Emansipasi Wanita dari Kacamata Seorang Ibu Rumah Tangga

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Peran ibu rumah tangga dianggap tidak mewakili emansipasi wanita. Namun ibu rumah tangga ini tetap bisa mengajari anak perempuannya tentang feminisme.

Emansipasi wanita di Indonesia sudah lama dicetuskan oleh R. A. Kartini, seorang gadis keturunan priyayi dari Rembang, Jawa Tengah. Kartini ingin agar wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal memperoleh pendidikan, meraih cita-cita, dan sekaligus bekerja.

Berkat Kartini, para wanita sekarang punya posisi yang setara dengan laki-laki untuk bekerja. Namun benarkah wanita yang memilih menjadi ibu rumah tangga berarti tidak mendukung emansipasi wanita?

Tulisan dari Giancarla Espinosa Aritao di theAsianparent Singapura berikut ini membuka mata kita bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga pun tetap bisa mendukung emansipasi, bahkan mengajari anak perempuan tentang emansipasi wanita.

Menjadi gadis yang kuat

Anak perempuan saya berusia delapan bulan ketika ia mulai belajar berjalan. Dia berdiri dan dengan kagok melangkahkan satu kaki di depan kaki lainnya.

Hanya beberapa detik sebelum kaki mungilnya menyerah. Saya tahu bahwa dia akan jatuh.

Setiap orangtua pasti pernah merasakan peristiwa itu. Di satu sisi kita merasa senang melihat tahap perkembangan anak, namun sekaligus di sisi lain merasa sedih melihat ia terjatuh.

Anak saya berusaha melangkah maju dan akhirnya jatuh dengan posisi tangan serta lututnya yang lebih dulu menyentuh lantai.

“Gadis yang kuat,” saya membungkuk ke arahnya dengan degup jantung yang kencang. Saya mengulangi lagi kalimat itu sampai ia mengerti bahwa saya ingin ia bangun tanpa dibantu.

Sekarang, anak perempuan saya berusia lima tahun. Kalimat ‘gadis yang kuat’ telah menjadi ungkapan yang sering ia dengar sehari-hari.

Gadis kuat tidak akan marah saat ibunya berkata ‘tidak’. Gadis kuat tidak menangis saat ia harus tinggal sementara di rumah dengan babysitter.

Apa yang dilakukan seorang gadis kuat saat adik laki-lakinya menghancurkan istana dari balok kayu yang baru dibangunnya? Dia akan menggunakan kata-kata yang baik untuk mengajari adiknya cara bermain yang benar tanpa perlu marah-marah pada adiknya.

Emansipasi wanita di garis depan

Saat ini persoalan emansipasi wanita selalu didengung-dengungkan hampir di semua negara. Contohnya di Filipina, di mana muncul politikus wanita yang secara khusus mengajukan undang-undang mengenai hak-hak wanita.

Selain itu, di Washington, Amerika Serikat, jutaan wanita melakukan aksi yang pada akhirnya menginspirasi banyak wanita di hampir seluruh warga dunia untuk melakukan hal yang sama.

Bahkan budaya pop juga melakukan pemberdayaan perempuan. Beyonce dengan lagu ‘Who Run The World’ mengingatkan kita siapa yang menguasai dunia sebenarnya.

Emma Watson saat memerankan Belle dalam film Beauty and The Beast juga menolak menggunakan korset karena korset melambangkan pengekangan terhadap wanita.

Ada banyak istilah untuk emansipasi wanita ini: gerakan perempuan, pembebasan perempuan, feminisme, atau bahkan kekuatan perempuan macam Spice Girls. Apa pun namanya, tidak dapat disangkal emansipasi ada di sini.

Apakah saya bukan seorang feminis?

Ketika Anda berpikir mengenai emansipasi wanita atau feminisme, siapa yang langsung tergambar dalam pikiran Anda? Saya melihat sosok wanita yang menghindari tugas-tugas domestik yang biasanya dibebankan pada wanita.

Dia adalah sosok yang cerdas, fasih berbicara, dan memiliki kemampuan memengaruhi orang lain. Dia juga sangat berkembang dalam karirnya.

Bila ini yang menjadi gambaran sosok feminis, maka saya sangat jauh dari hal itu bagaikan langit dan bumi. Saya berhenti dari pekerjaan dan menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak.

Artikel terkait: Curhatan Ibu Bekerja yang Banting Setir Jadi Ibu Rumah Tangga

Saya memilih peran tradisional dan melakukan pekerjaan domestik mengurus rumah tangga. Teman-teman saya sambil bercanda sering meledek bahwa saya seperti ibu rumah tangga tahun 1950-an.

Saya memastikan makan malam sudah siap ketika suami saya pulang kerja, mencuci dan menyetrika baju semua anggota keluarga, dan mengantar jemput anak-anak ketika mereka mengikuti kegiatan ekstra seperti sepak bola dan balet.

Ketika saya membaca artikel yang membicarakan pencapaian-pencapaian yang diperoleh wanita, saya bertanya-tanya: apakah saya termasuk di dalamnya? Apa yang akan saya tunjukkan pada anak perempuan saya bahwa wanita bisa melakukan apa saja jika saya masih melakukan hal-hal yang diperjuangkan oleh Kartini bertahun-tahun lalu agar bisa disetarakan?

Jika ada seseorang yang harus memecah batasan, saya adalah orang yang memilih untuk berdiri dengan sapu di tangan siap membersihkan pecahan-pecahan tersebut. 

emansipasi wanita

Emansipasi wanita menawarkan kesempatan, namun bukan mendikte pilihan.

Saya memilih celemek ini

Banyak sumber yang mendefinisikan arti emansipasi wanita. Menurut KBBI, emansipasi artinya proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju.

Jika saya akan mengajarkan anak-anak saya, khususnya anak perempuan saya, konsep emansipasi ini maka saya harus mengatasi pandangan saya yang bias. Gambaran di kepala saya tentang wanita yang sukses dan mandiri harus diubah.

Tak ada satu ukuran yang sama untuk semua berkaitan dengan pencapaian hidup seseorang. Pelajaran ini yang terus-meenerus saya terapkan pada diri saya sendiri, terutama ketika saya harus menelan kembali kata-kata saya yang hampir saja mengucapkan: Saya kan hanya seorang ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak di rumah.

Saya mempelajarinya lagi saat seorang teman lama mengatakan bahwa ia tak ingin punya anak lagi karena ingin kembali bekerja. Kondisi ini membuat saya menyadari bahwa kita kaum wanita sebenarnya diberi kesempatan untuk memilih.

Saat pintu kesempatan terbuka, kita sebagai wanita yang memutuskan apakah kita ingin melewatinya atau tidak. Tak ada yang memaksa kita masuk atau mengusir kita keluar.

Dalam kasus saya, saya telah melewati ambang batas tindakan saya.

Siapa yang memilih berhenti dari pekerjaan? Saya.

Siapa yang membuat keputusan akhirnya? Saya juga.

Biarkan saya bangkit maupun jatuh atas pilihan saya sendiri. Sama seperti wanita lainnya yang membuat keputusan sangat berbeda, yang bangkit dan jatuh atas pilihannya sendiri.

Saya kira, pada akhirnya inilah yang menjadi tujuan emansipasi wanita, bahwa tidak ada pilihan yang tidak sah, dan tidak ada wanita yang merasa dikucilkan karena memilih menjadi ibu rumah tangga.

Jadi apa pun yang ia mau

Belakangan ini anak perempuan saya memberitahukan pada semua orang bahwa ia ingin menjadi seorang dokter dan sekaligus seorang ibu saat dewasa nanti. Saat ini ia masih usia pra sekolah dan perjalanannya masih sangat panjang.

Namun saat ini, saya ingin meletakkan dasar yang ia pahami bahwa ia dapat menjadi apa saja yang ia inginkan: seorang dokter dan sekaligus seorang ibu, seorang dokter atau seorang ibu atau bahkan tidak keduanya. Semua terserah padanya.

Semoga apa pun profesi Bunda – ibu rumah tangga, wanita karier, atau bahkan bekerja dari rumah, tetap dapat mengajari anak-anak perempuan Anda tentang emansipasi wanita.

Artikel disadur dari versi bahasa Inggris yang ditulis oleh Giancarla Espinosa Aritao di theAsianparent Singapura.

 

Baca juga:

Pendidikan Gender Sejak Dini

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Better Parenting Favorit Bunda