4 kesalahan pengelolaan keuangan keluarga Indonesia yang rentan picu perceraian, begini cara mengatasinya!

4 kesalahan pengelolaan keuangan keluarga Indonesia yang rentan picu perceraian, begini cara mengatasinya!

Deretan kekeliruan keluarga muda Indonesia mengelola keuangan, Parents masih melakukannya?

Keuangan menjadi topik sensitif dalam keharmonisan rumah tangga yang tak jarang menimbulkan permasalahan pelik. Melansir laman CNBC, keuangan memimpin alasan utama mengapa sebanyak 35% pasangan mengalami perpecahan dalam hubungan dan akhirnya berakhir dengan perceraian demikian hasil survey yang dirilis oleh SunTrust Bank. Karenanya, mengetahui cara mengatur keuangan keluarga adalah hal yang krusial dilakukan setiap keluarga.

Ditemui dalam acara Media Gathering sekaligus Peluncuran Teman Treasury #PunyaSimpenanEmasLebih di bilangan Jakarta Selatan Kamis (2/5) lalu, Melvin Mumpuni selaku Financial Planner dan Founder Finansialku.com mengungkapkan permasalahan keuangan yang kerap menimpa keluarga Indonesia.

Kesalahan keuangan keluarga di Indonesia

Penjelasan cara mengatur keuangan keluarga

Penjelasan cara mengatur keuangan keluarga dalam Media Gathering sekaligus Peluncuran Teman Treasury #PunyaSimpenanEmasLebih

#1 Tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan uang

“Faktanya orang Indonesia menganggap menyicil 3 juta uangnya untuk membeli kendaraan, kosmetik atau gadget adalah hal yang wajar, tetapi berat menyisihkannya untuk berinvestasi dengan jumlah yang sama,” ungkap Melvin. Padahal, jika seseorang mengetahui bagaimana ia merencanakan keuangannya dengan baik, maka ia akan lebih percaya diri dan paham bagaimana harus menghargai uang.

Hal inilah yang kemudian mendorong Melvin berkarir sebagai seorang perencana keuangan. Ia menganggap masih banyak orang Indonesia yang membutuhkan edukasi mengenai keuangan. “Orang dengan income terbatas, waktu sempit karena telah mendekati pensiun misalnya dan orang dengan tujuan keuangan banyak itulah yang membutuhkan perencana keuangan,” sambung Melvin.

#2 Tidak memiliki anggaran keuangan

Tidak adanya anggaran rinci dan planning keuangan yang baik menjadi masalah kedua banyak keluarga Indonesia mengalami kesulitan terkait cara mengatur keuangan keluarga yang ideal.

“Biasanya orang tidak tahu kemana ya larinya uang saya karena tidak ada catatan keuangan yang detail, tidak memiliki kontrol keuangannya sendiri. Salah satu ciri khas nya adalah ketika kamu merasakan adanya perang batin ketika akan mengeluarkan uang untuk sesuatu akan mengacaukan cashflow yang ada, berarti kamu tidak memiliki anggaran keuangan yang teratur,” ujar Melvin.

#3 Tidak memiliki budget untuk investasi

Sudah bekerja sekian lama tetapi kondisi keuangan masih tetap sama? Bisa jadi ada yang salah dalam keuangan Anda, apalagi jika tidak ada dana untuk berinvestasi setiap bulan. Penting bagi Parents membuat budgeting dan pengaturan dana sehingga lebih memahami kisaran uang persiapan dana pensiun, dana pendidikan anak dan biaya membeli rumah tinggal.

#4 Paling takut mendengar kata ‘asuransi’

“Sepanjang karir saya menjadi financial planner, asuransi menjadi hal yang terasa paling mengancam klien. Ada kekhawatiran akan dicurangi, ditipu atau salah membeli produk. Padahal, tidak memiliki proteksi diri sendiri sama menakutkannya dengan penipuan itu sendiri,” tegas Melvin.

Sebagai contoh, jika seseorang terkena penyakit berat seperti kanker yang menghabiskan biaya 500 juta-1 Miliar yang akan terasa berat dan merusak kondisi keuangan. Berbeda dengan kepemilikan asuransi yang menyediakan klaim sehingga akan lebih meringankan biaya kesehatan.

Masalah di atas sebenarnya bisa diatasi, yakni dengan mulai membuat perencanaan keuangan yang baik. Jika perencanaan sudah baik, maka Anda dapat memulai investasi secara berkala dan memilih produk yang menguntungkan.

Berdasarkan data Bank Dunia yang dirilis pada 2018, masyarakat Indonesia perlu meningkatkan penghasilan lebih dari 300% untuk mencapai taraf hidup yang tinggi atau senilai dengan 12.400 USD. Saat ini, Indonesia masih tergolong negara dengan pendapatan menengah ke bawah dengan pendapatan 4.041 USD per kapitanya.

Cara mengatur keuangan keluarga dengan pasangan

Selain adanya orang ketiga, tak bisa dipungkiri kesalahan pengelolaan keuangan juga menjadi faktor yang melatari berakhirnya rumah tangga. Jangan khawatir, ada beberapa cara yang bisa dilakukan sebagai langkah preventif terjadinya masalah keuangan dalam keluarga. Intinya, komunikasi harus menjadi landasan utama membicarakan keuangan dalam keluarga.

“Misalnya ada anggaran, bicarakan kepada pasangan mengenai jumlahnya. Lalu bagi ke dalam pos anggaran rutin rumah tangga seperti untuk belanja bulanan berapa. Bicarakan juga jika ada hal yang menjadi concern utama, misalnya persiapan untuk kelahiran anak dan dana pendidikan anak,” tutur Melvin.

Melvin menegaskan data pengeluaran keuangan menjadi hal yang mutlak dimiliki keluarga. Karena hal ini yang terdengar sepele namun bisa memulai keributan. Misalnya, pasangan yang merasa keberatan bahkan marah jika ada pos tertentu yang pengeluarannya besar dan pasangan tidak bisa menjelaskan kemana alokasi uang tersebut. Dengan catatan keuangan, konflik ini tentu dapat dihindari.

Hal lain yang juga dilakukan yaitu, sediakan waktu untuk duduk bersama dan membicarakan keuangan. “Ini yang jarang dilakukan keluarga disini padahal penting. Duduk bareng dan bahas secara gamblang berapa penghasilan suami dan istri dalam sebulan. Ada nggak pinjaman atau cicilan dan kapan kiranya bisa dilunasi, apa saja aset yang dimiliki suami dan istri,” jelas Melvin.

Menentukan dengan mantap berapa besarnya anggaran yang dikeluarkan dalam waktu sebulan juga menjadi hal ideal yang sebaiknya dilakukan. Dengan begitu, Anda dan pasangan dapat tanggap melakukan evaluasi jika ada ‘kebocoran’ keuangan. Atau ada biaya yang lebih besar dari biasanya untuk kemudian mencari solusinya bersama-sama.

Ketiga yang tak kalah penting yaitu keterbukaan. Melvin mengakui bahwa keuangan menjadi salah satu topik yang terbilang tabu dibicarakan. Padahal inilah alat komunikasi antar pasangan yang sebaiknya dibicarakan satu sama lain.

“Ambil contoh suami punya cicilan atau istri belanja dengan cicilan 0% tanpa diketahui pasangannya. Ini bisa memicu masalah yang sebenarnya bisa dicegah dari awal. Sekecil apapun pengeluaran, bicarakan dengan pasangan. Kalaupun ada income tambahan, pasangan sebaiknya obrolkan saja. Karena masalah keuangan inilah yang paling mudah merembet ke hal aneh lainnya,” pungkas Melvin.

Baca juga :

Kakeibo, menabung ala ibu rumah tangga Jepang yang wajib Bunda tiru

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner