Dampak Konsumsi Gula Berlebihan untuk Kesehatan Anak

Dampak Konsumsi Gula Berlebihan untuk Kesehatan Anak

Konsumsi gula yang berlebihan dapat membawa dampak buruk untuk tumbuh kembang anak. Simak penjelasan berikut.

Salah satu zat yang diperlukan tubuh agar bisa menghasilkan energi untuk beraktivitas adalah gula. Akan tetapi, orangtua perlu waspada bahwa konsumsi gula yang berlebihan dapat membawa dampak buruk untuk tumbuh kembang anak. 

Gula adalah struktur yang paling sederhana dari karbohidrat. Karbohidrat adalah salah satu sumber penghasil energi selain protein dan lemak.

Dilansir dari Kids Health, karbohidrat sendiri terbagi menjadi dua jenis umum, yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks.

Monosakarida dan disakarida sering disebut sebagai karbohidrat sederhana, yakni sumber energi yang dapat dicerna dengan mudah dan cepat oleh tubuh. Sementara polisakarida adalah karbohidrat kompleks yang membutuhkan waktu lebih lama dari karbohidrat sederhana untuk dicerna oleh tubuh.

Contoh dari monosakarida adalah glukosa dan fruktosa, disakarida adalah laktosa dan sukrosa, dan polisakarida adalah serat dan pati.

Glukosa, fruktosa, dan sukrosa adalah jenis gula yang terkandung di dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Sukrosa biasa kita temukan dalam bentuk gula meja atau gula pasir, yaitu karbohidrat yang terbentuk dari kombinasi glukosa dan fruktosa.

Dampak Buruk dari Sukrosa atau Gula untuk Kesehatan Anak

Dampak Konsumsi Gula Berlebihan untuk Kesehatan Anak

Sukrosa umumnya ditemukan pada tanaman tebu. Makanan atau minuman kemasan, termasuk susu, yang beredar di pasaran biasanya mengandung sukrosa sebagai pemanis tambahan.

Konsumsi sukrosa dalam batas wajar memang membantu tubuh untuk menghasilkan energi yang diperlukan. 

Namun perlu diingat bahwa konsumsi gula atau sukrosa yang berlebihan justru akan menimbulkan dampak buruk untuk kesehatan dan mengganggu tumbuh kembang anak.

Sukrosa dapat menyebabkan resiko karies dan konsumsi fruktosa dari gula tambahan dapat menyebabkan risiko diabetes, penyakit pembuluh darah, dan jantung saat dewasa nanti. 

Artikel terkait: Konsumsi Gula Berlebihan Bikin Anak Jadi Hiperaktif, Mitos atau Fakta?

Batas Konsumsi Gula Per Hari Pada Anak

Dampak Konsumsi Gula Berlebihan untuk Kesehatan Anak

World Health Organization (WHO) merekomendasikan asupan gula di bawah 10% dari asupan Total Energy Intake untuk mengurangi risiko penambahan berat badan yang tidak sehat dan karies gigi.

Sesuai dengan Permenkes Nomer 30 Tahun 2013  tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Serta Pesan Kesehatan pada Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, anjuran konsumsi gula adalah 10% dari total energi atau setara dengan 4 sendok makan (50gr) per orang per harinya.

Oleh karena itu, dalam memilih makanan atau minuman kemasan, orangtua sebaiknya mencermati tabel informasi nilai gizi yang tercetak pada kemasan. Pastikan konsumsi gula si kecil setiap harinya tidak berlebihan.

Artikel terkait: Selain diabetes, ini 5 penyakit akibat konsumsi gula berlebih!

Laktosa Sebagai Sumber Karbohidrat yang Lebih Sehat

gula berlebihan

Selain menerapkan batas wajar konsumsi gula yang tidak berlebihan, orangtua juga bisa mencari sumber karbohidrat alternatif lainnya yang lebih sehat dari sukrosa, salah satunya adalah Laktosa.

Laktosa adalah molekul gula besar yang terdiri dari dua molekul gula yang lebih kecil, glukosa dan galaktosa. Kita dapat menemukan laktosa terdapat pada beberapa jenis makanan seperti olahan gandum, olahan daging, minuman instan, alkohol, margarin, dan paling banyak ditemukan pada susu.

Menurut penelitian, konsumsi laktosa dapat mendorong pertumbuhan bakteri baik pada usus seperti Bifidobacterium bifidum dan Lactobacilli. Laktosa juga dapat menghambat beberapa jenis bakteri patogen dan endotoksin.

Manfaat laktosa lainnya pada kesehatan anak adalah meningkatkan resistensi terhadap infeksi usus pada anak-anak serta membantu memelihara flora usus yang sehat. 

Selain itu, laktosa membantu penyerapan dan retensi mineral seperti kalsium, magnesium, seng, dan mangan. Mineral-mineral tersebut sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak-anak yang sehat.

Laktosa memiliki indeks glikemik yang rendah dan hanya sekitar seperempat dari sukrosa. Makanan atau minuman dengan indeks glikemik rendah dapat menyebabkan peningkatan gula darah secara perlahan dan terbukti berpengaruh untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Sebagai orangtua, tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk si kecil, termasuk susu yang lebih sehat untuk tumbuh kembang anak yang lebih optimal.

LACTOGROW kini hadir dengan formula baru 0 gram Sukrosa dan Serat Pangan untuk dukung si Kecil Growhappy dari dalam. Yuk, temukan artikel menarik lainnya tentang Sukrosa dan Laktosa serta efek pada  tumbuh kembang anak di Growhappy.co.id.

Dampak Konsumsi Gula Berlebihan untuk Kesehatan Anak

Baca juga: 

Resep Kue Ulang Tahun Bebas Gula Untuk Anak

5 Tanda tubuh kelebihan gula, jangan sampai alami penyakit tidak menular

Penderita diabetes wajib tahu, ini 7 makanan penurun gula darah secara alami

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner