Ini bahaya tersembunyi empeng bagi bayi, bisa menyebabkan luka bakar

lead image

Peringatan bagi Parents yang masih memberikan empeng pada si kecil.

Periksa produk yang digunakan bayi Anda, dan selalu awasi demi keselamatannya. Termasuk dalam bahaya empeng yang bisa berisiko sebabkan luka bakar anak.

Siapa di antara Parents yang masih memberikan empeng pada si kecil? Tak bisa dipungkiri, sampai saat ini masih banyak bayi yang menggunakan empeng.

Bahaya Empeng

Seorang ibu baru-baru ini menemukan peristiwa yang mengerikan. Empeng yang digunakan oleh anaknya ternyata bisa menimbulkan bahaya yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kristen Milhone mendokumentasikan peristiwa ini dan menggugahnya di laman Facebook miliknya. Bagaimana putranya yang berusia tujuh bulan, Jack, terbangun pada suatu pagi dengan luka bakar yang disebabkan empeng.

Tidak ingin anak lain menderita dan mengalami nasib yang serupa, ia pun memutuskan untuk menyebarkan kesadaran pada orangtua dengan berbagi pengalaman akan bahaya empeng.

Dalam postingan Facebook miliknya, ia menceritakan bahwa suatu pagi saat ia terbangun, dia melihat tanda merah di sisi wajah bayinya. Luka itu juga tampak melepuh dan tampak sangat mirip luka bakar.

Semula, Kristen menduga bahwa luka tersebut disebabkan oleh luka bakar kimia. Namun, pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, apa yang mungkin bisa membakar wajah anaknya?

Tak ingin sesuatu ada hal yang lebih buruk terjadi pada putranya, Kristen pun akhinya membawa Jack Rumah Sakit untuk mengatahui penyebab pasti luka bakar anak.

Setelah pemeriksaan dilakukan oleh dua dokter, dokter pun memastikan bahwa luka itu tidak disebabkan oleh luka bakar dari zat kimia. Dokter mengatakan lepuhan itu disebabkan empeng yang membuat kulit anaknya terbakar.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Setelah ditelaah, Kristen pun menduga bahwa peritiwa ini sebabkan karena pada suatu malam hari, empeng Jack jatuh dari mulutnya. Dan saat itu Jack pasti berguling di atasnya dan tidur sampai pagi.

Hal inilah yang akhirnya menciptakan efek sedotan antara pelipis kirinya dan bagian belakang empeng. Dan itu menjelaskan luka bakar di sisi wajahnya yang disebabkan empeng.

Dugaan ini semakin kuat setelah Kristen mengukur diameter empeng dan luka bakar yang dialami putranya memiliki ukuran yang sama.

Kristen sendiri sangat menyayangkan bahwa peristiwa ini tidak pernah dijelaskan di dalam buku, iklan, dan dokter pun tidak pernah mengatakan bahwa bahaya empeng berisiko membuat luka bakar pada anak.

Padahal sampai saat ini tidak sedikit orangtua yang masih berpikir bahwa anak akan aman saja jika tidur sambil menggunakan empeng.

“Bayi saya yang malang sekarang mengalami luka karena produk yang masih dipercaya oleh jutaan orangtua. Saya tidak akan lagi menggunakan produk ini, saya segera mencari alternatif yang cocok untuknya. Kalaupun empeng masih digunakan, harus dipantau secara ketat.”

“Jika Anda menekan bagian belakang dot ke wajah Anda, kemudian tekan putingnya, empeng itu akan menghisap kulit Anda begitu cepat!

Jika Anda membiarkannya di sana selama satu menit, itu akan meninggalkan tanda pada kulit. Bayangkan bagaimana jika anak-anak terkena saat sedang tertidur di malam hari,”

Orangtua harus mengeluarkan empeng setelah anak tertidur untuk mencegah terjadinya luka bakar anak.

Meskipun Jack perlu menggunakan antibiotik untuk mengobati luka bakar yang diakibatkan oleh empeng, Kristen masih khawatir apabila luka nanti akan meninggalkan bekas. Di mana kondisi seperti ini tentu saja bisa dengan mudah terjadi pada setiap anak.

“Saat Anda menidurkan anak-anak ke tempat tidur menggunakannya, Anda akan mengira kalau mereka aman. Padahal, ini bisa menjadi berbahaya.”

Menanggapi keluhan Kristen, sebuah perusahaan yang memproduksi empeng pun berjanji untuk menyelidiki masalah ini. Mereka meyakinkan pelanggan bahwa produk dot yang telah dibuat telah memenuhi persyaratan dan peraturan yang yang telah ditetapkan.

Namun, Kristen tetap skeptis. Dia berpikir bahwa orangtua masih perlu berhati-hati dan waspada jika memang anak menggunakan empeng. Jika mereka ingin menghindari risiko luka bakar yang diakibatkan bahaya empeng, lebih baik tidak membiarkan anak-anak menggunakannya sampai tidur. Hal ini akan dirasa lebih baik dilakukan untuk keamanan anak.

Dia pun mengirimkan peringatan kepada semua orangtua, dengan mengatakan:

“Jika Anda akan menggunakannya, ambillah dot dari mulut anak-anak begitu mereka tertidur. Terutama ketika mereka mulai berguling-guling,” katanya. “Jangan biarkan mereka tidur menggunakan empeng di boks tidurnya.”

Plus minus menggunakan empeng pada bayi

Tak bisa dipungkiri, sampai saat ini memberikan anak dot atau empeng masih menuai pro dan kontra. Sebagian orangtua masih memilih menggunakan dot atau empeng sebagai alat bantu untuk menenangkan si kecil, khususnya untuk membantunya agar tertidur lelap.

Selain itu, sebuah studi juga membuktikan bahwa menggunakan empeng di malam hari dan selama tidur siang bayi Anda dapat menurunkan risiko bayi Anda dari SIDS, atau sindrom kematian bayi mendadak.

Ahli mengatakan kalau dot bisa mengurangi risiko terjadinya SIDS. Hal ini disebabkan karena dot bisa membantu membuka saluran udara lebih besar lagi sehingga pernapasan bayi tidak terganggu.

Meskipun begitu, orangtua tentu saja wajib mengawasi dan tidak membiarkan bayi mereka tidur dengan empeng yang masih menempel pada tali untuk menghindari risiko bayi tercekik.

Selain itu, penting bagi orangtua untuk memeriksa kondisi dot, apakah masih utuh tanpa robekan, atau kerusakan lainnya untuk menghindari terjadinya risiko lain, atau meningkatkan kemungkinan menjadi bahaya tersedak atau luka bakar anak.

Selama orangtua menyadari risiko dan mengambil langkah untuk menghindari terjadinya luka bakar anak, dot memang relatif aman untuk kebanyakan bayi.

 

Artikel ini dipublikasikan atas seiizin penulis Rossana Chio, dari theAsianparent Singapura

 

Baca juga :

Waspadai Kematian Mendadak pada Bayi (SIDS)

 

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.