TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Aplikasi Tik Tok dan fenomena Bowo Alpenliebe, apa pengaruhnya pada perkembangan anak?

Bacaan 5 menit
Aplikasi Tik Tok dan fenomena Bowo Alpenliebe, apa pengaruhnya pada perkembangan anak?

Aplikasi Tik Tok akhirnya resmi diblokir oleh Kominfo. Apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini termasuk kepopuleran Bowo di kalangan anak-anak?

Sejak kemarin, (3/4/2018) aplikasi Tik Tok akhirnya resmi ditutup oleh Kominfo.

Kepada BBC Indonesia, Semuel Abrijani, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo mengatakan bahwa ditutupnya aplikasi Tik Tok ini lantaran banyaknya konten negatif khususnya untuk anak-anak.

Ia menambahkan, “Sebagai aplikasi media sosial yang user generated, [Tik Tok] seharusnya punya mekanisme bagaimana membuat standar konten dan bagaimana mencegah dan menyelesaikan apabila ada konten yang melanggar undang-undang kita,” kata Semuel.

Sementara Kominfo juga sebelumnya telah menghubungi pihak Tik Tok untuk meminta penjelasan, sayangnya belum ada tanggapan.

Keputusan ditutupnya aplikasi yang berasal dari Cina ini tentu saja mengundang reaksi. Ada yang setuju, namun tidak sedikit pihak yang menyayangkannya.

Salah seorang warganet, Derry Al-fiqri menuliskan kicauannya:

“Gua gak setuju TIKTOK diblokir. Kenapa? Karena YouTube, Instagram, Facebook, dan Twitter nggak diblokir pas ada kontent yang yang lebih buruk dari sekadar permasalahan bowo dan goyang dua jari. Mau tanya? Terus fungsi report (melaporkan) buat apa?”

Sementara Menteri Komunikasi dan Informatika ( Menkominfo) Rudiantara kepada Kompas mengatakan bahwa memang banyak yang tidak setuju pada pemblokiran aplikasi ini karena ada juga pengguna yang betul-betul mau berkreasi lewat Tik Tok.

Ia menambahkan, pemblokiran ini sudah terlebih dahulu dikoordinasikan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Bagaimana pandangan Parents tentang hal ini, perlukah aplikasi Tik Tok ini diblokir?

Setelah aplikasi Tik Tok ini  diblokir, apakah menjamin anak-anak tidak akan terpapar dengan konten negatif di sosial media, dan terhindar dari cyber bullying?

Apakah kemudian bisa menjamin tidak akan muncul selebritas lain yang dielu-elukan anak remaja seperti Bowo Alpenliebe yang banyak dikhawatirkan orangtua?

Berangkat dari pertanyaan ini, theAsianparent Indonesia menghubungi Nadya Pramesrani, M.Psi., Psikolog dari Rumah Dandelion.

Di awal perbincangan, Nadya mengingatkan kembali bahwa saat ini memang saatnya internet savvy. Artinya orangtua juga perlu banyak belajar dan mengejar zaman, termasuk memahami sosial media serta aplikasi khususnya yang tengah diminati anak.

Tak hanya itu, salah satu yang perlu dipahami orangtua, khususnya yang memiliki anak remaja untuk belajar dan memahami tahapan perkembangan usia anak. Caranya dengan menyadari bahwa usia anak remaja ini mulai senang  meningkatkan hubungan sosial di luar keluarga.

“Anak yang masuk usia remaja itu adalah fasenya mereka beralih, orientasi mereka juga tidak lagi banyak di keluarga, tapi banyak di sosial dan pertemanan.”

Maka, tidak mengherankan jika banyak anak remaja yang terlihat memerhatikan dan sering mengikuti segala sesuatu yang sering menjadi trend atau sedang ramai diperbincangkan, termasuk memiliki teladan atau role model. Hal ini juga berlaku dengan kasus banyaknya anak remaja yang terlihat begitu mengidolakan Bowo Alpenliebe.

Terbukti dari adanya beragam status yang dituliskan oleh anak remaja di akun sosial media miliknya. Ada yang mengatakan ingin menjadi malaikat jika Bowo yang menjadi Tuhan, hingga cerita anak remaja yang rela mengambil uang orangtuanya demi bisa foto dan meet and greet dengan Bowo.

Baca juga : Bolehkah anak SD punya akun sosial media?

aplikasi tik tok

“Anak-anak itu pada dasarnya belajar dari pengalaman orang lain. Ketika mereka melihat ada orang yang melakukan tindakan A, B atau C maka dia akan meniru. Saat mereka melihat ada teman atau orang lain yang mendapatkan like, love dan kementar banyak di sosial media, mereka juga bisa ikut-ikutan.”

Nadya menambahkan, “Intinya adalah saat anak remaja main sosial media, mendapat like dan komentar banyak maka anak merasa mendapatkan attention. Nah di sinilah yang jangan dilupakan orangtua, bahwa salah satu karakter  pola pikir remaja adalah, I am the center of universe.”

Inilah yang menyebabkan anak-anak sering mengeluarkan statement atau menulis status dalam sosial media yang dianggap tidak sopan di sosial media.

Belum lagi dengan isu remaja seperti  peer pressure, keinginan untuk bisa diterima di lingkungan atau kelompok tertentu, ditambah lagi perkembangan otak depan anak untuk bisa berpikir logis dan rasional masih dalam tahap perkembangan

“Makanya mereka sering membuat keputusan yang membuat orangtua heran. Kenapa sih dia mesti begitu? Kenapa harus melakukan itu?”

Memiliki anak itu memang punya tantangan tersendiri setiap fasenya. Salah satunya punya anak remaja di zaman sosial media.

“Kenapa? Kita sebagai orangtua banyak yang tidak tidak hidup di zaman digital, internet savvy, sehingga kurang paham hal tersebut boleh atau tidak. Karena clueless, jadi mudah khawatir. Padahal kalau orangtua paham dan bisa mengawasi, tidak perlu khawatir berlebihan,”

Oleh karena itu orangtua perlu satu, bahkan dua tiga langgah di depan anak sehingga bisa paham apa yang sedang tren. Kalau ada yang melenceng bisa menjelaskan, jangan sekadar ikut-ikutan.”

“Jangan lupa tanyakan juga persepsi dan konsep yang dipahami oleh anak itu seperti apa, karena sering kali persepsi orangtua dengan anak itu bisa jauh berbeda. Dengan mengetahui apa yang dipahami anak, orangtua juga belajar. Hasilnya bisa memulai untuk diskusi atau ngobrol secara terbuka.”

Nadya juga menambahkan, “Misalnya, anak senang main Tik Tok dan mengidolakan Bowo. Coba tanya kenapa suka itu? Apa yang dilihat dari Tik Tok dan Bowo. Dari sini orang tua bisa tahu persepsi anak seperti apa. Kemudian membuka diskusi.”

Sebab, meski Tik Tok sudah diblokir tidak menutup kemungkinan ada aplikasi lain semacam Tik Tok yang bermunculan dan disenangi anak-anak.

Jadi, sebisa mungkin selalu mengikuti perkembangan digital ya Bun, dan mempelajarinya. Sehingga saat anak menggandrunginya, Parents juga bisa ikut mengawasi. Hasilnya, bisa mencegah anak terkena efek negatif dari aplikasi tersebut.

Cerita mitra kami
7 Tips Sehat Cegah Virus Bersama Tokopedia #DiRumahAjaDulu
7 Tips Sehat Cegah Virus Bersama Tokopedia #DiRumahAjaDulu
Hati-Hati, Terlalu Sering Terkena Paparan AC Tak Baik untuk Kulit si Kecil
Hati-Hati, Terlalu Sering Terkena Paparan AC Tak Baik untuk Kulit si Kecil
Bukan Sekadar Senang-senang, Berikut 5 Manfaat Mengajak Anak Bermain di Playground
Bukan Sekadar Senang-senang, Berikut 5 Manfaat Mengajak Anak Bermain di Playground
Kenali Manfaat Susu yang Berasal dari Sapi A2 untuk Anak
Kenali Manfaat Susu yang Berasal dari Sapi A2 untuk Anak

Semoga bermanfaat.

 

Baca juga :

Main tik tok dengan bayi baru lahir, aksi bidan ini membuat geram warganet

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Adisty Titania

  • Halaman Depan
  • /
  • Praremaja
  • /
  • Aplikasi Tik Tok dan fenomena Bowo Alpenliebe, apa pengaruhnya pada perkembangan anak?
Bagikan:
  • Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

    Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

  • 8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

    8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

  • 9 Ciri Fisik Pubertas pada Anak Perempuan, Parents Wajib Tahu!

    9 Ciri Fisik Pubertas pada Anak Perempuan, Parents Wajib Tahu!

  • Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

    Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

  • 8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

    8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

  • 9 Ciri Fisik Pubertas pada Anak Perempuan, Parents Wajib Tahu!

    9 Ciri Fisik Pubertas pada Anak Perempuan, Parents Wajib Tahu!

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti