TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Fenomena bayi lahir dengan ekor, apakah bahaya bagi si kecil?

Bacaan 3 menit
Fenomena bayi lahir dengan ekor, apakah bahaya bagi si kecil?

Kondisi bayi berekor memang membuat risau para orangtua, tapi sebaiknya tidak mengaitkannya dengan mitos yang tidak masuk akal.

Kasus bayi berekor pastinya akan membuat gempar orangtua dan masyarakat sekitar tempat bayi itu dilahirkan. Kondisi bayi yang lahir dengen ekor akan dianggapa aneh bahkan bisa dikaitkan dengan mitos gaib atau semacamnya. 

Sebenarnya, jika menemukan bayi berekor saat lahir, itu bukanlah suatu kondisi yang harus dikhawatirkan secara berlebih. Apalagi jika mengaitkan kondisi tersebut dengan mitos-mitos yang tidak masuk akal.

Dilansir dari situs BabyMed, ekor tersebut dinamakan sebagai ekor vestigial. Semua manusia diciptakan dengan ekor kecil yang kemudian diserap oleh tubuh dan berkembang menjadi tulang ekor.

Dalam beberapa kasus yang jarang sekali terjadi, sejumlah kecil jaringan dibiarkan menggantung pada area tulang ekor tubuh manusia, bahkan hingga 5 tulang belakang di ekor kecil yang menghasilkan ekor manusia atau ekor sisa. Namun, tidak mengandung tulang, saraf dan pembuluh darah.

Artikel terkait: Bayi lahir dengan dua wajah, seperti apa perjuangan yang dialaminya?

Ekor vestigial, penyebab fenomena bayi berekor terjadi

bayi berekor

Menurut ahli, ekor pada bayi manusia sama sekali berbeda dengan ekor yang ada pada hewan. Kondisi ini dianggap sebagai suatu hambatan dalam proses tumbuh kembang, yang terkadang dikaitakan dengan spina bifida atau cacat lahir yang ditandai dengan terbentuknya celah pada tulang belakang dan saraf tulang belakang bayi. 

Artikel terkait : Waspadai Spina Bifida, Cacat Lahir pada Tulang Belakang Bayi

Sementara itu, para pakar medis menyatakan tidak ada faktor risiko atau penyebab pasti terjadinya ekor vestigial atau kasus bayi berekor.

Semua bayi berkembang dengan cara yang sama, terlepas dari kondisi genetik atau penyakit, dan ekor vestigial yang ada dalam perkembangan awal kemudian berakhir sebagai tulang ekor.

Dikutip dari situs Healthline, awalnya, ekor ini berkembang sekitar minggu ke-5 hingga ke-6 kehamilan dan mengandung sekitar 10-12 tulang belakang. Seiring perkembangan janin, struktur ekor menghilang atau terserap ke dalam tubuh dan membentuk tulang ekor.

Umumnya, ekor pada embrio hilang terjadi sekitar minggu ke-8 kehamilan. Meskipun sisa ekor menghilang pada sebagian besar orang, tapi terkadang ada bayi yang lahir dengan ekor karena ia mengalami hambatan selama tahap perkembangan.

Adakah komplikasi yang terjadi akibat ekor vestigial?

Sejak tahun 1884, dilaporkan terdapat sekitar 50 kasus bayi berekor atau mengalami kondisi ekor vestigial. Nah, kondisi tersebut tidak ada komplikasi yang diketahui.

Walau demikian, apabila ekor tidak dilepas, bisa mengganggu kenyamanan saat duduk. Terlebih jika ekor memiliki ukuran yang cukup panjang, karena ekor dapat mencapai 13 cm.

Penanganan jika memiliki ekor vestigial

bayi berekor

Dalam kebanyakan kasus, ekor sisa akan diangkat segera setelah lahir. Namun, ada juga beberapa orangtua memilih untuk membiarkan ekor tetap di tempatnya, khususnya jika ekor muncul sebagai tonjolan kecil di dekat tulang belakang bagian bawah.

Pengangkatan ekor vestigial bisa dilakukan dengan cara dibedah. Cara ini tidak menyebabkan efek samping jangka panjang pada pasien.

Sebelum melakukan pembedahan, bayi terlebih dahulu akan melakukan tes MRI atau ultrasonografi. Tes ini diperlukan untuk mengklasifikasikan ekor dan memastikan jika tidak berkaitan dengan kondisi medis seperti spina bifida.

Itulah informasi terkait kasus bayi berekor yang sebaiknya Parents ketahui. Semoga bermanfaat, ya.

Referensi : Healthline, BabyMed, Instagram @medicalpedia

Baca juga:

Terlahir dengan Dua Wajah, Bayi ini Dianggap Pembawa Berkah dan Reinkarnasi Dewa

Cerita mitra kami
Rekomendasi Layanan Profesional yang Membantu Ibu Mengelola Rumah & Anak di 2026
Rekomendasi Layanan Profesional yang Membantu Ibu Mengelola Rumah & Anak di 2026
Wajib Tahu! Ini Mitos dan Fakta Makanan Peningkat Kecerdasan Menurut Dokter Anak
Wajib Tahu! Ini Mitos dan Fakta Makanan Peningkat Kecerdasan Menurut Dokter Anak
Asma Anak Tiba-tiba Kambuh? Ingat, Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital
Asma Anak Tiba-tiba Kambuh? Ingat, Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital
Butuh Penanganan Cepat Saat Anak Terus Muntah dan Lemas? Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Jakarta Selatan
Butuh Penanganan Cepat Saat Anak Terus Muntah dan Lemas? Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Jakarta Selatan

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Finna Prima Handayani

Diedit oleh:

Fitriyani

  • Halaman Depan
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Fenomena bayi lahir dengan ekor, apakah bahaya bagi si kecil?
Bagikan:
  • Bolehkah Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Mendonorkan Darah? Ini Syarat Wajibnya!

    Bolehkah Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Mendonorkan Darah? Ini Syarat Wajibnya!

  • 8 Titik Pijat Refleksi Kaki dan Manfaatnya untuk Kesehatan

    8 Titik Pijat Refleksi Kaki dan Manfaatnya untuk Kesehatan

  • 4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

    4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

  • Bolehkah Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Mendonorkan Darah? Ini Syarat Wajibnya!

    Bolehkah Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Mendonorkan Darah? Ini Syarat Wajibnya!

  • 8 Titik Pijat Refleksi Kaki dan Manfaatnya untuk Kesehatan

    8 Titik Pijat Refleksi Kaki dan Manfaatnya untuk Kesehatan

  • 4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

    4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti