Air ketuban sedikit saat hamil, waspadai bayi alami cacat lahir

Air ketuban sedikit saat hamil, waspadai bayi alami cacat lahir

Air ketuban bertugas melindungi janin di dalam rahim. Jika air ketuban sedikit, sangat berisiko bagi kehamilan, salah satunya Amniotic Band Syndrome. Apa itu?

Setiap wanita pastinya mengharapkan kehamilannya sehat. Namun selain infeksi dan penyakit keturunan, masih ada masalah lainnya yang bisa terjadi selama kehamilan. Salah satunya adalah air ketuban sedikit yang bisa menyebabkan cacat bawaan pada bayi.

Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang cacat lahir langka, Amniotic Band Syndrome yang juga disebabkan oleh air ketuban yang sedikit. Bagaimana cara mencegahnya?

Bunda yang sedang hamil perlu mengetahuinya!

Apa itu Amniotic Band Syndrome (ABS)?

air ketuban sedikit

dok.foto: University of San Francisco

Amniotic Band Syndrome (ABS) adalah kondisi yang bisa terjadi selama kehamilan. Di dalam rahim, bayi Anda dibungkus dalam kantung ketuban yang mengandung cairan yang disebut amnion. Cairan amniotik ini membuat bayi terapung di dalam rahim.

Air ketuban ini bertugas melindungi janin dari guncangan, dan lain sebagainya. Selain mencegah infeksi, cairan ini juga membantu menjaga suhu di dalam rahim.

ABS terjadi ketika jumlah air ketuban sedikit, sehingga tidak sepenuhnya membungkus badan janin. Kurangnya cairan ketuban bisa terjadi akibat selaput ketuban yang rusak atau sobek sebagian. Akibatnya, jaringan tubuh bayi yang tidak tertutupi cairan ketuban gagal berkembang dan mengakibatkan kecacatan pada bagian tubuh tersebut.

Cacat lahir yang bisa terjadi akibat air ketuban sedikit

  • Bagian tubuh janin yang gagal berkembang itu harus diamputasi, sehingga bayi tidak memiliki jari tangan dan kaki saat lahir. Selain itu, bayi juga bisa lahir tanpa lengan atau kaki.
  • Dalam beberapa kasus, bayi bisa lahir dengan anggota badan dengan jaringan yang mati, sehingga harus diamputasi.
  • Bibir atau langit-langit mulut bayi terbelah.
  • Clubfoot, di mana kaki bayi berubah dari posisi yang normal.
  • Dalam kasus yang parah bisa terjadi kematian janin.

Tingkat keparahan ABS dinilai dari masing-masing kasus, ABS bisa ringan ataupun cukup parah. Namun perlu diingat, cara pencegahan sindrom ini dinilai agak sulit. ABS sulit dideteksi dini. Pemeriksaan kehamilan seperti USG rutin pun diketahui tidak dapat mendeteksi kondisi ini.

Artikel terkait: 5 Cacat lahir pada bayi yang sering terjadi di Indonesia

 Apa faktor penyebab ABS dan cara mencegahnya?

Sindrom ini merupakan gangguan kehamilan langka yang sangat jarang terjadi. Peluang terjadinya hanya  1 banding 1.200 hingga 1 banding 15.000 kelahiran. Penyebabnya masih sulit dicari tahu, karena terjadi secara kebetulan, dan tidak diturunkan secara genetik.

Kondisi ini juga tidak terkait dengan apa pun yang Anda lakukan selama kehamilan. Jadi, tidak ada cara yang pasti untuk mencegahnya.

Penelitian terbaru bahkan belum menunjukkan penyebab pasti atau faktor dari terjadinya ABS. Sejumlah  penelitian sederhana telah dilakukan untuk memelajari masalah ini, tetapi para peneliti masih perlu melakukan penelitian lebih lanjut. Namun, ada beberapa faktor yang diduga bisa menjadi pemicu terjadinya kasus ini:

  • Pernah melakukan operasi rahim sebelumnya.
  • Tes genetik, diduga menggunakan jarum yang bisa menyebabka amnion robek.
  • Wanita hamil yang terpapar Miroprostol, obat yang memicu aborsi.
  • Merokok dan penggunaan narkoba saat hamil.

Untuk memastikan bahwa bayi Anda tidak berisiko mengalami kelainan ini, ikuti panduan untuk perawatan prakonsepsi.

Diagnosis ABS

Dokter atau spesialis yang berpengalaman mungkin bisa menemukan tanda ABS berdasarkan pemindaian ultrasound yang biasanya dilakukan saat kehamilan berusia 12 minggu.

Jika dokter mencurigai bayi Anda memiliki ABS, diskusikan hal ini dengan spesialis yang berpengalaman dengan kondisi ini. Seorang ahli dalam ABS akan dapat memandu Anda tentang langkah apa yang tepat untuk dilakukan.

Setelah Anda melahirkan, ada beberapa cara dokter Anda dapat menilai apakah bayi Anda memiliki ABS atau tidak, melalui beberapa cara:

  • Pemeriksaan fisik. Dokter Anda akan mencari anggota badan yang cacat atau kelainan fisik pada bayi Anda.
  • X-Ray, yang digunakan untuk menilai seberapa dalam pita amniotik yang mungkin berdampak pada jaringan di bawah kulit.
  • Penindaian MRI atau scan lain.

Setelah dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi bayi Anda, ia akan menentukan tentang opsi perawatan yang sesuai. Operasi janin mungkin akan direkomendasikan untuk kasus yang parah, sedangkan kasus ringan dapat diobati dengan pembedahan rekonstruktif setelah melahirkan.

 

Itulah tentang Amniotic Band Syndrome (ABS) yang perlu diketahui para ibu selama hamil. Perhatikan kondisi kehamilan Anda, dan selalu waspada jika ada tanda yang mencurigakan. Yang paling penting adalah jalani hidup sehat dan rutinlah memeriksakan kondisi kehamilan Anda di dokter kandungan.  

 

 

Dilansir dari artikel Kevin Wijaya Oey
Baca juga: 

Yang Harus Dilakukan Jika Bayi Lahir dengan Cacat Lahir (Birth Defect)

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner