"Anak cacat kok dibawa ke tempat umum" Kisah ibu dengan anak cerebral palsy

"Anak cacat kok dibawa ke tempat umum" Kisah ibu dengan anak cerebral palsy

Seperti apa kejadiannya?

Apa itu cerebral palsy pada anak? Pernahkah Parents mendengarnya? Atau, melihat anak atau seseorang yang tubuhnya terlihat begitu kaku atau sulit digerakkan?

Ya, mungkin sampai saat ini tidak sedikit masyarakat yang bertanya-tanya apa itu cerebral palsy pada anak. Beberapa tahun yang lalu pertanyaan apa itu cerebral palsy juga sempat menggelayut di pikiran saya.

Selain mendapat informasi lewat beragam artikel kesehatan, saya pun akhirnya diberi kesempatan untuk berkenalan dengan beberapa orangtua yang tergabung di dalam komunitas Indonesia Rare Disorders. Sebuah wadah yang memperjuangkan anak-anak yang dengan kondisi yang lebih spesial, salah satunya seperti cerebral palsy pada anak.

Apa itu cerebral palsy pada anak?

Cerebral palsy merupakan sebuah kondisi ganguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak. Hal ini pun berujung pada gangguan gerakan atau terjadinya kekakuan pada tubuh, dan menyebabkan terjadingan gangguan tumbuh kembang.

Dr. Luh Karunia Wahyuni, SpKFR-K, ketua Kepala Divisi Pediatri Departemen Rehabilitasi Medik RSCM menjelaskan bahwa cerebral palsy adalah kelumpuhan otak besar.

Sampai saat ini penyebab pasti celebral palsy pada anak pun belum diketahui. Namun memang Dr. Luh mengatakan bahwa Penyebab umum cerebral palsy adalah kelahiran prematur, karena kemungkinan pembuluh darah ke otak belum berkembang sempurna seperti yang dikutip dari Kompas.com. Namun, ada beberapa orang menyebut cerebral palsy dengan istilah lumpuh otak.

Perlu di garisbawahi bahwa cerebral palsy bukanlah sebuah penyakit menular. Sayangnya, karena kurangnya informasi, tidak sedikit dari masyarakat yang kurang memahami hal ini.

Alhasil, perjuangan orangtua yang memiliki anak cerebral palsy terasa semakin berat lantaran adanya penolakan atau bahkan cemoohan dari masyarakat terkait dengan kondisi buah hatinya yang mengalami cerebral palsy pada anak.

Setidaknya, belum lama ini Iis R. Soelaeman, seorang ibu menuliskan salah satu pengalamannya di lama Facebooknya bagaimana ia pernah mendapat penolakan dari masyarakat karena kondisi cerebral palsy yang dialami anak perempuan bernama Rana.

Berikut kutipannya lengkapnya:

“ANAK CACAT KOK DIBAWA KE TEMPAT UMUM?”

Jangan baper baca judulnya, yaaa…. Kalimat yang saya tulis dengan huruf kapital itu pernah mampir di kuping saya begitu dekatnya. Saking dekatnya, hati saya pun turut mendengarnya.

Saya jarang mau bercerita hal-hal yang menyakitkan. Lebih sering disimpan di ruang yang sangat tersembunyi. Kali ini saya mau membaginya, toh kejadiannya sudah lama sekali, waktu Kak Rana berusia baru 2 digit dan de Azmi balita bunder dengan pipi bakpao-nya.

Saya mengajak mereka berdua berenang. Ditemani 2 asisten. Jadilah kami berlima seperti rombongan sirkus berangkat menuju lokasi swimming pool yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Di hari-hari tertentu Rana sebetulnya sudah mendapat hydroterapi rutin di klinik khusus dengan air (agak) hangat. Namun, sesekali kami merasa perlu juga mengajaknya nyebur di kolam renang.

Sensasi yang diperoleh Rana pasti berbeda. Apalagi bila bersama adiknya yang lincah enggak bisa diam saat berada di air. Dijamin seru.

Tidaklah mudah untuk bisa byur di kolam renang. Dengan berat 28 kg (waktu itu) Rana perlu dibopong dua orang. Cara ini bermaksud membiasakan posisi tulang punggung lurus, panggul sampai lutut di posisi yang tetap satu tarikan garis lurus.

Suasana kolam renang tergolong lengang. Mungkin karena hari sekolah. Azmi sudah langsung heboh bertemu air, sementara Rana masih penyesuaian terhadap dinginnya air. Kami membantunya dengan menggerakkan kaki dan tangan.

Belum sampai 5 menit di air, tetiba ada seorang ibu mendekat.
“Anaknya kenapa?”
“Sedang latihan, Bu.” Saya merasa kurang nyaman dengan caranya menatap Rana.
“Latihan renang maksudnya?”
“Bukan untuk bisa berenang, kok. Tapi untuk stimulasi agar ototnya bekerja sehingga kakinya bergerak.” Kemudian mengalirlah penjelasan saya tentang kondisi Rana.
“Emang enggak ada kolam renang khusus untuk anak kayak gitu?”
“Maksud Ibu, khusus gimana?”
“Ya khusus untuk anak-anak kayak anak Ibu, bukan di kolam renang umum.”
“Wah kalau rumah saya ada kolam renang pasti saya enggak ke sini.” Saya mencoba bercanda padahal darah udah mendidih banget.
“Harusnya tidak di kolam umum, kan bahaya menular ke anak lain.” Oh ternyata itu kekhawatirannya sehingga dia mencecar saya dengan hujaman pertanyaan.

Jangan ditanya bagaimana saya begitu antusias menjelaskan all about Cerebral Palsy, dengan penekanan TIDAK MENULAR.

Belum kelar rasanya saya menjelaskan ketika si ibu itu nyuruh kedua anaknya menyudahi kegiatan berenangnya. “Ayo naik. Enggak nyaman di sini.”

Lho? Di bagian mana dia merasa tidak nyaman? Kolam renang begitu luasnya dengan pengunjung yang tengah sepi, sementara kami hanya menggunakan pinggiran kolam di sebuah sudut dan mustahil bergerak jauh melebar, kan?

Sambil menaikkan 2 anak balitanya ke bibir kolam, dia berkata yang sampai sekarang masih terngiang, “Anak cacat kok dibawa ke tempat umum.”

Pyaaaarrrrr….. tubuh saya rasanya menggigil bukan lantaran dinginnya air.

Andai saja kedua tangan ini tidak sedang menjaga kepala dan bahu Rana, pengen betul saya tarik itu rambut Ibu yang menghina seenak udel.

Dia pikir….. Aaah saya tatap 2 asisten yang matanya sudah penuh air mata. Badan Rana bertambah spastik karena merasakan ketegangan sekitarnya. “Udah biarin aja. Lumayan juga 4 orang pergi dari kolam. Makin sepi. Anggap aja kolam renang sendiri.”

Artikel terkait: Cerebral Atrophy pada Anak: Penyebab, Gejala, Hingga Perawatannya

Saya masih mampu menenangkan semua anggota keluarga. Padahal… periiih hati saya tak terkira.

Tentu saja penolakan dan penghinaan ini bukan baru pertama kali kami alami. Saya tidak bisa meminta semua orang untuk paham dan mau hidup berdampingan dengan penyandang Cerebral Palsy.

Sekaligus membuat saya tidak pernah putus semangat untuk terus menerus mensosialisasikan Cerebral Palsy, minimal di lingkungan terdekat dan terhadap orang-orang yang mencari tahu dan care tentang itu. Bagian yang bisa saya lakukan just share. Saya tidak bisa mengubah cara pandang semua orang terhadap pentandang CP atau difabel lainnya.

Setiap kali mendapat perlakuan tidak menyenangkan, saya makin paham mengapa Allah menitipkan Rana pada saya. Saya bersyukur diberi kesempatan olehNYA untuk memiliki perjalanan hidup dengan warna yang lengkap.

Dengan memahami apa itu cerebral palsy, tentu kita tidak perlu merasa khawatir bahkan mengucilkan bukan?

 

Baca juga:

Perjuangan Bocah Penderita Cerebral Palsy Menyelesaikan Pertandingan Triathlon

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner