Parents, memaksa anak meminta maaf tak baik bagi perkembangan mentalnya

lead image

Orangtua mana yang tidak ingin memiliki anak yang mudah ucapkan kata maaf, lantaran ingin buah hatinya tidak perlu menyakiti orang lain. Anak hanya butuh belajar kapan dan bagaimana cara meminta maaf.

Orangtua mana yang tidak ingin memiliki anak yang mudah ucapkan kata maaf, terutama jika ia telah menyakiti orang lain. Namun, baikkah memaksa anak meminta maaf saat ia salah?

Memang benar, sikap dan ucapan meminta maaf tidak pernah memandang umur. Baik orangtua atau anak-anak, jika merasa dirinya salah maka sebaiknya meminta maaf. Tapi jangan sampai salah cara mengajarkannya pada anak ya, Parents!

Memaksa bukan solusi mengajari anak meminta maaf

Bagaimana jika si kecil tidak juga menyesal, malah semakin menjadi-jadi perilakunya, haruskah memaksa ia meminta maaf?

Melansir dari huffingtonpost.co.uk, penulis dan ahli parenting, Sarah Ockwell-Smith, menuturkan bahwa memaksa anak untuk mengatakan kata maaf bukan pilihan yang baik menurut para ahli. Karena menyebabkan anak tumbuh menjadi kurang bijaksana.

Anda justru mengenalkan kebohongan pada anak. Sebab anak tidak merasa menyesal, namun ia harus mengucapkan maaf dan menyesali perbuatannya.

Belum lagi rasa malu atau marah yang dirasakan anak ketika Anda memaksa anak meminta maaf di depan teman-temannya. Ini justru membuat anak Anda jauh dari rasa bersalah.

Lantas bagaimana cara efektif  mengajarkan anak meminta maaf?

Kata maaf berawal dari rasa empati yang tumbuh

Sebenarnya yang membuat anak-anak sulit untuk ucapkan kata maaf usai melakukan kesalahan, adalah karena mereka memiliki sudut pandang yang berbeda dengan kita, orang dewasa. Ya, mereka hanya belum paham dengan sudut pandang salah dan maaf yang sebenarnya.

Satu lagi, anak-anak umumnya belum memahami arti empati. Mereka belum bisa larut dalam perasaan orang lain. Anak Anda masih pakai kacamata kuda, hanya tahu bagaimana perasaannya saja.

Empati perlu Anda tanamkan pada anak Anda. Empati menjadi elemen penting dalam mengatakan kata maaf.

Anak yang sudah memahami empati, ia bisa merasakan apa yang orang lain rasakan ketika ia melakukan sesuatu pada orang tersebut. Misalnya menarik kursi, padahal Anda sedang ambil posisi duduk. Alhasil Anda terjatuh.

Si kecil baru bisa memahami bahwa Anda terjatuh karena kursi yang ia tarik sebagai lelucon. Apalagi jika anak Anda pernah melihat adegan serupa di televisi, yang selalu diikuti oleh tawa.

Anak Anda diam-diam belajar dari apa yang ia lihat. Lalu ia praktikan.

Padahal sebenarnya, jika si kecil bisa larut dalam perasaan Anda. Ia akan tahu Anda sedang merasakan sakit karena terjatuh. Lalu ia menyesal karena sudah membuat Anda sakit, kemudian lahirlah kata maaf dari bibir mungilnya.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2017/10/jangan memaksa anak meminta maaf 1.jpg Parents, memaksa anak meminta maaf tak baik bagi perkembangan mentalnya

Memaksa anak meminta maaf justru membuat ia malu dan belajar berbohong kelak.

Anak meminta maaf, dekatkan kata “maaf” pada hari-hari si kecil

Membiarkannya juga bukan pilihan yang tepat. Anda perlu mengenalkan bagaimana mengenalkan rasa bersalah, menyesal, dan sehingga anak meminta maaf tanpa perlu dipaksakan.

1. Beri contoh bagaimana merasa bersalah dan meminta maaf

Anak ibarat kain putih, ia butuh pengalaman hidup yang ia lihat dan dengar sendiri. Jadi sebelum Anda menegur anak yang enggan mengatakan maaf, sebaiknya berikan contoh kebiasaan meminta maaf.

Misalnya, ketika Anda tidak sengaja menumpahkan minuman pasangan Anda. Jangan ragu untuk meminta maaf kepada suami di depan si kecil.

Akan menjadi nilai plus, jika ada aksi mengambilkan minuman kembali sebagai bentuk permintaan maaf.

Dan, jangan pilih-pilih ungkapkan kata maaf. Jika Anda membuat anak Anda sedih, jangan sungkan untuk meminta maaf padanya. Dari sini anak akan belajar bahwa kata maaf bisa dilakukan oleh siapa saja.

2. Berikan alasan meminta maaf

Pada anak balita, pertanyaan “kenapa” selalu ada di kepalanya. Ketika Anda meminta maaf padanya, bisa jadi dia bertanya-tanya dalam hati.

Utarakan alasan Anda meminta maaf pada si kecil agar ia paham kenapa Anda meminta maaf. Ia sekaligus bisa belajar bahwa ia harus meminta maaf ketika melakukan sebuah kesalahan.

3. Gunakan bahasa tubuh pendukung kata maaf

Sebatas kata maaf tanpa ada penyesalan yang tulus, sama saja. Ungkapan maaf tak hanya sekadar bahasa verbal. Tapi juga termasuk bahasa nonverbal seperti salaman, pelukan, atau mengelus.

Lewat bahasa nonverbal, anak akan lebih mudah mengenal empati, serta ungkapan penyesalan Anda.

3. Ucapkan kata maaf di waktu yang tepat

Jika Anda melakukan kesalahan pada saat itu, segera ucapkan maaf pada saat itu juga. Hindari ucapkan maaf dalam selang waktu beberapa jam atau hari. Bisa-bisa anak Anda lupa dengan momen Anda melakukan kesalahan.

4. Kenalkan momen penyesalan lewat buku cerita

Jika gengsi si kecil masih tinggi, terkadang ucapan Anda kerap tak digubris. Coba temukan buku-buku cerita yang mengambil tema saling memaafkan.

Anak-anak akan lebih mudah menerima ilmu baru lewat aktivitas yang seru. Aktivitas membaca adalah salah satunya.

***

Mengajarkan sesuatu yang baru pada anak bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan berarti sulit, termasuk mengajarkan anak meminta maaf. Anda hanya butuh konsisten pada anak.

Satu lagi, jangan lupa berikan pujian pada anak Anda saat ia sudah berhasil merasa menyesal atas perbuatannya dan melontarkan kata maaf ya, Parents.

Semoga anak meminta maaf datang dari keinginannya sendiri.

 

Baca juga:

3 Gangguan emosi anak, hati-hati salah memberi label padanya!