"Salahkah jika saya hanya ingin punya satu anak?" curahan hati seorang ibu

"Salahkah jika saya hanya ingin punya satu anak?" curahan hati seorang ibu

Pertanyaan orang-orang tentang rencana memiliki anak kedua sempat membuat ibu ini merasa ragu dengan kebahagiannya sendiri.

Bagi sebagian besar keluarga mungkin memiliki anak satu saja tidaklah cukup. Beberapa orangtua rata-rata setidaknya ingin memiliki 2 atau 3 anak. Namun, bagi sebagian wanita jumlah anak ternyata bukan menjadi suatu prioritas.

Meski banyak orang yang menganggapnya sebagai keegoisan, keinginan untuk tidak memiliki anak lagi memang kerap terbesit di batin sebagian wanita, terutama bagi mereka yang baru saja melahirkan anak pertama. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti pengalaman hidup, prinsip, ataupun trauma saat hamil dan melahirkan juga bisa mempengaruhinya.

Hal ini juga yang mungkin dialami oleh seorang ibu bernama Melissa Van Londersele. Ia merasa kehadiran anak satu sudah membawa kebahagiaan yang luar biasa bagi hidupnya. Dengan kondisi seperti ini, baginya tak ada yang kurang.

Namun ternyata prinsipnya ini tidak sejalan dengan orang-orang di sekitarnya. Meski awalnya merasa bersalah tentang  prinsipnya, Melissa tetap meyakini bahwa kebahagiaan hidupnya tidak diukur dari apa yang diinginkan orang lain.

Berikut pengakuan Melissa tentang perasaannya, dikutip dari laman Scary Mommy.

Setelah lulus SMA, hidup saya berubah secara tak terduga. Saya langsung bertemu dengan seorang pria yang membuat saya jatuh cinta. Hingga akhirnya saya dinikahinya pada usia 21 tahun dan tinggal bersama. Ya, akhirnya setelah beberapa tahun saya memutuskan untuk hidup secara konvensional yang lazim seperti orang kebanyakan. Menjadi istri dan memiliki anak satu.

Tak lama menunggu, saya segera hamil dan melahirkan bayi perempuan pada tahun 2011. Saat itu saya berusia 24 tahun. Saya sangat mencintai anak saya , mungkin lebih dari apa pun. Menikmati setiap hal klise yang merupakan proses menjadi seorang ibu yang baik, merupakan sesuatu hal baru bagi saya.

Suami pun merupakan pria hebat yang selalu mendampingi saya. Dia mau membantu mengganti popok, sesekali menyiapkan makan malam, dan menjadi sosok ayah yang luar biasa. Kami cukup bahagia dengan kondisi itu.

Ternyata, kebahagiaan tidak sesederhana itu di mata orang lain. Saya tidak menyadarinya, tetapi ada aturan dan pemahaman bahwa begitu Anda mulai melahirkan anak pertama, akan ada  banyak oposisi yang kuat dari teman-teman, keluarga, dan yang paling mengejutkan dari orang asing.

Komentar pertama datang dari seorang wanita yang lebih tua ketika putri saya baru berusia enam bulan. Saya bertemu dengannya di sebuah toko. Tiba-tiba muncul pertanyaan, “Kapan rencana memberi saudara kandung untuk si kecilmu ini?”

Pertanyaan orang-orang tentang anak kedua cukup mengejutkan

Bukankah saya baru saja melahirkan? Pikiran untuk kembali  menjalani kehamilan dan persalinan lagi terlalu cepat, bahkan tidak terlintas dalam pikiran saya. Saya masih menikmati kebersamaan dengan bayi kecil yang sempurna, yang saya dan suami ciptakan bersama.

Saya tergagap-gagap, “Oh, baiklah. Kami bahkan belum memikirkannya. Kami mungkin hanya memiliki anak satu dulu,”. Ia langsung menjawab singkat dan cepat, “Oh, Anda tidak bisa melakukan itu.” Saya memberinya tatapan sedikit layu dan melanjutkan kegiatan belanja saya.

Kalau dipikir-pikir, semuanya agak lucu. Kebahagiaan yang saya rasa cukup, tetapi kata-kata dari orang itu menempel dan saya mulai meragukan kebahagiaan saya. Mungkin aku harus berpikir sebentar. Apakah ada yang salah dengan saya karena hanya menginginkan anak satu? Apakah  menjadi anak tunggal akan berdampak negatif pada putriku saat dia besar nanti?

Pertanyaan-pertanyaan itu mulai mengganggu saya, dan tiba-tiba saya mulai merasa bahwa mungkin keluarga saya tidak lengkap, mungkin kami membutuhkan bayi lagi untuk bisa lebih bahagia dalam versi yang dapat diterima semua orang.

Komentar itu semakin sering muncul saat putri kami bertambah tua. Mengetahui pandangan dan sindiran yang tidak terlalu halus, seperti “Apakah Anda tidak khawatir perbedaan usia akan terlalu jauh?”. Dalam beberapa waktu, hal ini menjadi hal yang biasa dalam kehidupan kita.

Saya mulai bergabung dalam sebuah kelompok ibu dan mulai bermain dengan teman-teman yang memiliki bayi pada usia yang sama. Sungguh menyenangkan akhirnya bertemu dengan beberapa teman baru dan menyaksikan putri saya berinteraksi.

Tak bisa dipungkiri, begitu si kecil mulai menginjak tahun pertama kehidupannya, banyak orangtua yang mulai mencoba menjalani kehamilan lagi. Begitu pun teman-teman di sana. Saya gembira dengan teman-teman saya yang sudah kembali dengan perut buncitnya, tetapi juga merasa hal itu mengerikan.

Teringat kehamilan saya yang sangat melelahkan, saya tidak bisa membayangkan menjalaninya  sambil merawat balita juga. Saya tahu bahwa saya pasti belum siap selama berbulan-bulan harus merasakan lagi mual, muntah, dan mimisan terus menerus (saya mengalami hiperemesis) benar-benar bukan kenangan yang manis bagi saya. Saya memberi tahu teman-teman saya, “Mungkin setahun lagi, kita lihat saja nanti.”

Beberapa tahun berlalu, putri kami berumur lima tahun dan saya masih fokus membesarkan anak satu. Apakah saya egois? Apakah saya salah?

Saya punya dua teman baik yang saat ini hamil anak ketiga mereka. Saya kagum pada mereka dan kekuatan yang mereka tunjukkan. Bahkan, belanja bahan makanan tampak seperti tugas monumental dengan dua anak kecil, ditambah lagi sedang hamil. Mereka tampaknya menjalani semuanya dengan tenang, mungkin terkadang merasa lelah, tetapi mereka tetap bertahan hidup. Sesekali saya bertanya-tanya, “Mengapa begitu banyak orang yang bersedia memiliki anak lebih dari satu? Kenapa aku tidak?”.

Saya tidak malu untuk bersenang-senang di waktu sendiri ini. Memiliki anak satu saja sudah begitu lelah, tak terbayang orang tua yang memiliki tiga, atau sepuluh anak, pasti mereka memiliki beberapa hari yang berat.  Namun, rasa frustasi sering menghampiri. “Mungkinkah jalan terbaik adalah memiliki dua anak kecil? Apakah yang saya lakukan ini kesalahan?” Faktanya mungkin tidak, karena tidak ada yang benar-benar bisa menjadi sempurna bagi diri mereka sendiri dalam semua situasi. Kita manusia tak luput dari kesalahan.

Keadaan yang sempurna benar-benar membuat bahagia dan merasa cukup.

Bagi saya, putri saya benar-benar sempurna, dan kami sangat bahagia dengan hidup kami. Saya cukup senang dengan keadaan ini. Saya bersyukur dengan penghasilan suami saya yang memungkinkan bagi saya untuk tinggal di rumah, anak saya pun tumbuh menjadi anak yang baik dan bersekolah di sekolah yang baik, dan hal lainnya yang membuat bahagia. Mungkin banyak hal yang akan berubah ketika kita memiliki anak kedua. Mungkin kondisinya tidak akan seperti ini lagi.

Saya pikir, tidak ada yang benar-benar tahu tentang kondisi orang lain. Saya ragu, mungkin ada banyak orangtua yang mengaku menyesal memiliki anak kedua atau ketiga. Satu hal yang pasti, mungkin keputusan itu mungkin bukan rencana awal.

Memiliki anak satu atau berapa orang memang bukan menjadi tolak ukur kebahagiaan sebuah keluarga. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang kita sayangi di dalam rumah, termasuk anak-anak kita. Jangan lupa rasa syukur agar bisa menjalani hidup dengan bahagia. Kebahagiaan itu bukan tercipta dari komentar orang lain, tetapi dari diri sendiri.

Baca juga:

7 Karakter menarik yang dimiliki anak pertama, Parents wajib tahu!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner