TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Pendidikan Gender Sejak Dini

Bacaan 3 menit
Pendidikan Gender Sejak Dini

Artikel ini bercerita tentang pendidikan gender perlu dilakukan sejak dini. Terutama yang berkaitan dengan tugas domestik.

pendidikan gender

Sebuah artikel yang dimuat di situs www.perempuan.com  berjudul Pendidikan Gender Sejak Dini yang dimuat pada hari Kamis, 12 November 2009,  sontak membuat saya tergelitik untuk berkomentar. Pasalnya pembuka artikel ini bercerita seputar pendidikan gender dimana para ayah dan anak laki-laki mendapatkan privilege di rumah, sementara ibu dan anak-anak perempuan harus menyiapkan pekerjaan rumah.

Hm…sounds familiar? Pastinya ya. Pasti deh suatu kali Anda pernah kesal, karena saat sama-sama sedang lelah sepulang kantor, tiba-tiba turun ‘mandat’ dari suami: “Buatin kopi dong mah…”. Kalau mintanya sambil sedikit memijat-mijat di bahu atau sambil mendaratkan ciuman di kening sih masih lumayan. Tapi, kalau pakai memerintah waduh…gondok juga sih.

Kita yang yang tinggal di Indonesia, mungkin sudah biasa dengan kejadian seperti ini. Malah sudah menganggapnya sebagai sebuah keharusan. Sejak kecil, anak-anak —secara sadar atau tidak — telah mendapatkan pendidikan gender. Mereka diajari orang tuanya tentang pembagian pekerjaan domestik.

Masih tentang siapa yang harus membuatkan kopi untuk ayah, boleh jadi Anda juga ikut andil untuk ‘mewariskan’ tugas mulia ini kepada putri Anda. Wah…kok jadi terdengar seperti “CurCol” soal kopi ya?

Kembali ke pembagian tugas sebagai penerapan pendidikan gender, artikel ini pun berkomentar sama:

“Pemilahan pekerjaan domestik secara absolut memang sudah lazim. Laki-laki dan bahkan perempuan sendiri seolah sudah menerimanya sebagai sebuah kodrat alam yang tak perlu ditolak. Kelelahan luar biasa akibat pekerjaan domestik yang tak pernah ada habisnya itu pasti adakalanya membuat kaum perempuan mengeluh atau akhirnya ‘terkapar’ tanpa kata-kata. Namun nyatanya semua harus terus begitu dan begitu, sehingga perempuan pun akhirnya menerima hal itu sebagai takdir. Namun sungguhkah memang begitu seharusnya?”

Jawabannya tentu “TIDAK HARUS BEGITU DONG…”
Saya masih ingat dulu, ketika suatu pagi saat sedang belajar di Peking University, saya terkejut ketika bertemu dengan rektor saya yang sedang asyik menggowes sepeda di dekat kampus sambil membawa belanjaan. Sekeranjang telur, wortel dan daun bawah menjurai dari keranjang sepedanya. Hihi…saya sempat tergeli-geli sendiri di kepala dan bertanya-tanya…ayah saya yang hakim itu mau nggak ya dimintai tolong ibu saya beli daun bawang ke pasar? Pastinya beliau tidak mau. Atau kalaupun mau, mendiang nenek saya bisa mencak-mencak pada ibu. Saya memang masih mengalami warisan budaya para sepuh yang masih memilah-milah dengan tegas bahwa pekerjaan domestik harus dikerjakan perempuan.

Perubahan jaman dan pendidikan memang sudah banyak mengubah “cerita domestik” ini. Banyak suami kini sudah mau kok berbagi tugas dengan istri, walaupun mungkin belum ‘seideal’ yang para istri inginkan, karena terbentur oleh tradisi pendidikan gender yang sudah dibentuk sejak kecil. Seorang teman yang masih tinggal bersama mertua misalnya, kerap mengeluh karena dirinya dimarahi mertua sewaktu melihatnya dibantu suami mencuci piring.  Artikel di www.perempuan.com ini juga memaparkan begitu:

Solusinya? Daripada hanya mengomel, tip-tip seputar pendidikan gender berikut ini mungkin bisa Anda praktikkan. Tentu saja target utama yang harus disasar adalah suami sendiri. Caranya bagaimana? Anda tentu yang paling tahu tentang trik terjitu untuk menyampaikan masalah-masalah ‘unik’ seperti ini pada suami. Mudah-mudahan berhasil, dan siapa tahu di saat Anda sedang lelah, justru suami yang datang dengan secangkir teh hangat plus bonus memijat pundak dan kaki.

 

Share on Facebook atau G+ jika Anda merasa artikel mengenai pendidikan gender sejak dini ini bermanfaat. Join Komunitas Keluarga Indonesia di G+ untuk mengikuti update info dari kami dan berdiskusi dengan para Keluarga Indonesia

 

Cerita mitra kami
Yuk, Ajak Anak Main di Luar Ruangan. Ini 5 Manfaatnya, Parents!
Yuk, Ajak Anak Main di Luar Ruangan. Ini 5 Manfaatnya, Parents!
Satu dari Tiga Balita Indonesia Berisiko Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi, Kenali Gejalanya!
Satu dari Tiga Balita Indonesia Berisiko Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi, Kenali Gejalanya!
Headliners Hadirkan Chaos Lab, Playground Imersif Pertama di Indonesia!
Headliners Hadirkan Chaos Lab, Playground Imersif Pertama di Indonesia!
8 Eksperimen Sains Sederhana yang Dapat Dilakukan Anak dan Orang Tua di Rumah
8 Eksperimen Sains Sederhana yang Dapat Dilakukan Anak dan Orang Tua di Rumah

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

pangesti

  • Halaman Depan
  • /
  • Usia Sekolah
  • /
  • Pendidikan Gender Sejak Dini
Bagikan:
  • Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

    Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

  • 16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

    16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

  • 8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

    8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

  • Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

    Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

  • 16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

    16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

  • 8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

    8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti