Pola asuh permisif, anggap anak teman, ini keuntungan dan dampaknya!

lead image

Ada banyak gaya pengasuhan yang beredar di luar sana, salah satunya pola asuh permisif. Yuk, kita cari tahu lebih jauh tentang pengasuhan ini!

Singkatnya, orangtua dengan pola asuh permisif cenderung lebih seperti teman daripada orangtua. Mereka sangat mencintai dan memberikan perhatian dengan anak-anak mereka. Namun, orangtua cenderung tidak mendisiplinkan anaknya atau mengajari tentang tanggung jawab.

Sekarang, kita lihat pro dan kontra tentang pola asuh permisif ini sehingga Anda dapat membuat keputusan yang lebih tepat tentang cara mengasuh anak-anak Anda.

Pro dan kontra pola asuh permisif

pola asuh permisif

Pro

Anak-anak yang dibesarkan oleh pola asuh permisif memiliki harga diri tinggi, keterampilan sosial yang baik, dan lebih banyak akal daripada mereka yang dibesarkan oleh orangtua otoriter atau terlalu ketat.

Orangtua permisif secara emosional mendukung dan merespons ketika berinteraksi dengan anak-anak mereka. Mereka benar-benar menekankan pada hubungan mereka dengan anak-anak mereka, dan dengan sepenuh hati ingin memaksimalkan kebahagiaan anak-anak.

Orangtua mungkin melakukan hal ini untuk mencegah hubungan yang renggang antara anak-anak mereka.

Konflik atau argumen atara orangtua dan anak jarang terjadi atau tidak sama sekali, karena orangtua yang permisif tidak mengatur keinginan anak mereka.

Memberi kebebasan anak untuk berkreasi dan pemikiran inovatif tanpa takut akan halangan dan keterbatasan.

Kontra

Meskipun orangtua dengan pola asuh permisif secara terbuka mencintai dan merawat anak-anak mereka, mereka bisa terlalu santai dibandingkan dengan orangtua yang menggunakan gaya pengasuhan konvensional.

Secara khusus, ada beberapa ciri khas orangtua permisif yang kurang membantu perkembangan anak-anak.

  • Orangtua permisif tidak menetapkan aturan untuk mendisiplinkan anak-anak. Kalau pun mereka melakukannya, mereka biasanya tidak konsisten dalam menegakkannya.
  • Mereka cenderung ‘menyuap’ anak-anak dengan makanan, hadiah, mainan, dan lainnya sehingga mereka akan menurut.
  • Mereka memprioritaskan kebebasan anak-anak. Namun dalam pola asuh permisif, orangtua melihat anak-anak tidak dewasa dan tidak dapat melaksanakan tanggung jawab yang membutuhkan pengendalian diri.
  • Orangtua yang permisif hampir tidak pernah menghukum anak-anak mereka.

Penelitian telah menunjukkan bahwa pola asuh permisif dapat memiliki efek yang merugikan pada anak-anak saat mereka tumbuh dewasa. Apa saja?

Dampak pola asuh permisif

pola asuh permisif

Anak-anak dari orangtua yang permisif memang memiliki kebebasan, tetapi mereka kehilangan periode kritis dalam mengembangkan keterampilan penting, seperti tanggung jawab. Akibatnya, ada banyak efek negatif dari gaya pengasuhan ini terhadap anak, termasuk:

  • Kurangnya etiket – Anak-anak kurang memiliki sopan santun atau tanggung jawab di rumah.
  • Perilaku yang tidak diatur – Anak-anak bebas dalam hal waktu tidur, pekerjaan rumah, waktu makan, dan menonton televisi. Menonton televisi dapat berlangsung lebih dari yang disarankan setiap harinya, dan konsumsi camilan yang berlebihan.
  • Membuat keputusan buruk – Anak-anak cenderung memutuskan sendiri apa yang harus mereka lakukan tanpa berkonsultasi dengan orangtua atau pengasuh.
  • Masalah emosional karena kurangnya batasan – Mereka cenderung impulsif, agresi, ketergantungan, kurangnya tanggung jawab pribadi, dan gejala mengalami kecemasan serta depresi.
  • Masalah Sikap – Terlepas dari kelebihan, pola asuh permisif juga menghasilkan anak-anak yang terlalu menuntut dan egois.
  • Kesehatan mental yang buruk – Anak permisif cenderung tidak siap dengan kebebasan di masa depan, sehingga cenderung depresi, kecemasan, atau stres saat menghadapi dunia perkuliahan.
Artikel terkait: Karakter Anak dan Pola Pengasuhan yang Tepat Untuknya

 Mengapa pola asuh permisif kurang direkomendasikan?

Ketika orangtua tidak membela aturan dan tidak memberlakukan hukuman, anak-anak cenderung tidak menyadari kesalahannya.

Hal ini juga bisa membatasi kemandirian anak. Mereka bergantung pada orangtua, yang dapat menghambat kedewasaan mereka dan kurang mengembangkan tanggung jawab dan pengendalian diri.

Mereka juga cenderung kurang disiplin, yang mengarah ke sikap dan masalah emosional. Selain itu, anak-anak tidak memiliki seorang pun tempat untuk mencari nasihat, sehingga cenderung frustrasi dan kebingungan.

 

Maka, otoritas kita sebagai orangtua tetap diperlukan. Anda tetap tegas, dan mendidiknya dalam kedisiplinan untuk bekalnya di masa depan.

 

 

Dilansir dari artikel Kevin Wijaya Oey di theAsianparent Singapura
Baca juga: 

21 Jenis Pola Asuh Anak yang Perlu Anda Ketahui

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.