"Cukup anak saya yang jadi korban!" Pesan ibu terinfeksi Rubella saat hamil

"Cukup anak saya yang jadi korban!" Pesan ibu terinfeksi Rubella saat hamil

Ibu ini terinfeksi virus rubella saat awal kehamilan. Hal ini menyebabkan ia harus melahirkan anak dengan gangguan pendengaran berat. Bagaimana kisahnya?

Vaksin Measles-Rubella (MR) menjadi perdebatan di antara masyarakat lantaran dikabarkan vaksin tersebut mengandung babi. Di sisi lain, pemerintah menegaskan terkait pentingnya imunisasi vaksin MR untuk mencegah berkembangnya penyakit campak dan rubella, terutama pada ibu hamil yang terinfeksi virus rubella.

Untuk menjawab perkara ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa mubah vaksin MR boleh digunakan, sampai ditemukan vaksin lain halal.

Harapannya, fatwa soal vaksin Measle-Rubella (MR) yang baru dikeluarkan tersebut bisa membantu mengakhiri ketidakkepastian bagi warga Muslim untuk mengimunisasi anak mereka.

Hal ini penting, imunisasi MR diberikan untuk melindungi anak Indonesia dari penyakit kelainan bawaan seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelainan jantung dan retardasi mental yang disebabkan adanya infeksi virus rubella pada saat kehamilan.

“Hidup sehat adalah hak setiap anak,” tegas Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek dalam siaran pers yang diedarkan untuk menyebarluaskan info penting ini.

Terkait permasalahan ini, Laely Ekawati, seorang ibu yang pernah terinfeksi virus rubella saat hamil turut menceritakan kisahnya.

Laely pernah terinfeksi virus rubella saat awal kehamilan. Hal ini yang kemudian menyebabkan ia harus melahirkan anak dengan gangguan pendengaran berat. Oleh karena itulah, Laely gencar mengirim banyak pesan singkat kepada teman-temannya agar mau mengimunisasi anaknya dengan vaksin MR yang dikampanyekan pemerintah.

“Imunisasi MR ini wajib, ya. Mau kalau nanti anaknya seperti anak aku?” kata Laely menceritakan bagaimana dirinya berpesan kepada para orang tua lain agar tidak memiliki anak dengan gangguan pendengaran, sebagaimana dilansir Antara.

Terinfeksi virus rubella pada trimester pertama kehamilan

Laely menceritakan, dirinya terinfeksi virus rubella pada usia kehamilan 12 minggu setelah bepergian ke pusat berbelanjaan. Gejala awalnya adalah muncul bintik dan ruam merah di tangan yang kemudian menjalar ke sekujur tubuh pada hari selanjutnya.

Sampai kemudian, hari yang ditunggu-tunggu datang. Ia melahirkan dengan selamat, namun pada saat itu, Laely belum mengetahui bahwa anaknya mengalami gangguan pendengaran.

Laely mulai mengetahui bahwa anaknya tuli berat setelah diperiksakan ke dokter karena ia hanya bisa menangis dan tertawa pada usia yang seharusnya sudah mulai berbicara.

Ia menuturkan bahwa menurut dokter, derajat pendengaran anaknya sudah paling bawah, dan penanganan idealnya sudah harus implan koklea.

Sejak saat itu Laely terus berusaha memberikan penanganan dengan operasi implan koklea dan terapi pendengaran.

Laely berpesan agar orang tua lain mau mengimunisasi anaknya dengan vaksin MR untuk mencegah terjadinya penularan virus rubella dari anak kepada ibu hamil agar tidak menginfeksi janin dan melahirkan anak dengan kecacatanbawaan.

“Karena nggal gampang lho, punya anak berkebutuhan khusus. Perlu tenaga, waktu, pikiran, materi, semua kudu (harus) sabar banget. Dan enggak semua keluarga Indonesia berkecukupan, kan kasihan. Kalau bisa dicegah, vaksin MR itu wajib,” kata Laely.

Laely menegaskan, “Jadilah orangtua yang smart, jangan termakan hoax. Beri anak vaksin MR. Dengan begitu anak-anak akan terlindungi dari virus tersebut, sehingga tidak akan menulari ibu hamil disekitarnya. Mata rantai virus MR harus diputus sehingga tidak ada lagi korban. Tidak ada lagi anak-anak yang terlahir cacat akibat ibunya terinfeksi virus rubella.”

Selain Laely, ada satu ibu lain yang juga menyebarkan info tentang pemberian vaksin MR pada anak. Ratih Kartika, ibu sekaligus peneliti juga menyatakan bahwa imunisasi penting untuk memutus mata rantai penyebaran virus rubella dan campak.

Rubella pada anak memang menyebabkan efek penyakit ringan biasa atau bahkan tidak berdampak, namun yang dikhawatirkan apabila virus rubella yang dibawa oleh si anak yang tidak melakukan imunisasi tersebut menginfeksi ibu hamil.

“Kalau aku tetap ngotot untuk tidak imunisasi, dan kemudian anakku terserang virus dan menularkannya ke ibu hamil, sehingga janinnya cacat, itu sama aja aku mendzolimi banyak orang, mendzolimi ibu, sekaligus kehidupan jabang bayi yang dilahirkannya,” tutur Kartika.

Bahaya penyakit campak dan rubella untuk anak dan ibu hamil

Campak pada anak berbahaya bisa menyebabkan diare, radang paru, ensefalitis (radang otak), kebutaan, gizi buruk hingga kematian. Imunisasi rubella pada anak selain untuk mencegah juga memutus mata rantai virus supaya tidak tertular pada ibu hamil.

Sementara untuk ibu hamil, infeksi rubella selama awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, atau sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndroma/CRS)  pada bayi yang dilahirkan.

CRS biasanya bermanifestasi sebagai penyakit jantung, katarak, microcephaly (kepala kecil), dan tuli berat sejak anaknya dilahirkan.

Bagimana campak dan rubella ditularkan?

Campak dan rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran napas yang disebabkan oleh virus.

Orang yang berisiko tinggi tertular penyakit ini adalah anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi campak dan rubella, dan yang belum pernah menderita penyakit tersebut.

Gejala penyakit campak dan rubella

Gejala penyakit campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk, pilek dan mata merah (konjungtivitis). Sedangkan gejala penyakit Rubella tidak spesifik, bahkan bisa tanpa gejala. Gejala umum berupa demam ringan, pusing, pilek, mata merah dan nyeri persendian, mirip gejala flu.

Cegah campak dan rubella dengan imunisasi vaksin MR

virus rubella

Pencegahan yang dapat ditempuh adalah pemberian imunisasi MR untuk anak usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun.

Vaksin yang digunakan pemerintah telah mendapat rekomendasi dari WHO dan izin edar dari Badan POM. Vaksin MR 95 persen efektif untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Vaksin ini aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia.

 

Baca juga:

Jadwal imunisasi anak, pastikan tidak ada yang terlambat, Parents

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner