Pengakuan Suami yang Membuka Mata: "Aku Tidak Membantu Istriku"

Pengakuan Suami yang Membuka Mata: "Aku Tidak Membantu Istriku"

Banyak orang mengira bahwa pekerjaan dunia ini terbagi dua, pekerjaan perempuan dan pekerjaan laki-laki. Hanya butuh kesadaran untuk anggap kita setara.

Pernahkah mendengar ungkapan bahwa istri itu tugasnya hanya dapur, sumur, dan kasur? Jika diterjemahkan berarti urusan makanan, cucian, dan hubungan badan merupakan kewajiban istri untuk melayani.

Tugas lelaki mencari nafkah saja tanpa ditugaskan untuk membantu istri.

Banyak suami yang merasa bahwa saat ia melaksanakan pekerjaan tugas rumah tangga, maka ia sedang membantu istri. Padahal, anggapan itu salah karena sesungguhnya pekerjaan rumah tak pernah digolongkan berdasarkan jenis kelamin.

Semua tugas rumah tangga adalah hal yang harus dikerjakan istri merupakan anggapan yang keliru. Pengakuan seorang suami berikut ini menjelaskan mengapa lelaki harus berperan dalam pekerjaan rumah tangga dan masyarakat harus berhenti menyebut suami yang melaksanakan pekerjaan rumah tangga adalah suami yang membantu istri.

Seorang teman datang ke rumahku untuk minum kopi. Kami duduk dan berbicara tentang banyak hal seputar kehidupan.

Saat kami sedang mengobrol, aku berkata, “Aku cuci piring dulu ya, dan aku akan segera kembali.”

Dia menatapku seolah aku memberitahunya bahwa aku akan membangun roket luar angkasa.

Kemudian ia mengungkapkan kekagumannya padaku sambil sedikit bingung, “Aku senang kamu membantu istrimu. Aku tidak membantu istriku karena ketika aku melakukannya, istriku tidak memujiku. Minggu lalu aku mengepel lantai dan tidak ada ucapan terima kasih darinya.”

Aku kembali duduk bersamanya dan menjelaskan bahwa aku tidak sedang ‘membantu’ istriku. Sebenarnya, istriku tidak butuh bantuanku, dia butuh pasangan.

Aku adalah pasangannya di rumah dan meski ada peran yang terbagi dalam masyarakat,  tapi ini bukan ‘bantuan’ untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.

Aku tidak membantu istriku membersihkan rumah karena aku juga tinggal di sini, dan karenanya aku perlu membersihkannya juga.

Aku tidak membantu istriku memasak karena aku juga ingin makan sehingga aku juga butuh memasak.

Aku tidak membantu istriku mencuci piring setelah makan karena aku juga menggunakan piring-piring tersebut.

Aku tidak membantu istriku mengasuh anak-anak karena mereka juga anak-anakku dan tugasku adalah menjadi seorang ayah.

Aku tidak membantu istriku untuk mencuci, menjemur atau melipat pakaian, karena pakaian itu juga milikku dan anak-anakku.

Aku tidak membantu di rumah, aku adalah bagian dari rumah.

Dan soal pujian tadi, aku bertanya kepada temanku kapan terakhir kali ia mengucapkan terima kasih setelah istrinya selesai membersihkan rumah, mencuci pakaian, mengganti seprai, memandikan anak-anaknya, memasak, mengatur, dan lain sebagainya.

Terima kasihnya dalam bentuk: Wow, sayang!!! Kamu luar biasa!!!

Apakah itu tampak tidak masuk akal bagimu? Apakah kamu merasa aneh? Hanya karena baru sekali dalam seumur hidup membersihkan lantai, lalu kamu mengharapkan setidaknya mendapat hadiah terbaik penuh pujian…? Kenapa? Temanku, pernahkah kamu memikirkan itu?

Mungkin karena bagimu, budaya macho telah menunjukkan bahwa semua itu adalah pekerjaan istrimu.

Mungkin kamu telah diajarkan bahwa semua ini harus dilakukan tanpa harus menggerakkan jarimu? Pujilah istrimu seperti kamu ingin dipuji, dengan cara yang sama, dengan intensitas yang sama.

Berilah bantuan padanya, bersikaplah seperti pendamping sejati, bukan sebagai tamu yang hanya datang untuk makan, tidur, mandi dan memuaskan kebutuhan …

Rasakan seperti di rumah, rumahmu sendiri.

Perubahan nyata masyarakat kita dimulai dari rumah. Marilah kita mengajari anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kita tentang kerjasama yang sesungguhnya!

Baca Juga: 6 Tips Agar Suami Bantu Pekerjaan Rumah Tangga

Postingan tersebut telah dibagi oleh 450 ribu lebih akun Facebook. Banyak istri yang menandai suaminya dalam postingan tersebut.

Bagi para istri yang suaminya sadar pekerjaan rumah tangga, mereka menandai suaminya untuk berterimakasih karena telah menjadi suami yang pengertian pada istrinya.

Jika Anda jadi seorang ayah kelak, relakah anak Anda menjadi pembantu di rumahnya sendiri sedangkan suaminya ongkang-ongkang kaki minta dilayani hanya karena sang suami yang membayar tagihan bulanan rumah tangga?

Apabila tak ingin anak lelaki Anda jadi seorang yang suka menyuruh-nyuruh istrinya dan anak perempuan Anda dijadikan pembantu oleh suaminya, maka sebaiknya berilah contoh pada mereka bahwa Anda adalah seorang yang sadar tentang posisi dan tugas sebagai ayah dan suami yang baik.

Berani terima tantangan mengerjakan rumah tanpa merasa sedang membantu istri?

 

Baca juga:

Pengakuan Seorang Suami: “Jangan Salahkan Istri atas Rumah yang Selalu Tampak Berantakan…”

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner