TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Psikolog: Parents tak boleh terlalu sering bantu kerjakan PR anak, ini dampaknya!

Bacaan 4 menit
Psikolog: Parents tak boleh terlalu sering bantu kerjakan PR anak, ini dampaknya!

Boleh saja jika Parents membantu mengerjakan tugas sekolah anak, tapi ketahui batasannya!

“Ibu.. aku dapat banyak tugas sekolah, nih. Nanti bantu kerjainnya, ya, Bu.” Bunda yang punya anak usia sekolah pasti pernah atau bahkan sering mendengar kalimat itu, kan?

Tugas sekolah anak memang sering sekali menjadi tugas orangtuanya juga, karena orangtua turut membantu mengerjakan tugas itu. Sebenarnya hal ini wajar, tapi jangan terlalu sering.

Menurut psikolog Ajeng Raviando, orangtua boleh membantu mengerjakan tugas anak hanya sampai kelas 3 SD. Lalu, pada jenjang selanjutnya, anak harus terbiasa menyelesaikan dan mengerjakan tugasnya sendiri tanpa bantuan orangtua.

“Anak kelas 1 sampai 3 SD belum paham bahwa dia harus bisa ngerjain pekerjaan rumah (PR) sendiri, kadang harus dibantu dan didampingi orangtua, selalu diingatkan sudah bikin ini atau itu belum. Tapi, saat kelas 4 sampai 6 SD, seharusnya dia sudah mulai untuk bisa lebih mandiri,” jelas Ajeng.

Artikel terkait : 9 trik jitu agar anak tak lagi enggan mengerjakan PR, Parents bisa coba di rumah

Alasan orangtua tidak boleh terlalu sering membantu kerjakan tugas sekolah anak

tugas sekolah

Anak-anak usia kelas 1 sampai 3 SD memang belum punya kemampuan untuk bisa memahami hal apa saja yang harus ia lakukan secara mandiri. Termasuk belum paham bahwa ia harus mengerjakan tugas sekolahnya sendiri.

Oleh karena itu, perlu bantuan dan dampingan orangtua saat anak mengerjakan PR. Akan tetapi, jika sudah naik ke kelas 4 SD, seharusnya anak sudah lebih mandiri dan paham kalau tugas  yang diberikan guru di sekolah harus dikerjakan sendiri.

“Orangtua tidak perlu terlalu khawatir, nanyain terus apakah sudah mengerjakan tugasnya atau belum. Lalu jadi bantuin kerjain tugas anak, seharusnya tidak seperti itu,” ujar Ajeng dalam tayangan IG Live bersama artis Cici Panda.

“Ajarkan kepada anak bahwa kini sudah saatnya mengerti kalau PR dari sekolah itu tanggung jawab anak untuk bisa mengerjakan PR sendiri. Jadi kalau anak nggak ngerjain, ya risikonya ada di anak, bukan orangtuanya,” sambung Ajeng.

Ajeng melanjutkan, sayangnya masih ada orangtua yang sering telat menerapkan pola seperti itu. Alhasil, sampai kelas 6 SD, orangtua masih saja membantu mengerjakan tugas atau PR anak.

Parents jangan khawatir prestasi akademis anak akan turun jika PR-nya tak dibantu

tugas sekolah

Orangtua tentu akan khawatir dengan kondisi akademis anak jika membiarkannya begitu saja mengerjakan tugas-tugasnya sendiri. Parents mungkin akan berpikir: “Bagaimana kalau anak nggak bisa ngerjainnya? Bagaimana kalau nilai tugasnya jelek atau tugasnya banyak yang salah?.“

Perasaan seperti itu wajar, tapi Ajeng menyarankan agar orangtua tetap harus bisa melepaskan anak seorang diri untuk mengerjakan segala tugasnya. Biarkan proses ini berjalan secara perlahan, sampai akhirnya anak terbiasa.

“Paling tidak ini sudah membuat anak harus mulai belajar untuk bertanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolah,” kata Ajeng, pada Selasa (07/04).

Biarkan anak berusaha mengerjakan dan bertanggung jawab atas tugasnya sendiri

tugas sekolah

Ada dua kemungkinan yang akan terjadi di masa ketika orangtua membiarkan anak mengerjakan tugas sekolah sendiri. Tepatnya saat anak naik ke kelas 4 SD.

Kemungkinan pertama yaitu nilai anak akan turun karena orangtua tidak lagi membantunya mengerjakan tugas. Lalu yang kedua yaitu anak mulai merasa keenakan karena orangtua selalu membantu mengerjakan tugas.

“Ketika orangtua melepas anak untuk mengerjakan tugas sendiri juga biasanya ada sedikit penurunan akademis, tapi ya sudah itu harus direlakan. Sebab, itu adalah bagian dari proses anak bertanggung jawab,” tegas Ajeng.

Psikolog: Parents tak boleh terlalu sering bantu kerjakan PR anak, ini dampaknya!

Ajeng menambahkan, orangtua yang fokus pada akademis pasti akan khawatir, karena nilai anak akan berpengaruh untuk memasuki jenjang sekolah selanjutnya, yaitu sekolah menengah pertama (SMP). Nilai yang dilihat biasanya dimulai dari nilai kelas 4 sampai kelas 6.

“Ada namanya jalur prestasi, biasanya dilihat dari rapot kelas 4 sampai kelas 6, misalnya untuk masuk ke sekolah unggulan. Kalau nilai kelas 4, 5, dan 6 itu fluktuatif banget, biasanya penilainnya akan berkurang. Tapi, kalau yang bagus itu, biasanya makin lama makin meningkat,” ujar Ajeng.

“Namun, orangtua biarkan anak dimulai dari kelas 4 itu belajar memahami bahwa dia harus tanggung jawab sama nilainya sendiri, bukan orangtuanya,” lanjut Ajeng.

Nah, memang sebaiknya orangtua mulai bisa membiasakan anak mengerjakan tugas-tugas sekolahnya secara mandiri sejak kelas 4 SD, karena ini juga menjadi proses kemandirian dan pembentukan rasa tanggung jawab anak. Namun, balik lagi ke Parents, apakah siap untuk melakukannya?

Cerita mitra kami
Yuk, Ajak Anak Main di Luar Ruangan. Ini 5 Manfaatnya, Parents!
Yuk, Ajak Anak Main di Luar Ruangan. Ini 5 Manfaatnya, Parents!
Satu dari Tiga Balita Indonesia Berisiko Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi, Kenali Gejalanya!
Satu dari Tiga Balita Indonesia Berisiko Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi, Kenali Gejalanya!
Headliners Hadirkan Chaos Lab, Playground Imersif Pertama di Indonesia!
Headliners Hadirkan Chaos Lab, Playground Imersif Pertama di Indonesia!
Bukan Belajar Komputer, Ini Lima Aktivitas Seru untuk Mengenalkan Keterampilan Berpikir Komputasional pada Anak
Bukan Belajar Komputer, Ini Lima Aktivitas Seru untuk Mengenalkan Keterampilan Berpikir Komputasional pada Anak

Baca juga :

Peranan Orangtua dalam PR Anak

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Finna Prima Handayani

Diedit oleh:

Fitriyani

  • Halaman Depan
  • /
  • Usia Sekolah
  • /
  • Psikolog: Parents tak boleh terlalu sering bantu kerjakan PR anak, ini dampaknya!
Bagikan:
  • 7 Ciri-Ciri Anak Sedih dan Tidak Bahagia, Cek Sekarang!

    7 Ciri-Ciri Anak Sedih dan Tidak Bahagia, Cek Sekarang!

  • 7 Ciri-ciri Anak Jenius atau Gifted Child, Si Kecil Salah Satunya? Cek!

    7 Ciri-ciri Anak Jenius atau Gifted Child, Si Kecil Salah Satunya? Cek!

  • 16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

    16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

  • 7 Ciri-Ciri Anak Sedih dan Tidak Bahagia, Cek Sekarang!

    7 Ciri-Ciri Anak Sedih dan Tidak Bahagia, Cek Sekarang!

  • 7 Ciri-ciri Anak Jenius atau Gifted Child, Si Kecil Salah Satunya? Cek!

    7 Ciri-ciri Anak Jenius atau Gifted Child, Si Kecil Salah Satunya? Cek!

  • 16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

    16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti