Psikolog: Parents tak boleh terlalu sering bantu kerjakan PR anak, ini dampaknya!

Psikolog: Parents tak boleh terlalu sering bantu kerjakan PR anak, ini dampaknya!

Boleh saja jika Parents membantu mengerjakan tugas sekolah anak, tapi ketahui batasannya!

“Ibu.. aku dapat banyak tugas sekolah, nih. Nanti bantu kerjainnya, ya, Bu.” Bunda yang punya anak usia sekolah pasti pernah atau bahkan sering mendengar kalimat itu, kan?

Tugas sekolah anak memang sering sekali menjadi tugas orangtuanya juga, karena orangtua turut membantu mengerjakan tugas itu. Sebenarnya hal ini wajar, tapi jangan terlalu sering.

Menurut psikolog Ajeng Raviando, orangtua boleh membantu mengerjakan tugas anak hanya sampai kelas 3 SD. Lalu, pada jenjang selanjutnya, anak harus terbiasa menyelesaikan dan mengerjakan tugasnya sendiri tanpa bantuan orangtua.

“Anak kelas 1 sampai 3 SD belum paham bahwa dia harus bisa ngerjain pekerjaan rumah (PR) sendiri, kadang harus dibantu dan didampingi orangtua, selalu diingatkan sudah bikin ini atau itu belum. Tapi, saat kelas 4 sampai 6 SD, seharusnya dia sudah mulai untuk bisa lebih mandiri,” jelas Ajeng.

Artikel terkait : 9 trik jitu agar anak tak lagi enggan mengerjakan PR, Parents bisa coba di rumah

Alasan orangtua tidak boleh terlalu sering membantu kerjakan tugas sekolah anak

tugas sekolah

Anak-anak usia kelas 1 sampai 3 SD memang belum punya kemampuan untuk bisa memahami hal apa saja yang harus ia lakukan secara mandiri. Termasuk belum paham bahwa ia harus mengerjakan tugas sekolahnya sendiri.

Oleh karena itu, perlu bantuan dan dampingan orangtua saat anak mengerjakan PR. Akan tetapi, jika sudah naik ke kelas 4 SD, seharusnya anak sudah lebih mandiri dan paham kalau tugas  yang diberikan guru di sekolah harus dikerjakan sendiri.

“Orangtua tidak perlu terlalu khawatir, nanyain terus apakah sudah mengerjakan tugasnya atau belum. Lalu jadi bantuin kerjain tugas anak, seharusnya tidak seperti itu,” ujar Ajeng dalam tayangan IG Live bersama artis Cici Panda.

“Ajarkan kepada anak bahwa kini sudah saatnya mengerti kalau PR dari sekolah itu tanggung jawab anak untuk bisa mengerjakan PR sendiri. Jadi kalau anak nggak ngerjain, ya risikonya ada di anak, bukan orangtuanya,” sambung Ajeng.

Ajeng melanjutkan, sayangnya masih ada orangtua yang sering telat menerapkan pola seperti itu. Alhasil, sampai kelas 6 SD, orangtua masih saja membantu mengerjakan tugas atau PR anak.

Parents jangan khawatir prestasi akademis anak akan turun jika PR-nya tak dibantu

tugas sekolah

Orangtua tentu akan khawatir dengan kondisi akademis anak jika membiarkannya begitu saja mengerjakan tugas-tugasnya sendiri. Parents mungkin akan berpikir: “Bagaimana kalau anak nggak bisa ngerjainnya? Bagaimana kalau nilai tugasnya jelek atau tugasnya banyak yang salah?.

Perasaan seperti itu wajar, tapi Ajeng menyarankan agar orangtua tetap harus bisa melepaskan anak seorang diri untuk mengerjakan segala tugasnya. Biarkan proses ini berjalan secara perlahan, sampai akhirnya anak terbiasa.

“Paling tidak ini sudah membuat anak harus mulai belajar untuk bertanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolah,” kata Ajeng, pada Selasa (07/04).

Biarkan anak berusaha mengerjakan dan bertanggung jawab atas tugasnya sendiri

tugas sekolah

Ada dua kemungkinan yang akan terjadi di masa ketika orangtua membiarkan anak mengerjakan tugas sekolah sendiri. Tepatnya saat anak naik ke kelas 4 SD.

Kemungkinan pertama yaitu nilai anak akan turun karena orangtua tidak lagi membantunya mengerjakan tugas. Lalu yang kedua yaitu anak mulai merasa keenakan karena orangtua selalu membantu mengerjakan tugas.

“Ketika orangtua melepas anak untuk mengerjakan tugas sendiri juga biasanya ada sedikit penurunan akademis, tapi ya sudah itu harus direlakan. Sebab, itu adalah bagian dari proses anak bertanggung jawab,” tegas Ajeng.

Psikolog: Parents tak boleh terlalu sering bantu kerjakan PR anak, ini dampaknya!

Ajeng menambahkan, orangtua yang fokus pada akademis pasti akan khawatir, karena nilai anak akan berpengaruh untuk memasuki jenjang sekolah selanjutnya, yaitu sekolah menengah pertama (SMP). Nilai yang dilihat biasanya dimulai dari nilai kelas 4 sampai kelas 6.

“Ada namanya jalur prestasi, biasanya dilihat dari rapot kelas 4 sampai kelas 6, misalnya untuk masuk ke sekolah unggulan. Kalau nilai kelas 4, 5, dan 6 itu fluktuatif banget, biasanya penilainnya akan berkurang. Tapi, kalau yang bagus itu, biasanya makin lama makin meningkat,” ujar Ajeng.

“Namun, orangtua biarkan anak dimulai dari kelas 4 itu belajar memahami bahwa dia harus tanggung jawab sama nilainya sendiri, bukan orangtuanya,” lanjut Ajeng.

Nah, memang sebaiknya orangtua mulai bisa membiasakan anak mengerjakan tugas-tugas sekolahnya secara mandiri sejak kelas 4 SD, karena ini juga menjadi proses kemandirian dan pembentukan rasa tanggung jawab anak. Namun, balik lagi ke Parents, apakah siap untuk melakukannya?

Baca juga :

Peranan Orangtua dalam PR Anak

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner