Dengan keragaman suku yang ada Indonesia, sangat wajar jika negara ini memiliki bermacam-macam tradisi yang berasal dari berbagai suku yang berbeda. Salah satunya adalah Cuci Negeri Soya, sebuah tradisi yang berasal dari Ambon, Maluku.
Sebenarnya, tradisi ini bernama Cuci Negeri. Namun, karena berlangsung di beberapa wilayah di Ambon, salah satunya adalah negeri Soya, maka tradisi ini lebih sering disebut dengan Cuci Negeri Soya. Seperti apa tradisi ini, bagaimana asal-usulnya, dan apa tujuannya? Merangkum berbagai sumber, berikut penjelasannya.
Artikel terkait: Mengenal Tradisi Ekstrim Pukul Sapu di Maluku
Asal-usul dan Tujuan Dilakukannya Cuci Negeri Soya
Tradisi ini disebut-sebut telah ada sejak zaman dahulu. Dipercaya, upacara ini berdasarkan legenda seekor naga yang kembali bersama datuk-datuk ke tempat mereka hidup dulu.
Menurut keyakinan leluhur, waktu yang ditetapkan saat melaksanakan Cuci Negeri adalah saat di mana tiupan angin akan membawa arwah para datuk, yaitu bersamaan dengan tiupan angin barat. Dipercaya bahwa arwah para datuk tersebut akan kembali dari tempat peristirahatannya ke tempat mereka pernah hidup.
Tujuan Melakukan Tradisi Ini
Menurut para tetua di sana, tradisi Cuci Negeri Soya dimaksudkan untuk menyucikan diri dan masyarakat. Saat melakukan tradisi ini, setiap orang membersihkan dirinya dari perseteruan, kedengkian, curiga, dan perasaan negatif lainnya.
Itulah mengapa tradisi ini disimbolkan dengan turunnya masyarakat untuk mencuci tangan, kaki, dan muka di air Wai Werhalouw dan Unuwei. Jadi, membersihkan negeri sekaligus membersihkan diri dan hati merupakan inti dari Upacara Cuci Negeri Soya.
Dilakukan Satu Kali dalam Setahun
Tepatnya pada minggu kedua Desember, berdasarkan kepercayaan leluhur dan pengetahuan adatis leluhur Negeri Soya, bulan tersebut adalah saat permulaan musim barat atau waktu angin darat mulai bertiup.
Mengapa musim barat? Karena saat musim timur, yang merupakan musim hujan, umumnya curah hujannya sangat tinggi sehingga menyebabkan tanah longsor, kerusakan rumah dan beberapa properti, bahkan membuat sumur-sumur menjadi kotor.
Begitu musim barat dimulai, semua kerusakan tersebut baru dapat dibersihkan dan diperbaiki, sekaligus menyambut kedatangan arwah para leluhur.
Artikel terkait: Upacara Kerik Gigi, Tradisi Menyakitkan Suku Mentawai demi Tampil Cantik
Tata Cara Melakukan Tradisi Cuci Negeri Soya
Sebelum melakukan upacara Cuci Negeri, terlebih dahulu dilakukan rapat Saniri sebagai persiapannya. Seluruh masyarakat desa sesuai dengan perintah raja yang diumumkan oleh tua adat, wajib mengikuti rapat ini.
Setelah itu di malam harinya, seorang lelaki akan meniup Bia untuk menarik perhatian warga kemudian disampaikanlah perintah raja untuk membersihkan negeri. Seluruh masyarakat Negeri Soya kemudian akan melakukan sesuai apa yang diumumkan, yaitu membersihkan negeri.
Pada saat acara pembersihan, biasanya akan ada permohonan yang dipanjatkan kepada Tuhan yang isinya berupa penyelamatan Negeri Soya beserta penduduknya dari bahaya dan penyakit, serta berkah yang melimpah untuk semua orang. Umumnya, yang memanjatkan permohonan adalah perempuan dan orang tua.
Begitu pembersihan selesai dilakukan, acara diteruskan dengan melakukan upacara adat yang disebut acara puncak Cuci Negeri. Dalam upacara ini, seorang Ibu akan menyambut raja dengan berkata, “Tabea Upulatu Jisayehu, Nyora Latu Jisayehu, Guru Latu Jisayehu, Upu Wisawosi, Selamat datang silahkan masuk”.
Artikel terkait: 6 Nilai Moral dan Manfaat Permainan Tradisional Lompat Tali Karet
Telah Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya
Sejak 20 Oktober 2015, tradisi yang berasal dari Maluku ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Penetapan tersebut dilakukan oleh Anies Baswedan, yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Salah satu alasan yang membuat Cuci Negeri Soya ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda adalah karena ini bukan hanya warisan secara turun temurun, tetapi juga memiliki tujuan luhur yaitu memelihara dan menghidupkan nilai-nilai positif yang diyakini oleh masyarakat agar selalu diingat oleh generasi yang akan datang.
Sayangnya, pemerintah daerah sendiri sepertinya kurang memberikan perhatian terhadap pelestarian tradisi ini. Meskipun pada 2018 Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Richo Hayat, mengatakan bahwa Cuci Negeri Soya akan masuk dalam kalender acara Pariwisata Kota Ambon dan pada 2020 akan dimasukkan dalam kalender acara Nasional, tetapi pada 2021 perwakilan dari pemerintah justru tidak menghadiri tradisi tahunan ini.
Semoga saja pada 2022 ini, pemerintah setempat dan pusat dapat bisa ikut mendampingi penyelenggaraan Cuci Negeri Soya sehingga tradisi yang sudah berlangsung selama turun-temurun ini bisa tetap terjaga kelestariannya.
***
Baca juga:
Bebaskan dari Marabahaya dan Kesialan, Begini Asal Usul Tradisi Ruwatan
Mengenal Botram, Tradisi Makan Bersama Khas Masyarakat Sunda
5 Ritual atau Tradisi Kehamilan di Berbagai Daerah Indonesia