Penelitian: Anak dari Orang Tua Obesitas Cenderung Lambat Belajar

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Pola hidup sehat dalam keluarga itu penting. Sebuah penelitian mengaitkan antara orang tua obesitas dengan kemampuan anak dalam belajar. Bagaimana hasilnya?

Penelitian dari National Institutes of Health (NIH) Amerika baru-baru ini menyatakan bahwa anak dengan orang tua obesitas cenderung lambat belajar. Selain itu, anak tersebut juga akan memiliki kemampuan motorik yang rendah.

Studi ini melibatkan 5000 ibu dan anak di Kota New York. Survei tersebut menyatakan bahwa 70% anak yang memiliki orang tua obesitas mengalami kegagalan perkembangan motorik pada usia 3 tahun.

Peneliti Dr Edwina Yeung ini menerbitkan temuannya pada jurnal kedokteran anak. Ia membedakan antara anak yang terlahir dari ibu yang dari awal sudah gemuk dan ibu yang baru gemuk setelah melahirkan.

Tak hanya soal ibu, obesitas pada ayah juga akan berpengaruh banyak pada perkembangan anak. Terutama dalam hal motorik dan problem solving atau memecahkan masalah dan berinteraksi dengan orang lain.

Hasil dalam studi tersebut menunjukkan bahwa anak dari orang tua obesitas akan susah mengerjakan soal yang berkaitan dengan memecahkan masalah tiga kali lipat daripada anak yang memiliki orang tua yang berat badannya normal.

Sekalipun sudah menggunakan banyak sampel dan metode, penyebab dari ini semua belum ditentukan secara pasti. Untuk sementara, peneliti meyakini bahwa ini berkaitan dengan perkembangan otak anak yang diturunkan dari orang tua.

Universitas Stanford juga mengeluarkan sebuah penelitian yang menyatakan bahwa orang tua yang obesitas akan cenderung memiliki anak yang obesitas juga. Riset ini melibatkan 150 anak yang didata sejak mereka masih bayi.

Riset ini dilakukan berdasarkan variabel berat badan bayi saat lahir, berat badan orang tua, pola makan dan pola hidup orang tua, perkembangan berat badan anak hingga usia mereka mencapai 9,5 tahun.

Dari pengamatan itu, Profesor Stewart Agras, MD, dari emeritus psikiatri dan ilmu perilaku Universitas Stanford mencatat bahwa temperamen anak cenderung berubah karena efek orang tua obesitas.

46% anak-anak dengan disposisi sensitif dan orang tua obesitas akan menjadi obesitas juga, dibandingkan dengan 19 persen dari anak-anak tanpa disposisi ini.

"Penting untuk orang tua agar tidak memberikan solusi berupa makanan pada anak yang tantrum. Karena beberapa orang tua justru memberikan makanan pada anak agar ia berhenti tantrum," ujar Profesor Agras.

Anak dan orang tua yang obesitas juga memiliki potensi terserang diabetas tingkat 2, asma, dan hipertensi yang dulunya sempat dianggap sebagai penyakit orang tua.

Untuk menghindari obesitas, orang tua disarankan untuk mengajak anak untuk berolahraga. Karena studi mengatakan anak yang obesitas biasanya kurang banyak bergerak.

Berikut manfaat dari olahraga untuk anak-anak:

  • Secara akademik cenderung lebih baik
  • Mencintai diri sendiri, tubuh mereka dan percaya diri dengan kemampuan mereka
  • Mengatasi stres dan cenderung lebih mudah mengatur emosi mereka
  • Dapat mengatasi perasaan rendah diri, kecemasan, dan depresi yang timbul terutama saat mereka dewasa nanti.

Untuk bisa membuat anak mau menjalani pola hidup sehat, Anda juga harus memulainya sendiri. Karena anak akan melakukan apa yang telah dicontohkan padanya.

Berikut ini alasan mengapa orang tua perlu memulai gaya hidup sehat demi anak:

1. Orang tua adalah contoh

Seperti disebutkan di atas, tanpa melihat orang tuanya, anak tak akan memulai gaya hidup sehatnya. Jika ia mengetahui bahwa orang tuanya memberikan contoh gaya hidup tak sehat, maka anak akan menyalahkan orang tua yang dianggapnya kurang memberi contoh pada anak.

Jika Anda terbiasa dengan makanan cepat saji dan membawa anak ke restoran cepat saji, maka Anda akan membuat anak obesitas dini. Apalagi jika anak mulai menyukai makanan cepat saji tersebut dan tak mau mencoba menu makanan sehat lainnya.

Bacaan terkait: Iklan makanan cepat saji di aplikasi anak sebabkan obesitas dini.

2. Fungsi kontrol

Penting bagi orang tua untuk jalankan fungsi kontrol soal makanan apa yang bisa dikonsumsi pada anak. Anda juga bisa memonitor diet makanan dan olahraga untuk membuat anak punya gaya hidup lebih sehat.

3. Penentu selera

Andalah yang akan menentukan soal selera makan macam apa yang dimiliki oleh anak. Anak yang terbiasa dengan sayuran akan makan sayuran, anak yang terbiasa makan makanan tak sehat di rumah akan menyukai makanan tersebut.

Kebiasaan makan apa adanya juga ditentukan di sini. Sehingga pola ini akan berpengaruh sampai ia dewasa kelak.

Artikel terkait: Mengapa anak suka pilih-pilih makanan?

4. Anda adalah penjaga dan pembela anak

Menyediakan anak makanan yang sehat di rumah saja seringkali tak cukup. Dibutuhkan peran lingkungan sekitar untuk membentuk gaya hidup sehat pada anak.

Misalnya, Anda mengusulkan menu makanan yang sehat untuk makan siang pada sekolah. Atau menginisiasi kegiatan olahraga bersama dengan anak-anak di kompleks tempat Anda tinggal agar anak-anak yang lain ikut berpartisipasi sekaligus bersosialisasi di kegiatan tersebut.

Orang tua obesitas kadang dimaklumi karena hampir semua orang yang bertambah usia dan sibuk memang tak menyempatkan dirinya untuk berolahraga. Namun, jangan sampai, alasan kemalasan bisa mengorbankan kemampuan belajar, motorik, dan sosialisasi anak.

 

Referensi: Metro, Healthy Central, APAStanford,

Baca juga:

Terlalu Banyak Naik Berat Badan Saat Hamil Berbahaya Bagi Bayi

 

Dapatkan info Terkini Seputar Dunia Parenting

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kesehatan ibu dan anak