Benarkah "Anak Mama" = Anak Manja?

Benarkah "Anak Mama" = Anak Manja?

Benarkah seorang anak laki-laki yang disebut anak mama berarti anak yang manja, tidak tangguh dan tidak berprinsip? Mari kita diskusi lebih jauh.

Seharusnyalah sebutan anak mama sama membanggakannya dengan sebutan anak ayah

Seharusnyalah sebutan anak mama sama membanggakannya dengan sebutan anak ayah

Mengapa “Anak Papa” terkesan lebih baik daripada “Anak Mama”? 

Apa yang ada di pikiran Parents ketika mendengar kalimat, “Ya, gitu, deh, namanya juga Anak Mama”?

Julukan “Anak Mama” memang tak seindah julukan “Anak Papa”. Sebutan “Anak Papa” seringkali diidentikkan dengan semua hal yang maskulin dan hebat, seperti bermain bola atau berpetualang bersama ayah, atau ketika ia besar nanti, hang out seru bersama ayah dan teman-teman.

Sebaliknya ketika mendengar ada anak laki-laki yang meniru pekerjaan ibunya di rumah, seperti belajar menjahit, memasak, mencuci pakaiannya sendiri, atau bermain peran dengan boneka; kita pun mengernyitkan dahi.

Apalagi ketika seorang ibu rajin menelepon bujangnya, atau menungguinya saat ia bermain di lapangan, maka steorotip Anak Mama pun kemudian melekat erat pada dirinya.

Bahkan di beberapa daerah ada nasehat agar ibu perlu tidak terlalu dekat dengan anak lelakinya atau terus-terusan mengawasi ke mana pun ia pergi atau berada. Sikap ibu ini seringkali dicap sebagai memanjakan, mengekang, atau malah terlalu melindungi (overprotecting).

Ini terjadi karena dalam pikiran kita seorang laki-laki seringkali digambarkan dengan sosok yang kuat, tangguh, berani, dan bebas.

Karena itulah, sering terasa aneh aneh jadinya bila anak laki-laki kemudian melakukan pekerjaan rumah tangga, berpamitan pergi pada si Ibu, yang kadang diolok dengan istilah ‘lapor diri’.

Jadi tepatkah persepsi “Anak Mama” ini? Tentu saja kurang tepat.

Kita semua telah tahu, apapun jenis kelamin si anak, semua bayi akan tumbuh dengan baik apabila mereka memiliki hubungan yang dekat dengan ibunya. Hal ini ternyata juga berlaku untuk semua anak laki-laki yang lebih besar.

Tak dekat dengan ibu, anak cenderung lebih agresif dan destruktif

Seperti yang disebutkan dalam jurnal studi Child Development; sebanyak hampir 6000 orang anak laki-laki diamati dan ditemukan bahwa mereka yang tumbuh tanpa hubungan kuat dengan ibunya terlihat lebih agresif dan destruktif.

Sosiolog Dr. Michael Kimmel mengatakan bahwa ketika seorang anak laki-laki tumbuh tanpa ada pengaruh dari ibunya, ia akan membawa rasa takut terhadap kedekatan dan cenderung menjadi pembangkang saat dewasa.

Ini kemungkinan terjadi karena satu-satunya wanita yang pertama kali ia kenal dan seharusnya menjadi tempat baginya belajar banyak hal, justru menjauhkan diri di usianya yang sangat muda.

Jadi, seharusnyalah kita mengubah persepsi tentang sebutan “Anak Mama”. Sewajarnya, menjadi “Anak Mama” juga sama membanggakannya dengan menjadi “Anak Papa”.

Baca juga: Jangan Panggil Anakku Pemalu!

Maksud dari artikel ini bukanlah untuk mendukung bahwa seorang laki-laki dewasa harus selalu berpaling pada ibunya saat mereka menghadapi masalah. Karena bagaimanapun, ini bukanlah hal yang patut terjadi meski pun mereka memiliki jalinan kedekatan dengan ibunya.

Kami hanya ingin menegaskan bahwa stereotip hubungan anak laki-laki dengan ibunya, seperti anak mama yang selalu diindikasikan sebagai anak manja, dapat menghalangi niat seorang ibu untuk menjalin kedekatan dan membesarkan anak laki-lakinya sedari kecil hingga dewasa nanti.

Kita juga sebaiknya jangan lupa, bahwa anak laki-laki juga membutuhkan kasih sayang dan dukungan dalam hidupnya seperti yang ia peroleh saat baru pertama lahir di dunia. Anak laki-laki tetap perlu menjalin kedekatan dengan ayah dan ibunya dan menjadikan mereka sebagai panutan.

Jadi, mari ibu, di jaman modern ini mari kita ubah persepsi kita tentang “Anak Mama”. Termasuk didalamnya teori pemikiran bahwa seorang anak laki-laki tidak boleh menangis, harus kuat, dan tidak boleh mengekspresikan emosinya.

Sebagai gantinya mari kita didik anak-anak kita untuk menjadi lebih percaya diri, merasa aman secara emosi, penuh empati hingga mereka tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tangguh memegang prinsip yang ia yakini benar meski lingkungan atau teman-temannya tidak mendukungnya.

Anak laki-laki yang tidak mudah terpengaruh dengan “Ah, ngga laki-laki kalo ngga merokok” atau, “Ah, ngga toleran kalo ngga ikut tawuran,” dan masih banyak lagi.

Tentu kita semua tahu bahwa dunia ini akan lebih baik bila berisi dengan banyak laki-laki yang berpegang teguh pada prisip-prinsip kebenaran, bukan?

Ref: sg.theasianparent.com

TAP-ID-Web Banner-1000x250px-02

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner