Keluarga Rohingya ini Mengemis di Kuala Lumpur demi Obati Anaknya

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Keluarga Rohingya ini rela mengemis di terminal untuk cari dana operasi anaknya. Setelah ditelusuri, ternyata ada hal yang disembunyikan di baliknya.

Satu keluarga Rohingya Myanmar terpaksa mengemis di Kuala Lumpur Malaysia. Hal itu dilakukan demi mendapatkan pengobatan untuk anak mereka yang terkena hidrosefalus.

Mereka datang ke Kuala Lumpur pada tanggal 5 Juni 2017. Karena biaya rumah sakit yang tak terjangkau untuk keluarganya, akhirnya mereka terpaksa mengemis agar putra mereka yang berusia 11 bulan dapat segera dioperasi.

Mohamad Yasin Mohammed Rafique dideteksi memiliki penyakit hidrosefalus sejak berusia 5 bulan. Hidrosefalus adalah kondisi penumpukan cairan di dalam otak yang mengakibatkan meningkatnya tekanan pada otak.

Artikel terkait: Hidrosefalus: Penyebab, Gejala, dan Cara Menanganinya.

Selama berada di Kuala Lumpur, Omar Akhtar Mohammad Nur (18) tinggal di rumah kakak lelakinya yang tinggal di Kampung Cheras Baru. Kakaknya lelaki bernama Mohammad Zubair Mohammad Nur (24) pun tinggal bersama dua adik lelakinya yang berusia 8 dan 6 tahun.

Demi menjalani operasi yang berlangsung pada 3 Juli 2017 ini, mereka mulai mengemis di Terminal Bersepadu Selatan (TBS) Kuaala Lumpur. NST memberitakan bahwa uang muka pembayaran operasi harus segera dibayar pada tanggal 2 Juli 2017.

Sebagai uang muka, mereka harus membayar sebesar RM 9.800 atau sekitar Rp 30.564.007,00. Dokter sudah memberitahukan keluarga Baby Yasin, sekalipun operasi nantinya berhasil dilakukan, tumbuh kembang Yasin tidak akan sama seperti anak seusianya.

Zubair, paman Yasin bersikeras bahwa keponakannya harus menjalani operasi pengecilan kepala dengan mengeluarkan cairan di dalam kepalanya. Karena jika tidak, nyawa Yasin tidak akan dapat ditolong lagi.

Jika Yasin masih hidup pun, dalam kondisi seperti itu, ia tidak akan bisa berjalan dan bicara.

Lembaga internasional UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees atau Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi) pun ikut membantu setengah dari biaya operasi yang dibutuhkan Yasin karena keluarga mereka terdaftar sebagai imigran dari daerah yang sedang berkonflik. Biaya yang akan ditanggung kira-kira sebesar RM 20.000 atau sekitar Rp 62.382.637,00.

Awalnya, Yasin dirawat di Hospital Tengku Ampuan Afzan (HTAA), kemudian dipindahkan ke Hospital Kuala Lumpur (HKL) agar segera mendapatkan perawatan dari dokter spesialis.

Keluarga Rohingya ini berbohong?

Perhatian media dan solidaritas banyak orang untuk pengungsi Rohingya ini sejak awal sebenarnya sudah membuahkan hasil. Seorang relawan bernama Mary Ann Dennis yang menginisiasi penggalangan dana pun mengatakan bahwa sumbangan warga yang masuk dari gerakannya bernilai hingga RM 15.800 atau setara dengan Rp 49.271.701,00 sejak bulan Mei lalu.

Juru bicara HKL pun berkata bahwa Yasin tidak dalam kondisi yang mengancam nyawanya. Justru, rumah sakit ikut memberikan keringanan biaya hingga keluarga mereka tidak perlu membayar lagi.

NST pun memberikan update terbaru perkembangan kasus ini. Mary Ann menyatakan pada media bahwa ia heran dengan pernyataan keluarga Yasin mengenai kondisi medis dan ekonomi mereka karena segalanya sudah tercover sepenuhnya dengan donasi dan berbagai keringanan lain.

Ia mengenali bahwa foto yang tersebar sedang mengemis di terminal itu adalah ayah Yasin yang bekerja sebagai buruh pabrik. Ia semakin kaget bahwa di foto tersebut Yasin dibawa mengemis keluarganya padahal rumah sakit mewanti-wanti bahwa anak tersebut harus bed rest di rumah sebelum operasi karena selama 2 minggu sedang perawatan dengan antibiotik.

Namun, setelah Mary Ann mengkonfrontasi Zubair, ia berkata bahwa keluarga mereka membutuhkan banyak uang untuk hari raya Idulfitri sehingga terpaksa mengajak Yasin. Jawabannya membuat para donatur dan rumah sakit kecewa karena seharusnya aksi tersebut tak perlu membawa Yasin yang seharusnya beristirahat di rumah.

Hingga kini, kasus keluarga Rohingya ini masih terus mengalami perkembangan.

 

Baca juga:

Perjalanan Hidup Ryan: Malnutrisi di Panti, Sehat Setelah Diadopsi





Kisah Mengharukan