Apakah Kita Melakukan Eksploitasi Anak Tanpa Menyadarinya?

lead image

Ribuan anak di Indonesia menghabiskan 8 jam di sekolah, plus 2 hingga 3 jam tambahan untuk beragam les. Apakah ini bukan bentuk eksploitasi anak?

Eksploitasi anak tidak banyak disadari oleh para orang tua yang ingin menanamkan ilmu sebanyak-banyaknya sejak dini.

Eksploitasi anak tidak banyak disadari oleh para orang tua yang ingin menanamkan ilmu sebanyak-banyaknya sejak dini.

Ekspolitasi anak atau bukan?

Tidak jarang kita jumpai anak-anak di usia sangat kecil sudah mengikuti ragam les seperti piano, KUMON, sempoa, berenang, bahasa Inggris atau Mandarin, dan ‘seabrek’ les yang berhubungan dengan mata pelajaran.

Belum lagi undangan ulang tahun dari teman sekelas, atau saudara sepupu mereka. Orang tua mungkin menganggap bahwa anak harus dibentuk sedemikian rupa, sejak kecil demi tumbuh kembang otak mereka.

Siapapun tahu, otak anak mampu menyerap ribuan informasi dengan cepat. Namun jika mereka dibebani dengan macam-macam kegiatan, apakah hal ini bukan termasuk bentuk eksploitasi anak?

Berlebihan atau tidak?

Beberapa orang tua menganggap bahwa batita berusia 3 tahun sudah seharusnya mengikuti kompetisi atau kursus yang menawarkan kegiatan stimulasi otak.

Nah, hal ini sebenarnya yang dimanfaatkan oleh para pemilik kursus musik, seni, olahraga, matematika, bahasa Inggris, Mandarin, motivasi, asah otak dan banyak lagi.

Si kecil kita memang ajaib karena kerap melakukan hal-hal yang tidak terduga. Namun, tidak berarti bahwa kita harus membuat otak mereka terus bekerja untuk mengikuti ‘kursus’ sesuai pilihan kita.

Mana yang harus dilakukan: Membuang waktu berharga atau eksploitasi anak?

Jika dibilang eksploitasi anak, banyak ibu mengatakan bahwa mereka tidak ingin membuang waktu berharga dengan membiarkan anak nonton televisi sembari mengudap makanan kecil seusai sekolah, dan juga bermain ‘secara kuno’ dengan rekan-rekan sebaya mereka di sekitar rumah atau saudara sepupu. Mana sebenarnya yang lebih efektif dalam tumbuh kembang anak?
Salah seorang pakar psikologi anak, Dr Harriet Tenebaum, mengatakan bahwa penelitian menyarankan kegiatan ekstra untuk anak, selama kegiatan tersebut berkaitan erat dengan perkembangan rasa percaya diri dan pencapaian akademis.

Namun, penting untuk diingat bahwa tidak disarankan menjejali anak dengan jadwal kegiatan ekstra yang terlalu padat. Anak perlu bermain dan melakukan kegiatan yang sifatnya spontan.

Bermain secara spontan membantu anak belajar mengatur emosi dan keinginannya secara mandiri, meningkatkan daya imajinasi, sekaligus meningkatkan perkembangan kognitifnya. Semuanya itu membantu mereka untuk belajar bertindak sesuai situasi dan orang-orang sekitar yang berbeda.

(pendapat dari Dr. Tenebaum, ibu satu anak, University of California, Santa Cruz dan pasca-sarjana Harvard Graduate School of Education)

Nah, tindakan apa yang harus dilakukan supaya tidak terjadi eksploitasi anak?

Agar tidak terjadi eksploitasi anak, lakukanlah beberapa hal berikut:

1. Hati-hati menghindari eksploitasi

Anak-anak membutuhkan waktu istirahat dan permainan yang spontan di rumah bersama teman atau saudara. Kegiatan ekstra di luar rumah memang bisa meningkatkan kecerdasan anak, namun keduanya bisa dilakukan secara seimbang. Jangan lupa, masih ada pekerjaan rumah dari sekolah yang harus dikerjakan.

2. Hindari kompetisi terlalu dini

Para orang tua di Indonesia dan beberapa negara di Asia masih memiliki kekhawatiran akan persaingan antar anak. Mengikuti kompetisi atau lomba memang wajar, namun bukan berarti anak dipaksa ikut, karena rekannya juga ikut.

Anak kadang lelah usai seharian bersekolah. Saat ia ingin main di rumah, tentu tak salah. Serangkaian kursus yang menghibur, entah itu menari, menyanyi, atau piano, tidak serta merta membuat mereka gembira.

Saat mereka menginjak usia sekolah dasar, mereka akan memiliki banyak aktivitas bersama teman dan guru. Jadi, biarkan mereka menikmati indahnya bermain secara spontan saat masih balita.

3. Jadwal yang baik

Orang tua harus memiliki jadwal yang baik dalam hal memberi kursus tambahan kepada anak. Sebaiknya, anak tidak mengikuti lebih dari tiga kegiatan dalam sepekan.

Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.

 

Baca juga:

Jangan Terlalu Mengeksploitasi Bakat Anak

Tips Memilih Kursus Musik yang Tepat untuk Anak

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.