5 Tips membesarkan balita yang jarang diketahui orangtua

5 Tips membesarkan balita yang jarang diketahui orangtua

Saat bayi memasuki usia balita, orangtua menghadapi tantangan tersendiri. Parents harus mempunyai trik khusus agar bisa membesarkan balita dengan baik.

Beragam teori parenting – baik dari buku maupun hasil seminar – yang telah Parents praktikkan, namun setiap kali berhadapan dengan anak, semua menguap begitu saja. Memang tidak mudah membesarkan balita, apalagi jika ini adalah pengalaman pertama Anda sebagai orangtua.

Salah satu hal yang perlu diingat dalam membesarkan balita, menurut Dr. Tovah Klein dalam bukunya How Toddler Thrive: What Parents Can Do Today for Children Ages 2 – 5 to Plant the Seeds of Lifelong Success, balita bukanlah orang dewasa versi mini. Mereka adalah individu yang penuh rasa ingin tahu.

Terkadang kita berharap balita kita mampu berpikir dan bertindak sesuai dengan standar manusia dewasa. Inilah yang sering membuat Parents frustasi saat membesarkan balita.

Artikel terkait: Hadapi balita yang suka bilang tidak dengan 4 trik cerdas ini

Berikut ini 5 hal yang wajib Parents ketahui tentang hal-hal yang berkaitan dengan membesarkan balita.

1. Balita tidak mengenal konsep waktu

Saat sedang terburu-buru untuk pergi, balita Anda justru malah berlama-lama untuk bangun dan mandi. Ia malah lebih memilih bermain atau malah bermalas-malasan, sedangkan Parents sudah berulang kali membujuknya.

Menurut Dr. Tovah, struktur otak balita memang belum berkembang untuk memiliki konsep waktu. “Karena balita tidak memiliki konsep waktu dan otak mereka masih terus berkembang, mereka belum memiliki kemampuan yang digunakan oleh kebanyakan orang dewasa untuk mengatur jadwal, mengontrol keinginan, mengekspresikan apa yang dibutuhkan, merencanakan dengan cermat setiap tindakan, dan bahkan mengatasi stres.

Balita hidup di masa sekarang. Jadi, ketika Parents berkata “Kita berangkat 5 menit lagi.”, mereka hanya tahu bahwa mereka tidak akan berangkat sekarang, tanpa tahu berapa lama 5 menit itu.

Itulah mengapa balita akan sering menjawab ‘lima menit lagi ya Bun’ setiap kali ditanya berapa lama ia ingin bermain atau screentime atau berenang.

Salah satu cara agar balita mengerti soal konsep waktu adalah dengan mengulang rutinitas yang sama setiap hari sambil menyebutkan urutan (pertama, kedua, selanjutnya, berikutnya, terakhir, dll). Namun, balita Anda baru akan benar-benar memahami konsep waktu adalah ketika ia duduk di sekolah dasar.

2. Berikan kepercayaan pada balita untuk membuat keputusan

Cara lain untuk dapat memahami balita adalah dengan melihat dunia dari perspektif mereka. Terkadang, orangtua menganggap anak masih terlalu kecil untuk memiliki pendapat atas apa yang mereka lakukan, apa yang mereka makan, ke mana mereka akan pergi, dan sebagainya.

Parents memang memiliki kekuasaan dan kontrol terhadap anak. Tapi biarkan ia membuat keputusan untuk dirinya sendiri, misalnya pakaian yang ia ingin mereka pakai, makanan yang ingin ia makan, kapan mereka ingin ke toilet, kapan mereka ingin tidur, apa yang boleh mereka katakan.

Dr. Tovah mengatakan bahwa balita akan belajar membuat keputusan dan Parents harus memberikan kesempatan padanya. Jadi, jika suatu hari balita Anda tidak mau pakai baju, tanyakan padanya apa yang mau ia kenakan hari itu.

Bila ia kebingungan, bantu balita Anda dengan memberi dua pilihan. Atau tanyakan sepatu sebelah mana yang mau ia pakai duluan, kiri atau kanan.

Dengan memberi kepercayaan pada balita untuk membuat keputusan, ia merasa memiliki kekuatan dan kendali atas dirinya sendiri.

3. Cara membuatnya bahagia bukanlah dengan selalu memenuhi kebutuhannya

Seperti yang Parents tahu, balita merasa sangat bahagia ketika keinginannya terpenuhi. Namun, balita juga perlu tahu bahwa tak selamanya keadaan berjalan sesuai yang ia inginkan.

Misalnya, ketika Bunda kehabisan sereal favorit anak. Beritahukan padanya kondisi yang sebenarnya. Reaksi yang berikutnya muncul adalah balita Anda akan menangis dan menuntut Bunda membelikan sereal saat itu juga.

Tapi cobalah bersimpati dengannya dan bantu anak untuk memahami bahwa situasinya tidak semenakutkan itu. Dengan membantu mereka melewati kesulitan, Parents menunjukkan bahwa mereka dapat menangani masalah dan mengajarkan mereka untuk menjadi tangguh.

4. Mereka juga perlu untuk jatuh sesekali

Terkait dengan poin sebelumnya, Parents pasti punya kecenderungan untuk melihat balita bahagia. Parents tak ingin melihat anak terluka, sedih, kecewa, patah hati, dan sebagainya.

Namun ingatlah bahwa kegagalan mengajarkan balita Anda bagaimana melewati kesulitan, menjadi fleksibel, dan mengembangkan minat. Seperti yang ditulis oleh Dr. Tovah dalam bukunya, “Tumbuh kembang balita juga terkait soal kelemahan, kekurangan, kerapuhan, jatuh, dan membuat kesalahan. Seorang anak tidak dapat maju jika ia pernah melakukan kesalahan, melalui trial and error.”

5. Sifat balita yang kadang membuat Parents kesal sekarang akan Anda syukuri nantinya di masa depan

Beberapa sifat balita seperti ingin dianggap mandiri, penasaran akan segala sesuatu, bersemangat akan hal-hal yang diminati, gigih memperjuangkan keinginannya, bahkan keras kepala, mungkin membuat Parents kewalahan dan akhirnya mengamuk padanya. Sifat-sifat balita inilah yang membuat Anda sering terlambat saat ada janji penting atau terkesan tidak mendengarkan Anda.

Namun Dr. Tovah mengatakan bahwa inilah sifat-sifat balita yang orangtua ingin tanamkan pada anak-anak Anda. Mengapa? Karena sifat-sifat inilah yang membuat balita Anda berkembang di masa depan.

Nah, sekarang Parents sudah punya gambaran bagaimana membesarkan balita Anda dengan lebih baik, bukan? Sekarang saatnya Anda dan anak bekerja sama melewati masa-masa balita dengan menyenangkan.

 

Referensi: Pop Sugar

Baca juga;

8 Tanda Bahwa Bayi Anda Sudah Mulai Menginjak Masa Balita

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner