Nizam seperti dikutip dari Kompas.

Kemampuan nalar siswa rendah

Nizam menambahkan bahwa selama ini pembelajaran yang ada bukan untuk menguasai pengetahuan, tetapi membangun kompetensi. Padahal, di masa sekarang sangat dibutuhkan kemampuan dalam berpikir kritis, kreatif, komunikasi, kolaborasi dan karakter. Literasi dasar seperti Sains, Matematika, Membaca dan Teknologi juga harus dikuasai.

Hasil penilaian ini juga menunjukkan adanya masalah mendasar yang harus diatasi, diantaranya ialah kemampuan tenaga pengajar. Para guru seringkali tidak bisa memecahkan soal yang sulit dikerjakan oleh siswa. Manajemen sekolah dan peran keluarga juga harus diperbaiki agar permasalahan pendidikan ini bisa diatasi.

Pada tahun 2015, Indonesia mengikutkan kelas IV SD dalam TIMSS (Trends International Mathematics and Science Study). Sebuah survey yang diselenggarakan 4 tahun sekali oleh International Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA).

TIMSS yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan pembelajaran siswa dalam matematika dan sains, menguji kemampuan siswa kelas IV SD dan kelas VIII SMP. Hasil TIMSS 2015 untuk Indonesia masih menunjukan kemampuan nalar siswa rendah.

Skor Matematika 379, yang membuat Indonesia berada di urutan ke-45 dari 50 negara. Di bidang Sains, Indonesia juga memiliki skor 397, sehingga menempati urutan ke-45 dari 48 negara. Kemampuan nalar dengan menggunakan data tabel atau grafik juga hanya 4%.

Rahmawati, Peneliti dari Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), mengatakan, “Kemampuan siswa bisa dioptimalkan jika dibiasakan dan menjadi rutinitas. Dengan menyertakan contoh yang dekat dengan konteks keseharian mereka, sehingga mudah dimengerti,”

“Jika dituntut untuk membuat interpretasi dan sumber yang tidak dekat konteksnya dengan mereka, siswa mengalami kesulitan. Sehingga tidak bisa membuat kesimpulan,” tambahnya.

Rahmawati juga mengatakan, bahwa pihaknya telah mulai mengadakan pelatihan pada guru, dengan tujuan agar bisa mendorong siswa untuk lebih aktif bertanya. Pelatihan ini juga bertujuan agar para guru bisa membuat soal yang membutuhkan kemampuan nalar tinggi, agar terbiasa berpikir di kelas bersama siswa.

Rahmah Zulaiha, yang juga seorang peneliti di Puspendik memaparkan bahwa dari hasil Penilaian Mutu Tingkat Kompetensi, kemampuan nalar siswa rendah. Karena itu, siswa harus mulai dibiasakan berlatih dengan alat peraga, dan guru juga harus bisa mengembangkan metode pembelajaran yang menuntut kemampuan bernalar dengan lebih baik.

Peran serta orangtua, tentunya juga dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan nalar para siswa. Mari jadi orangtua yang aktif menemani anaknya belajar, dan tidak hanya bergantung pada pembelajaran di sekolah saja.

Semoga bermanfaat.

 

Baca juga:

Memahami Cara Anak Usia Sekolah Memecahkan Masalah

Cerita mitra kami
Bukan Belajar Komputer, Ini Lima Aktivitas Seru untuk Mengenalkan Keterampilan Berpikir Komputasional pada Anak
Bukan Belajar Komputer, Ini Lima Aktivitas Seru untuk Mengenalkan Keterampilan Berpikir Komputasional pada Anak
8 Rahasia Agar Anak Cerdas
8 Rahasia Agar Anak Cerdas
8 Eksperimen Sains Sederhana yang Dapat Dilakukan Anak dan Orang Tua di Rumah
8 Eksperimen Sains Sederhana yang Dapat Dilakukan Anak dan Orang Tua di Rumah
10 Kiat Mendidik Anak Berbakat di Sekolah, Wawasan Orang Tua Penting
10 Kiat Mendidik Anak Berbakat di Sekolah, Wawasan Orang Tua Penting

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Fitriyani

  • Halaman Depan
  • /
  • Prasekolah
  • /
  • Mengapa Kemampuan Belajar Siswa Sekolah Dasar di Indonesia Buruk?
Bagikan:
  • 7 Ciri-Ciri Anak Sedih dan Tidak Bahagia, Cek Sekarang!

    7 Ciri-Ciri Anak Sedih dan Tidak Bahagia, Cek Sekarang!

  • 7 Ciri-ciri Anak Jenius atau Gifted Child, Si Kecil Salah Satunya? Cek!

    7 Ciri-ciri Anak Jenius atau Gifted Child, Si Kecil Salah Satunya? Cek!

  • 10 Ciri-Ciri Anak Punya Sifat Baik yang Terlihat saat Balita, Cek!

    10 Ciri-Ciri Anak Punya Sifat Baik yang Terlihat saat Balita, Cek!

  • 7 Ciri-Ciri Anak Sedih dan Tidak Bahagia, Cek Sekarang!

    7 Ciri-Ciri Anak Sedih dan Tidak Bahagia, Cek Sekarang!

  • 7 Ciri-ciri Anak Jenius atau Gifted Child, Si Kecil Salah Satunya? Cek!

    7 Ciri-ciri Anak Jenius atau Gifted Child, Si Kecil Salah Satunya? Cek!

  • 10 Ciri-Ciri Anak Punya Sifat Baik yang Terlihat saat Balita, Cek!

    10 Ciri-Ciri Anak Punya Sifat Baik yang Terlihat saat Balita, Cek!

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti