Anak 3 Tahun diusir dari Masjid dengan kasar saat tarawih, Pantaskah?

Anak 3 Tahun diusir dari Masjid dengan kasar saat tarawih, Pantaskah?

Keberadaan masjid ramah anak penting bagi orangtua yang beragama Islam. Karena anak harus mulai dikenalkan dengan masjid dan nilai keislaman sejak dini.

Banyak orangtua yang ingin mengenalkan nilai-nilai agama sejak kecil pada anaknya. Salah satunya dengan mengenalkan anak ke masjid. Untuk dapat melaksanakan hal itu, dibutuhkan sebuah masjid ramah anak.

Namun, masjid ramah anak ini tak bisa ditemui di banyak tempat. Banyak masjid yang belum memperbolehkan orangtua yang mengajak anaknya. Alasan mengganggu konsentrasi ibadah para jamaah sering diberikan oleh para penjaga masjid.

Misalnya seperti yang diceritakan oleh Gheny Purbo ini. Ia bercerita pengalamannya saat mengajak anaknya shalat Tarawih di masjid, yang kemudian diusir dengan kasar karena dianggap mengganggu ibadah.

masjid ramah anak

 

Tahun kemarin…

Anak maju sampai shaff imam dan pakai mikrofon imam pas lagi sholat witir waktu Tarawih. “Awoh awoh abal amiin amin amiin”

Tahun ini…

Anak saya laki-laki umur 3 tahun kurang, aktif luar biasa. Di bulan Ramadhan ini sudah 2 kali ini saya bawa sholat Tarawih.

Setiap harinya kalau dengar suara adzan langsung cari kopiah dan langsung ke masjid. Namun selalu saya larang, soalnya ganggu jamaah sholat.

Nah ini tadi anak saya seperti biasa jalan-jalan, lari-lari, ngomong keras, dan lain lain. Begitulah ulahnya dalam masjid waktu sholat Isya’ berlangsung.

Setelah selesai sholat isya’ mau ke sholat Tarawih, salah satu jamaah laki-laki yang sudah menikah namun belum dipercaya punya anak. Dia pun menikah dengan keponakannya sendiri. Orang tuanya imam di masjid saya dan pas jadi imam hari ini juga.

Dia mengangkat anak saya dengan kasarnya sambil bilang, “ayo metu!!!!” (keluar sana!)”

Terus anakku dijatuhkan begitu saja di keset depan pintu masjid. Sampai suaranya terdengar seperti “maakkbuuookk!!”

Anak saya langsung diam duduk bersila dan mau nangis pun tidak bisa menangis. Kalau tidak merasa sakit anak itu pasti berdiri dan lari lagi. Tapi ini tidak.

Hati saya seperti tersambar petir di siang bolong, namun saya diam.

Sebelumnya saya pikir itu tadi yang mengangkat anak saya adalah suami saya. Saya dan ibu saya terkejut. Ibu menyuruh saya untuk menemui anak.
Saya samperin anak lalu gendong pulang. Padahal biasanya tidak mau pulang. Ini saya gendong langsung mau trus peluk saya.

Suami saya di shaff laki-laki depan juga diam saja tidak tahu. Namun pulang dari masjid juga emosi denger cerita dari saya. Lalu ia menghampiri dan menegur orang itu.

Mereka berdua saling berdebat sengit.

Terdengar sayup dari dalam rumah, “mas sampean nek shalat nang kuburan etan kae lho sepii!!” (Mas, kamu kalau mau shalat dengan kondisi yang sepi, di kuburan sebelah timur sana aja. Dijamin sepi.)

Aku biarin aja deh mboh kono podo debato (terserahlah, debat aja sana semuanya). Si ayah nggak terima anaknya diperlakukan seperti itu.

Si tetangga merasa dirinya anaknya (maaf) dari imam di situ dan kepercayaan masjid. Kata dia, dia itu pengurus masjid, tapi tak pernah ke masjid alias jarang banget ke masjid.

Wes mboh kono. (Bodo amat lah).

Maksud saya kalau terjadi seperti ini, tegur saja baik-baik orang tuanya agar anak ini pulang saja, soalnya menganggu.

Kalau tidak tau siapa orangtuanya, setidaknya tanya jamaah yang lain. Soalnya rumah saya nempel masjid pas. Pasti semua jamaah pada tau itu anak atau cucu siapa.

Bukan malah mengkambing hitamkan anak yang tidak tau apa-apa!!

Kalau ada kerusakan pada organ dalam anak saya yang tanggung jawab siapa coba.

Niat orang tua ingin mengenalkan anak pada masjid. Tapi kalau sekiranya mengganggu, saya sebagai orangtua senang kalau ditegur demi kebaikan bersama.

Sangat salah bila pengurus masjid melarang anak-anak masuk masjid. Sebagai pengurus sebaiknya menasihati dengan lemah lembut degan bahasanya anak.

Jika terus menerus anak dilarang masuk masjid, maka akan tertanam di otaknya masjid tempat yang menakutkan.

Untuk pengurus masjid, coba renungkan. Di kitab tafsir Alquran pun dijelaskan, di dalam surga banyak anak-anak dan mereka pun berisik di dalamnya.

Jadikanlah masjid tempat yang nyaman bagi anak-anak. Bukan tempat yg menakutkan.

NB:
Saya paham tentang kalau bawa anak ke masjid lebih baik yang sudah MUMAYYIZ (anak yang sudah berusia 7 tahun dan dapat membedakan mana yang benar dan salah). Tapi sifat KASAR Orang itu (tetangga) yang tidak dapat kami terima!! Ma’e lagi meredam amarah

#DICARIMASJIDRAMAHANAK

Statusnya viral di Facebook hingga dibagikan oleh lebih dari 17.000 akun. Ia pun mendapat respon serupa dari para ibu yang mengajak anaknya ke masjid.

Jika sekarang ini kita mulai prihatin dengan banyaknya jumlah masjid dengan jamaah yang sepi kecuali pada salat Jum’at dan hari raya, ada baiknya kita merenungkan, apakah ini semua terjadi karena banyak masjid yang sudah lama melarang anak-anak untuk datang sehingga anak-anak mulai tak terbiasa dengan masjid dan memilih tempat nongkrong di jalanan daripada berkumpul di rumah Allah.

Kita butuh masjid ramah anak agar mereka terbiasa dengan suasana Islami yang dibangun keluarga dan masyarakatnya. Jika masjid ramah anak susah dicari, siapa yang kelak memakmurkan masjid?

Setuju, Parents? 

 

Baca juga:

Mengajak balita shalat Tarawih di Masjid, ini tipsnya agar anak tak rewel

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner