“Suami Mengerjakan Pekerjaan Rumah Bukanlah Sebuah Keberuntungan Bagi Istri”

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Banyak orang bilang bahwa seorang istri beruntung jika suami mengerjakan kerjaan rumah. Padahal, mestinya itu adalah hal normal yang seharusnya bisa dilakukan setiap lelaki.

Suami mengerjakan kerjaan rumah masih jadi hal yang jarang terjadi. Karena biasanya istrilah yang membereskan segala pekerjaan rumah.

Seorang istri sekaligus ibu dari empat orang anak berbagi cerita tentang kehidupan rumah tangganya bahwa suami mengerjakan kerjaan rumah itu adalah hal biasa. Memasuki usia pernikahan ke 10 tahun, ia berbagi ceritanya pada Kidspot tentang bagaimana rumah tangganya berjalan dalam essay berikut:

Sebagai seorang ibu berusia 29 tahun dengan empat anak perempuan, aku sering mendapat komentar positif dari orang lain terutama saat aku sedang tampak punya banyak waktu luang dengan jalan-jalan bersama keempat anakku.

Ketika aku menjawab bahwa aku memiliki empat orang anak perempuan dan aku menikah dengan seorang lelaki yang mau mengerjakan pekerjaan rumah lebih banyak daripada aku. Biasanya, orang akan bereaksi shock dan kagum.

Kemudian mereka akan mengatakan bahwa aku “beruntung”. Orang-orang tampaknya benar-benar kagum ketika aku menceritakan tentang bagaimana suami ku mau melipat dan mencuci setiap malam, membuat makan siang setiap hari dan menjadi orang tua yang terjaga sepanjang malam …

Hal itu membuat diriku sendiri merasa kaget dan kagum. Aku merasa bingung dan limbung, mengapa hal ini begitu penting di mata orang-orang.

Apakah aku melupakan sesuatu di sini?

Ayolah, saudara-saudara… Kita tidak hidup di tahun 1950-an lagi. Peran gender dan label telah berkembang, melebar, perputar, dan kesadaran soal itu telah lama terjadi.

Menikah dengan seorang lelaki yang ikut membantu pekerjaan rumah seharusnya bukanlah jadi sesuatu yang menakjubkan. Menjadi suami yang mau mempersiapkan bekal makanan untuk anak sekolah atau terjaga sepanjang malam demi anak-anak itu benar-benar bukan sesuatu yang mengejutkan.

Ingatlah bahwa ia adalah seorang lelaki yang dewasa. Dan terakhir kali aku cek, aku juga sama sekali bukan pembantunya.

Membereskan segala kekacauannya bukanlah tugasku, dan bukan tugasnya pula untuk membereskan kekacauan yang aku lakukan.

Jadi tidak, aku tidak beruntung. Ini tidak ada hubungannya dengan keberuntungan atau kebetulan. Ada banyak hal yang bisa dibicarakan dengan komunikasi.

Suamiku memahami bahwa mendamaikan perdebatan empat orang anak ini mirip dengan menjaga gurita yang terkandung dalam kantong jaring. Apa pun yang dicapai di luar pengasuhan dengan sepenuh hati adalah bonus.

Aku yang tidak mengerjakan sepenuhnya segala pekerjaan rumah ini bukanlah sebuah tanda bahwa aku lemah dan rendah diri. Itu adalah tanda bahwa keberadaanku di mata anak-anakku lebih penting daripada pekerjaan rumah dan hal inilah yang harus kita capai bersama, sampai di kemudian hari.

Pernikahan adalah kerja tim

Ada yang selalu berperan sebagai pemberi dan penerima, selalu ada aliran pasang surut. Ini bukanlah sebuah kesepakatan yang hanya terjadi satu kali, hal ini adalah sebuah kesepakatan yang dapat terjadi berulang kali.

Tidak ada papan nilai untuk menentukan siapa juaranya, tidak ada pialanya juga. Dalam beberapa hari aku melakukan lebih banyak pekerjaan rumah dari dia, kemudian di hari lainnya, beban pekerjaan yang harus dia tanggung akan lebih banyak dari aku dan dia akan menjaga agar semuanya dapat berjalan dengan baik.

Kami berbagi peran satu sama lain. Kami juga membagi waktu satu sama lainnya karena itulah yang dinamakan cinta.

Dan kau tahu .. kami pun juga mengalami badai rumah tangga sampai akhirnya sejauh ini berjalan. Kami bertemu dan saling mengenal selama enam bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.

Putri pertama kami lahir setelah kami merayakan ulang tahun pernikahan pertama kami. Aku tidak memiliki keraguan soal ini, dan semua teman maupun keluarga berpikir kami ini adalah pasangan yang gila. Bahkan sampai sekarang mereka masih berpikir hal seperti itu.

Tapi meskipun kami tampak terburu-buru dalam banyak hal, ksmi berdua masih punya waktu untuk berdiskusi tentang apa yang dia inginkan dariku dan sebaliknya.

Aku adalah dia. Kami masih berdiskusi tentang siapa yang akan melakukan apa. Serta membicarakan tentang bagaimana arah rumah tangga kami nantinya berjalan.

Perlu kau tahu: jika dia bilang padaku bahwa dia menginginkan aku untuk melakukan segala hal gila yang membosankan seputar pekerjaan rumah tangga dan mengasuh bayi, aku akan mengatakan padanya untuk menikahi robot saja.

Sejauh yang aku ketahui, butuh dua orang manusia untuk mengandung seorang anak, butuh kerja sama dua orang untuk membuat sebuah pernikahan berjalan.

Pernikahan tidak akan berjalan jika hanya satu orang yang berusaha sedangkan yang lainnya hanya bicara. Dan itu tidak selalu mudah dan bahkan kadang-kadang hal itu memang sangat sangat sulit.

Tetapi ketika Anda mencintai seseorang, Anda jangan menyerah pada mereka bahkan ketika keadaan sedang sangat sulit. Teruslah berbicara.

Jadi, bukan berarti suamiku adalah seseorang yang “terlatih”. Dia memberikan kontribusi kepada rumah dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena dia memang seorang lelaki yang baik, bijaksana dan perhatian.

Dia membuatkan aku pancake untuk sarapan pada akhir pekan, ia melipat pakaian kami dan dia juga akan belanja setiap minggu serta memasak hidangan makan malam setiap malam. Karena dia adalah orang dewasa yan tubuhnya sehat dan berfungsi serta berkomitmen untuk mengasihi keluarganya.

Kami merayakan sepuluh tahun pernikahan pada bulan Oktober ini. Jadi jelaslah bahwa kita berdua menjalankan sesuatu yang sangat istimewa.

Perlu kesadaran tinggi dari para lelaki untuk mau menjadi suami yang ikut membantu pekerjaan rumah tangga. Hal ini seharusnya jadi hal yang normal, mengapa ini seolah sesuatu yang istimewa.

Ada baiknya mengomunikasikan pada pasangan tentang pembagian tugas antar suami istri. Hal ini bisa mulai dilakukan sejak sebelum menikah hingga selama pernikahan agar menjaga ikatan cinta antara suami istri.

Jangan sampai ada salah satu yang merasa stres karena mengerjakan lebih banyak pekerjaan dari yang lainnya. Semoga hal ini juga terjadi di kehidupan rumah tangga Anda.

 

Baca juga:

Pengakuan Seorang Suami: “Jangan Salahkan Istri atas Rumah yang Selalu Tampak Berantakan…”

 





Kisah Mengharukan