Surat Kepada Ibu yang Pernah Memukulku saat Masih Kecil

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Surat kepada ibu ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua agar lebih hati-hati bersikap pada anak. Jangan sampai, anak menyimpan lukasampai ia dewasa.

Menyimpan memori masa kecil tentang kekerasa fisik yang dilakukan oleh orang tua memang sesuatu yang buruk. Namun, beberapa orang tak dapat melupakan betapa sakit hatinya dipukul oleh orang tua.

Bahkan, saat seorang anak telah tumbuh dewasa dan memiliki keluarga sendiri, ingatan masa kecil yang buruk tentang sakitnya dipukul oleh orang tua masih membekas di dalam hati. Meninggalkan luka yang tak dapat disembuhkan, bahkan setelah bertahun-tahun peristiwa ini berlalu.

Seorang ibu menulis surat kepada ibunya tentang betapa sakit hatinya ia karena dipukul saat masih kecil. Curahan hatinya ini dimuat di laman The Guardian, sebagai pengingat bagi orang tua. Jangan sekali-kali memukul anakmu…

Aku tahu bahwa ibu akan melakukan apa saja untuk menjadi seorang ibu yang baik bagiku dan nenek yang baik untuk anak-anakku. Ibu telah mengirimkan kartu ulang tahun, kado, dan menelepon untuk bertanya kabar apakah keadaan keluargaku sedang baik-baik saja.

Terutama jika ibu tidak mendengar kabar dariku selama beberapa waktu.

Sudah bertahun-tahun lamanya aku hidup dengan cinta dan curahan perhatianmu. Sayangnya, aku masih tidak bisa memaafkan dirimu yang memukulku ketika aku masih kecil.

Usiaku saat itu 11 tahun.

Selama liburan sekolah, ibu sering meninggalkan adikku yang balita dan aku di rumah nenek. Sehingga ibu bisa pergi bekerja.

Saat itu, nenek meninggalkan aku sendirian dan menyuruhku untuk mengasuh adikku. Aku selalu benci jika disuruh menjaga seorang bayi.

Karena, yang ingin aku lakukan sepanjang hari adalah membaca, membaca dan membaca lagi.

Pada sebuah hari di musim panas, di kebun kakek-nenek, aku begitu asyik dengan bukuku. Sampai-sampai, aku tidak melihat bahwa adikku telah berjalan menjauh dariku.

Nenek kembali dari pekerjaannya. Dengan suara sedih, dia menyeret pikiranku untuk kembali ke dunia nyata dengan bertanya, “di mana adikmu?”

Adikku tidak terlihat. Aku butuh beberapa saat untuk kembali ke realitas bahwa nenekku sedang meneriakkan teriakan-teriakan dengan nada penuh teror padaku.

Di sekitar situ ada jalan besar. Adikku mungkin sudah tergilas atau diculik.

Aku juga ketakutan karena pernah mendengar tentang orang-orang jahat yang suka melakukan hal-hal yang mengerikan kepada anak-anak kecil.

Kami lari berkeliling rumah. Meneriakkan namanya.

Kami bergegas keluar masuk dari setiap ruangan di rumah, membuka dan menutup pintu lemari. Bahkan, aku juga mencarinya di laci. Karena, aku pikir seorang anak kecil dapat bersembunyi di manapun.

Teriakan kami yang memanggil namanya membuat anjing sekitar ikut menggonggong.

Bingung. Rasanya bagaikan sebuah lubang besar yang penuh kehampaan terbuka di dalam pikiran kami.

Sepuluh atau dua menit kemudian – waktu masih terus berjalan – seorang tetangga memanggil kami. Dia telah menemukan adikku yang saat itu sedang memegang sebuah mainan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Dia berjalan ke rumah tetangga. Ia menemukan kamar tidur anak-anak dan bermain dengan gembira di sana sampai anjing tetangga kita memberitahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Nenekku bersyukur kepada Tuhan dengan merapalkan doa-doa yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Adikku baik-baik saja, utuh, tanpa luka, bahkan senang karena ia telah menemukan mainan baru.

Lalu, aku membeku seiring dengan berhentinya doa nenek, “Aku harus memberitahu ibumu tentang kejadian ini.”

***

Nenek bilang padanya bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Ibu tampak membeku selama beberapa detik.

Kemudian ibu memeluk adikku dan mengucapkan terima kasih pada nenek atas informasi tersebut.

Di dalam mobil, ibu berkata padaku, “Kamu paham bahwa aku harus menghukummu karena ini, bukan?”

Sesampainya kami di rumah, ibu membawa ikat pinggang, kemudian melilitkan itu di tanganmu. Gesper itu tampak menggantung. Kemudian ibu mulai memukuli kakiku lagi, lagi dan lagi dengan itu.

Pukulan ini meninggalkan luka di pahaku untuk selamanya. Rasa sakit adalah hal yang buruk, namun penghinaan yang aku terima rasanya jauh lebih buruk.

Aku tidak layak diperlakukan seperti ini. Aku tidak melakukannya dengan sengaja.

Ibu memang tidak memukulku di wajah. Sekarang aku tahu sebabnya. Jika ibu melakukannya guruku di sekolah akan tahu soal ini. Dan dia akan melaporkanmu.

Aku memakai rok panjang untuk menyembunyikan memar. Begitulah, tak seorang pun menyadarinya dan aku pun tidak memberitahukannya pada siapapun.

Setelah semua itu terjadi, keadaanku semakin memburuk.

Ayah juga diberitahu soal ini. Tapi ia justru puas karena aku bisa mendapatkan pelajaran dari ini semua.

Iya, aku telah belajar dari ini semua.

Aku baru tahu bahwa ternyata, membaca buku secara mendalam sampai seolah-oleh dunia ini menghilang itu adalah sebuah kesalahan.

Aku baru tahu bahwa ternyata, meminta anak usia 11 tahun untuk bertanggung jawab mengasuh seorang balita sepanjang sore itu tidak masalah.

Saudaraku lah sumber masalahnya.

Ini bagaikan diserahi sebuah bingkisan yang sebenarnya berada pada tangan yang seharusnya. Kemudian, tangan yang seharusnya tersebut melemparkan bingkisan itu ke tangan yang tak semestinya untuk menjaganya.

Ternyata, orang tua yang mengambil manfaat dari anak kecil yang tak punya kemampuan untuk menjawab tuduhan dan melawan itu dianggap sebagai sebuah kebaikan. Seperti halnya orang tua yang selalu menganggap bahwa ia selalu lebih tahu dan semuanya demi kebaikanku sendiri.

Aku masih tidak suka adikku, dan kadang-kadang aku pikir, pada hari itu aku telah berhenti mencintai ibu.

Tak lama setelah kejadian ini, aku mulai membayangkan bahwa ibu akan mati. Aku merasa bahwa sekarang ibu sudah tua dan aku harus memaafkanmu.

Ternyata, aku tidak sanggup memaafkanmu.

Saat aku menjadi seorang ibu, aku makin menyadari bahwa betapa pengecutnya tindakan memukul anak itu. Aku mencoba untuk memahami kondisimu saat itu, tetapi rasa sakit karena dipukul itu telah mengendap terlalu dalam di memoriku.

Hal ini sungguh tak terlupakan untukku.

Pada suatu hari, aku mencoba untuk membahasnya dengan ibu. Saat itu ibu mengatakan kepadaku bahwa peristiwa itu adalah masa lalu dan aku harus segera melupakannya.

Sampai sekarang. ibu bahkan tidak mengucapkan kata “maaf”.

Ibu tidak merasa bahwa ibu telah melakukan sesuatu yang salah.

Dengan surat ini, semoga setiap orang tua sadar bahwa ia tak boleh memukul anak apapun yang terjadi. Karena anak akan mengingat rasa sakit itu selamanya. Apalagi jika orang tua tidak meminta maaf.

Semoga kita terhindar dari tindakan kasar kepada anak ya, Parents…

 

Baca juga:

Surat Cinta Seorang Ibu Kepada Anak Angkat Pertamanya

 





Kisah Mengharukan