Cemas membiarkan anak pergi sekolah sendiri? Simak tips keamanan untuk anak berikut ini

lead image

Membiarkan anak pergi sekolah sendiri bisa jadi membuat Anda merasa khawatir, agar anak aman dan Parents merasa tenang, simak tipsnya berikut ini.

Tidak semua orang tua memiliki waktu dan kemewahan untuk mengantar anak-anak mereka bolak-balik sekolah dan rumah, jadi bukan merupakan pemandangan baru ketika kita melihat anak pergi sekolah sendiri, baik menggunakan bus ataupun taksi dan ojek online.

Memang ada masanya ketika Parents memberi keleluasaan anak pergi sekolah sendiri. Beberapa orangtua mengizinkan anaknya berangkat sendiri ketika si kecil telah berusia 11 tahun, beberapa juga memberi izin ketika anaknya berumur lebih muda dari itu.

Meski kita tahu, anak kita berhasil mencapai sekolah dengan selamat, namun terdapat sejumlah hal yang harus diperhatikan. Khususnya keamanan ketika si kecil berada di jalan raya, apakah si kecil telah menyeberang dengan benar? Apakan ia menggunakan zebra cross atau jembatan penyeberangan dengan benar? Bagaimana ia ketika harus berinteraksi dengan orang asing di sepanjang perjalanannya?

Tips aman melepas anak pergi sekolah sendirian

Berikut adalah beberapa tindakan pencegahan penting yang harus Parents lakukan dengan hati-hati ketika anak bepergian sendirian:

1. Ajari si kecil menjadi pejalan kaki yang baik

anak pergi sekolah

Tips agar anak pergi sekolah dengan aman.

Parents perlu mengingatkan anak untuk selalu menyeberang di tempat penyeberangan yang tepat. Ketika menyeberang, anak juga perlu selalu waspada terhadap lalu lintas di sekitarnya.

Jika memungkinkan, gunakan jalan setapak dan hindari jalan raya. Selain itu, anak juga perlu dingatkan untuk menghindari menyeberang di antara ramainya kendaraan. Tunggu sampai lampu hijau menyala sebelum menyeberang.

2. Jangan pakaikan name tag yang mencolok di badan anak

Kebanyakan orangtua akan memberi label stiker nama anak mereka dan menempelkannya di kotak pensil, botol air, buku, dan setiap barang yang mereka miliki. Namun begitu, Parents sebaiknya tidak memakaikan benda serupa di tempat mencolok yang bisa dibaca setiap orang, seperti di jaket atau tas sekolah.

Hal ini untuk menghindari orang asing mendekati anak dan memanggilnya dengan nama yang orang itu tahu dari name tag tersebut. Hal ini juga perlu untuk mencegah lebih banyak penculikan anak.

3. Tentukan umur yang tepat untuk anak boleh berangkat sekolah sendiri

Pastikan bahwa si kecil telah tepat pada usia yang benar-benar siap untuk pulang dan pergi sekolah sendiri. Rata-rata orangtua mengizinkan anaknya pulang-pergi sekolah sendiri ketika ia berusia sekitar 10 – 12 tahun. Tetapi tentu saja ini juga tergantung pada tingkat kedewasaan setiap anak.

4. Buat kode rahasia yang cukup mudah untuk diingat oleh anak-anak

anak pergi sekolah

Para ahli merekomendasikan Parents membuat ‘kata sandi’ keluarga untuk digunakan ketika si kecil menghadapi orang asing atau situasi tidak nyaman di luar rumah.

Misalnya ketika orang asing mendekati anak dan mengklaim bahwa ia menjemputnya dari sekolah atas nama Anda hari itu, tetapi tidak dapat memberikan kata sandi rahasia, maka anak Anda akan tahu bahwa orang itu bohong dan menolak penjemputan tersebut!

5. Waspadai orang jahat

Selain penting untuk belajar menghadapi orang asing, Parents juga butuh mengajari si kecil ketika ia harus bertemu orang jahat. Orang jahat di sini adalah orang dewasa yang berbahaya, yang akan menipu si kecil agar melakukan sesuatu yang salah atau berbahaya.

Mereka bahkan bisa jadi adalah kerabat atau teman keluarga, atau orang asing berpakaian bagus yang hanya tampak tidak berbahaya berdasarkan penampilan, yang akan membuat anak melakukan perilaku membahayakan dirinya sendiri.

6. Ajari anak untuk tahu kapan harus berlari

anak pergi sekolah

Katakan kepada anak untuk selalu mempercayai naluri dan instingnya, terlebih ketika ia merasa tidak nyaman. Insting ini juga dikenal sebagai “uh oh feeling“, yang akan memberinya dorongan untuk melarikan diri dari siapa pun atau apa pun ketika perasaannya berkata ia dalam bahaya.

7. Ajarkan anak apa yang harus dilakukan jika dia tersesat dan tidak dapat menemukan jalan pulang

Beri catatan nomor telepon yang bisa ia hubungi di buku catatan kecil. Sehingga ia bisa meminta bantuan orang dewasa (petugas keamanan, polisi, satpam terdekat) untuk menelepon anda ketika ia tersesat.

Parents juga bisa menyarankan untuk ia pergi ke halte bus terdekat dan menggunakan panduan bus untuk mencari tahu di mana dia sedang di mana. Apa pun itu, ingatkan dia untuk selalu tetap tenang dan fokus saat dia mencoba untuk mencari tahu langkah selanjutnya.

8. Tetap terhubung

Jadikan kebiasaan bagi anak untuk terus terhubung dengan Anda. Ajarkan anak untuk menghubungi anda sesampainya ia di rumah. Atau ketika dia sampai di sekolah dengan selamat.

9. Memiliki teman perjalanan

Jika si kecil memiliki teman sekolah yang tinggal di kompleks yang sama, itu adalah ide yang baik baginya untuk berteman dan memiliki teman seperjalanan saat anak pergi sekolah. Dengan begitu, mereka dapat saling mengawasi satu sama lain dan juga saling menjaga satu sama lain selama perjalanan ke sekolah dan kembali ke rumah.

Parents juga dapat menghubungi mereka atau orang tua mereka jika ada keadaan darurat, jika Parents tidak dapat menghubungi si kecil karena suatu alasan. Jangan lupa untuk bertukar nomor telepon dengan teman perjalanan anak Anda dan orangtuanya untuk berjaga-jaga.

10. Berlatih bersama

Sebagai latihan, biarkan anak pulang dari sekolah bersama Anda dengan metode perjalanan si anak sendiri. Ini akan menjadi latihan yang baik baginya untuk terbiasa dengan rute yang ia pilih dan disepakati dengan Anda.

Dalam latihan ini, Parents bisa mencoba menciptakan skenario-skenario tertentu yang mungkin dia hadapi (seperti dihentikan oleh orang asing, atau naik bus yang salah, atau tersesat) dan apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti itu.

 

Baca juga: 

Kak Seto: "Jangan salahkan anak jika dia takut sekolah"

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.

Written by

Kalamula Sachi