Anak stres belajar, ayah ini lakukan sesuatu untuk mengubahnya

lead image

Menghadapi anak tidak mau belajar tidak selalu menggunakan emosi dan amarah. Ayah ini mencoba berbagi pengalamannya melalui thread yang menginspirasi.

Salah satu dilema orangtua adalah ketika menghadapi anak tidak mau belajar. Parents pasti dibuat pusing bukan main ketika melihat nilai anak menurun, di bawah rata-rata, sulit belajar, tidak mau mengerjaan PR, tidak mau menurut, dan lain sebagainya.

Tetapi, pernahkah Anda berpikir bahwa cara setiap anak itu belajar berbeda-beda dan mereka pun memerlukan pendekatan dan cara mendidiknya juga berbeda?

Menyadari hal tersebut, seorang ayah membagikan pengalamannya dalam menangani masalah pendidikan sang anak melalui beberapa cuitan di akun Twitter pribadinya.

Menghadapi anak tidak mau belajar dengan keterbukaan

Menghadapi fase dimana anak tidak mau belajar memang susah-susah gampang. Kebanyakan, orangtua akan langsung marah, menyalahkan, dan juga menghakimi anak-anaknya, terlebih jika nilai si kecil buruk atau menurun.

Nyatanya, prestasi anak yang buruk bukan selalu disebabkan oleh kemalasan atau prilaku anak tersebut. Tetapi, sudahkah Anda mencari penyebab atau alasan kenapa hal itu bisa terjadi? Apakah metode belajar yang kita terapkan di rumah sudah sesuai? Bagaimana gaya pola asuh kita? Apakah pernah berpikir untuk ‘mendengarkan’ alasan si kecil?

Ya, mendengarkan ‘suara’ atau pendapat anak mungkin bisa menjadi salah satu cara dalam mengatasi kondisi anak tidak mau belajar. Seperti yang dilakukan oleh pemilik akun Twitter bernama @glrhn ini. Seorang ayah bernama Rahan Galileo, membagikan pengalamannya dalam menghadapi sang anak, yang diketahui bernama Mikael itu melalui beberapa tweet yang menginspirasi.

 

Berawal ketika ia menyadari bahwa sang anak mendapatkan nilai bagus hanya karena ingin membuat ayahnya senang. Di situ ia menyadari ada ‘sesuatu yang tidak semestinya’.

Suatu waktu, sang anak berusia 6 tahun yang diketahui memiliki kecenderungan kinestetik itu terpaksa harus mengikuti sistem belajar konvensional, yang lebih banyak duduk diam berjam-jam mengikuti pelajaran di kelas, karena suatu hal.

Dalam tweet-nya dijelaskan, beberapa bulan pertama mengikuti cara belajar konvensional, sang anak menunjukkan tanda-tanda stres, hilang fokus, dan pelupa. Menurutnya, di fase ini Mikael banyak memperlihatkan sisi minusnya, termasuk tidak mau belajar dan mengerjakan PR.

Artikel terkait: 5 Cara Membantu Anak yang tidak Fokus di Sekolah

Meski sempat meluapkan emosi, ia mencoba mengajak sang anak berdiskusi baik-baik.

“Kami Tanya kenapa dia main terus? Dan dia menjawab sederhana: ‘Karena di otak aku isinya memang main.’. Di situ kami tahu, ada yang salah pada pola pengajaran kami,” tulis akun @glrhn dalam cuitannya 3 September 2018 lalu.

Mendengar alasan itu, sang ayah tersebut mencoba berdiskusi dengan anaknya tentang apa yang diinginkan sang anak. Ia dan sang istri pun akhirnya menuruti kemauan sang anak, yaitu belajar dengan guru les selama beberapa minggu. Dengan guru lesnya, Mikael menceritakan isi hatinya.

“Mikael cerita ke guru lesnya, di rumah itu harusnya untuk bermain sama Mommy dan Daddy. Dia juga tidak mau mengerjakan PR di rumah karena dia tidak mau membebani ibunya yang sudah cukup repot mengurus sang adik. Ia juga tidak mau membebani gw untuk membantunya mengerjakan PR karena menurutnya gw pasti lelah pulang kerja malam terus.” tulis akun @glrhn dalam thread-nya.

Alasan tersebut mungkin tak pernah terpikirkan bagi kita para orangtua.

Thread cuitan tersebut memang menyadarkan kita sebagai orangtua tentang banyak hal. Bahwa anak-anak juga memiliki alasan tersendiri tentang apa yang mereka inginkan.

Bahwa ada berbagai cara untuk mendidik anak untuk sukses di bidangnya, tidak hanya dengan cara yang konvensional. Kita juga disadarkan bahwa menjalani peran sebagai orangtua, ada banyak pelajaran yang justru didapat saat kita menghadapi anak. Ya, orangtua bisa belajar dari anak.

 

Tak perlu terlalu memaksakan anak tidak mau belajar. Selama diajak bicara dan terbuka, yang terpenting sang anak tahu risikonya. Di sinilah pentingnya untuk terbuka dan jujur pada anak, dan percayalah hal ini pun akan memiliki dampak yang positif.

 

 Baca juga:

Mengapa Anak Tak Suka Belajar?