Surat Kepada Selingkuhan Suami, dari Istri yang Sedang Sekarat

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Seorang istri yang sekarat menyurati selingkuhan suaminya. Bagaimanapun, selingkuhan suaminya harus tahu bahwa ia bertahan sekalipun didera cobaan.

Bagaimana jika Anda menyadari bahwa hidup yang dijalani tinggal sebentar lagi sementara suami justru berselingkuh dengan wanita lain? Seorang istri yang sekarat menulis surat kepada selingkuhan suami yang selama ini selalu meneror keluarganya.

Tanpa meminta belas kasihan karena keadaannya, istri yang sedang sekarat karena penyakit kanker ini menuliskan curahan hatinya pada sang pelakor (perebut suami orang). Ia tahu bahwa segala yang ia alami menyakitkan, tapi ia masih tetap mendoakan hal baik untuk wanita yang telah merusak rumah tangganya.

Berikut isi surat istri yang sekarat tersebut:

Aku benar-benar tidak tahu apakah kamu sadar akan apa yang telah kamu lakukan terhadap keluarga dan perkawinanku. Tapi aku harus mengatakan bahwa aku tidak tahu mengapa ada seorang wanita yang mengizinkan seorang pria memasuki hidupnya ketika pria tersebut masih terikat pada seseorang, atau bagaimana bisa kamu membiarkan dia masuk saat kamu tahu dia punya anak yang akan terluka.

Aku tidak tahu apakah kamu punya rasa bersalah di lubuk hatimu saat tahu bahwa ada kami di dalam hidupnya. Namun tetap saja, kamu tidak berpikir ulang soal itu.

Aku benar-benar tidak tahu bagaimana perasaanmu pada saat kita bertemu. Sebenarnya aku ingin menamparmu, mengutukmu, dan bahkan mengatakan kepadamu bahwa kamu telah merampas harapan anak-anakku. Tentang cinta yang perlu ditunggu kedatangannya dan tentang seseorang yang ditakdirkan untuknya.

Kamu tidak tahu betapa terlukanya aku. Yang terpikirkan saat itu adalah menyalahkan diriku sendiri atas semua ini. Kamu membuatku ragu betapa cantiknya diriku sebagai pribadi yang utuh dan apa yang ada di dalam diriku.

Kamu membuat aku merasa bahwa suamiku telah menurunkan standarnya karena telah mencintaimu. Hal itu membuatku merasa sangat tidak aman dan tidak layak mendapatkan cinta. Kamu merusak kemampuanku untuk mempercayai orang di sekitarku.

Bagaimana mungkin kamu melakukan ini padahal kamu tahu bahwa kami masih bersama? Kami mungkin tidak bahagia saat itu, tapi kami masih tinggal di atap yang sama.

Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa benar-benar bahagia bersamanya setelah mengetahui bahwa aku sedang sekarat dan siapa pun yang sekarat hanya ingin merasa dicintai dan dikasihi.

Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan bahwa kamu mencintainya saat kamu sendiri tahu bahwa kamu telah merusak hubungannya dengan anak-anaknya? Setiap malam anakku akan menangis dan akan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah jadi orang yang egois bahkan jika dia menemukan cinta kelak.

Tapi, aku juga tahu bahwa tidak terlintas dalam pikiranmu kalau kamu sudah menyakiti aku dan anak-anakku. Khususnya saat kamu dan suamiku saling menggoda, bertukar teks, dan mengatakan saling mencintai satu sama lain.

Saat anakku sedang menunggu ayahnya menelepon atau mengirim SMS karena ibunya dilarikan ke rumah sakit setelah perdarahan dan rasa sakit yang berlebihan, kami tahu bahwa dia tidak akan melakukannya karena dia sedang bersamamu.

Mungkin aku tampak begitu lemah sehingga aku tidak melihat bahwa pernikahan kami telah gagal dan anak-anak jadi terluka setiap harinya. Mungkin aku sangat percaya bahwa dia punya perasaan untukmu dan aku memang tidak cukup untuknya, itulah sebabnya dia membiarkan kamu memasuki hidupnya dan mungkin hanya akulah yang mempertahankan pernikahan ini dan mungkin aku adalah sumber masalah utama dari segala masalah ini.

Aku benar-benar berharap bahwa kamu tidak akan pernah mengalami semua rasa sakit dan penderitaan yang aku alami...

Aku mempertanyakan diriku sendiri, jika ini semua salahku atau mungkin kamu seharusnya mengerti bahwa perselingkuhan adalah kejahatan terhadap manusia dan Tuhan.

Tapi di penghujung hari, aku tahu bahwa kamu tidak akan pernah bisa mencintainya seperti cintaku padanya.

Kamu tidak akan pernah bisa membuatnya tersenyum seperti yang pernah aku lakukan sebelumnya. Kamu tidak akan pernah bisa mendengar rahasianya yang terdalam sepertiku dulu dan kamu tidak akan pernah bisa memiliki dia seperti halnya aku memilikinya.

Kamu tidak akan pernah tahu rahasia kecil soal bagaimana caranya membuat ia tertawa dan bersemangat ketika pulang dari kantor serta di saat bertemu dengan kami. Kamu tidak akan pernah mengalami saat berada di rumah bersamanya dan hanya akan bertanya-tanya mengapa dia tidak membalas pesanmu saat ia sedang bersama kami. Juga tentang betapa dia selalu ingin dipeluk dan dicium setiap pagi hari dan di malam hari.

Aku tahu bahwa dia mencintaiku apa adanya dan aku yakin akan hal itu. Aku juga tahu dia menghargai semua yang kami miliki.

Aku benar-benar berharap bahwa kamu tidak akan pernah mengalami hidup dengan segala rasa sakit dan penderitaan yang aku alami karena hubungan yang kamu buat. Ada saat-saat malam tanpa tidur dan kecemasan yang menyerangku hampir setiap detik. Ada pikiran bahwa aku tidak cukup baik.

Karena tak seorang pun di dunia ini pantas merasakan perasaan itu. Tidak ada yang pantas diperlakukan seperti ini saat kamu mengetahui kisah hidupku sejak aku mengalami keguguran. Sejak dokter mengatakan kepadaku bahwa aku sedang dalam kondisi yang sekarat.

Ada banyak rasa sakit saat itu dan yang kuinginkan hanyalah perhatian suamiku, tapi kamu tetap mengedepankan keegoisanmu dengannya.

Aku tidak tahu mengapa kamu tidak bisa menunggu sampai hari kematianku tiba.

Mengapa kamu perlu membiarkan aku mengalami rasa sakit seperti ini bila sisa waktu yang ada masih dipenuhi rasa sakit karena Kanker yang aku idap. Aku berharap kamu memahami segala sesuatu yang telah kamu ketahui tentang diriku dan tentang kami, tentang apa yang dia alami.

Setidaknya kamu harus memiliki keberanian untuk mengatakan TIDAK kepadanya dan memberi tahu dia tentang apa yang terjadi, sehingga dia perlu memusatkan perhatiannya pada kami, pada anak-anakku, demi mempersiapkan mereka ketika aku pergi.

Tapi kamu masih tidak memikirkannya dan masih meminta apa yang kamu anggap benar pada saat itu.

Aku hanya berharap bahwa kamu akan memiliki kehidupan yang indah dan tidak ada yang akan membuatmu merasakan apa yang saat ini aku rasakan. Aku harap kamu menemukan kedamaian di hatimu dan berhenti menghubungiku lagi untuk mengatakan bahwa aku tidak layak untuk suamiku.

Aku tidak pernah menggunakan anak-anak untuk memintanya kembali kepadaku. Aku telah memintanya untuk kembali kepadamu. Tapi aku tidak tahu mengapa dia memilihku.

Aku sekarang sedang sekarat dan yang aku inginkan saat ini hanyalah hidup dengan penuh kebahagiaan dan kenangan yang indah.

Surat ini ditulis oleh seorang blogger bernama Arcee Miranda yang terkena kanker. Sebelumnya, surat yang menyentuh hati ini diterbitkan di The Bag Investigator dan dimuat ulang oleh theAsianparent Filipina.

Untaian kata istri yang hampir sekarat ini mengundang simpati banyak netizen internasional. Karena, selain kasus seperti ini bisa menimpa siapa saja, hal ini juga bisa jadi sebuah 'teguran halus' kepada wanita lain yang berniat untuk jadi selingkuhan dari suami seseorang untuk memikirkan ulang aksinya.

Apakah yang akan Anda lakukan jika berada di posisi Arcee Miranda ini? Berikan pendapat Anda di kolom komentar.

 

Baca juga:

Curahan Hati Seorang Wanita, “Suamiku Selingkuh Ketika Aku Sedang Hamil…”

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kisah Mengharukan