Perjuangan Seorang Ibu Jalani Induksi Laktasi Demi Susui Anak Adopsi

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Seorang ibu asal Bali rela menjalani induksi laktasi ASI demi anak adopsinya. Bukti bahwa kasih sayang ibu pada anaknya bisa melampaui hubungan darah.

Suami istri Daniel dan Chasyha tak dapat menahan rasa haru ketika mereka mengetahui bahwa kurang dari 5 minggu lagi anak yang akan mereka adopsi akan hadir di dunia ini.

Daniel dan Chasyha memang belum dikaruniai anak sejak awal pernikahan mereka. Sekalipun sudah berusaha dan berdoa, Tuhan belum memberikan janin di rahim Chasyha untuk dikandungnya.

Di saat mereka berdua sudah hampir menyerah untuk memiliki anak, seorang kerabat mengabarkan bahwa ia tak akan sanggup memelihara anak yang sedang dikandungnya nanti. Keadaan mental dan finansial yang serba sulit membuat kerabatnya tersebut menawarkan agar Daniel dan Chasyhalah yang kelak akan merawat anaknya.

Tanpa pikir panjang, pasangan suami istri ini setuju untuk mengadopsi anak tersebut secara legal, bahkan sejak dari kandungan. Selayaknya orangtua baru, dengan telaten, mereka memperhatikan kondisi ibu dan kandungannya serta melakukan persiapan belanja kebutuhan untuk bayi yang baru lahir.

“Sampai pada suatu hari, dengan perasaan tak enak hati, kami izin ke teman-teman gereja lewat Whatsapp grup bahwa kami tak dapat ikut liburan akhir tahun bersama. Dengan jujur kami mengatakan pada mereka harus siaga setiap saat menyambut kelahiran bayi. Bukannya marah karena batal ikut, teman-teman kami justru ikut bergembira,” tuturnya.

Saat itulah, salah satu dari temannya juga mengusulkan untuk konsultasi laktasi di RS BaliMed Denpasar. Awal perjuangan usaha induksi laktasi mereka dimulai saat itu juga.

Di sanalah, ia bertemu dengan dr.Oka Dharmawan, IBCLC, MARS, seorang dokter ahli laktasi yang direkomendasikan temannya dan konon akan sabar menjawab semua pertanyaan pasiennya.

Sejak pertama kali bertemu dokter Oka, ia sudah merasa bahwa dokter ini adalah dokter yang baik, keramahannya terpancar sejak pertama kali mereka bertemu di rumah sakit. Ia yakin bahwa keputusannya untuk menjalankan induksi laktasi sudah tepat.

Sejak konsultasi pertama, dokter Oka langsung menjelaskan prinsip utama induksi laktasi. Prinsip tersebut adalah, perempuan yang tidak hamil bisa dirangsang agar dapat menyusui bayi.

Dokter juga menjelaskan bahwa program induksi laktasi ini umum dilakukan oleh orangtua adopter, nenek, maupun kerabat yang ingin menyusui bayi. Betapa berbunga-bunganya hati Chasyha ketika dokter juga menjelaskan tentang manfaat menyusui untuk mempererat ikatan antara ibu dan bayi.

Program induksi laktasi secara normal mestinya dilaksanakan 6 bulan sebelum kelahiran bayi. Namun, atas motivasi dokter, Chasyha tetap bisa mencoba melakukan prosedur ini lima minggu sebelum bayi lahir dan semua yang ia praktekan sesuai dengan tahapan yang diarahkan dokter.

“Dokter bilang, kalaupun saat bayi lahir nanti ASI saya belum keluar, saya masih bisa memberikan ASI donor kepada bayi ketimbang harus memberikan susu formula,” kenang Chasyha.

Begitu keluar dari ruang konsultasi dokter Oka, demi cintanya pada anak adopsi yang akan lahir ke dunia ini, Chasyha dan Daniel sudah bertekad kuat untuk disiplin mengikuti segala tahapan yang disarankan oleh dokter.

Pada tahap awal, ia harus rutin mengonsumsi pil kontrasepsi dan Domperidone tiga kali sehari. Pil tersebut juga harus diminum secara disiplin dengan jam yang sama setiap harinya.

“Secara sederhana, dokter Oka menjelaskan bahwa kondisi tubuh saya harus seperti orang hamil. Karena tubuh saya harus dipersiapkan untuk menjadi pabrik ASI,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa seminggu setelah disiplin mengonsumsi resep tersebut, ia juga langsung merasakan perubahan selayaknya ibu yang sedang hamil.

Diantaranya adalah gairah seks yang menurun, timbul jerawat, membesarnya payudara sampai bertambah 4 nomor, areola melebar dan mulai menghitam, serta bertambahnya nafsu makan.

Pada tanggal 3 Desember 2016, Chasyha dan suami kembali berkonsultasi dengan dokter Oka. Dalam pertemuan tersebut, ia diajari teknik pijat relaktasi dan payudara.

Dokter Oka mencontohkan teknik relaktasinya, sedangkan yang mempraktekkan langsung adalah suami. Sedangkan, untuk pijat payudara bisa dilakukan oleh diri sendiri.

Pijat relaktasi ini mirip seperti pijat akupuntur. Usai pijat, Chasyha mengaku sangat rileks. Selain karena pijatan yang memang bermanfaat baik untuk kesehatan tubuh, pijat itu juga menggunakan minyak nabati yang aroma dan efeknya sangat baik untuknya.

Hal yang membuat ia makin merasa terharu adalah, saat cairan putih mulai muncul dari payudaranya. Sehingga dokter Oka semakin menyemangati usaha Chasyha dan suami dalam menyediakan ASI untuk buah hati mereka yang akan lahir.

Komitmen perawatannya tak mudah. Setiap 3-4 jam sekali, ia harus melakukan pijat relaktasi agar ASI benar-benar bisa keluar dengan lancar. Chasyha melakukan itu semua dengan suka cita dan kerelaan yang sepenuh hati.

Kelahiran Bara

Ibu kandung Bara sempat mengalami kontraksi palsu selama 10 hari lamanya. Selain itu, dokter mengatakan bahwa detak jantung bayi di dalam kandungan tersebut sempat hilang.

Akhirnya keputusan sulit dibuat. Saat itu mereka sepakat untuk melakukan operasi cesar untuk menyelamatkan nyawa bayi di dalam kandungannya.

Tepat pada tanggal 7 Desember 2016 pukul 11.30 WITA, Bara lahir ke dunia ini. Nama Bara artinya adalah ‘Anak yang sudah ditebus Tuhan”. Saat itu berat Bara 3 Kg dengan panjang tubuh 50 cm.

Bara sempat dirawat di ruang NICU selama 3 jam setelah kelahirannya karena kekurangan oksigen. Setelah tiga jam berlalu, barulah ia bisa bergabung dengan mama dan papanya untuk dipeluk.

Karena ASInya belum keluar, sebagai permulaan, maka ia memberikan ASI donor kepada Bara. ASI tersebut adalah milik salah satu pasien induksi laktasi ASI dokter Oka yang lain.

Saat itu, setiap kali melakukan pumping, progress ASInya baru keluar sebatas embun saja. Sehingga ia menyuapi Bara dengan ASI yang disendokkan ke mulutnya.

Dokter mengajarinya menyusui Bara dengan metode Supplemental Nursing System atau SNS. Namun, pada akhirnya ia kesulitan menjalankan metode ini karena Bara terus menerus berusaha menarik selang SNS dan membuatnya harus kembali diberi makan dengan menyendoki ASI donor tersebut secara manual.

Saat seorang sahabat menjenguk Chasyha dan Bara di rumah, ia mengajarkan caranya melakukan pelekatan ASI yang benar.

“Hasil pumping saya pun belum kelihatan, baru embun embun yang bermunculan, sampai hari ke-4 (14 Desember 2016) hasil pumping saya dapat 10 ml dengan pil kontrasepsi yang sudah selesai 1 siklus. Senangnyaaa… Saya langsung menceritakan hal itu kepada dokter Oka dan bertanya bolehkah saya memberikan asi tersebut kepada Bara. Jawaban dokter saat itu, ‘boleh’,” urai Chasyha dengan ceria.

Perasaan terharu, bahagia, dan beragam hal yang berkecamuk di dalam diri membuat 10 ml ASI pertama darinya disendokkan ke mulut Bara dengan tangan yang gemetaran. Saat peristiwa itu terjadi, hatinya sangat hangat. Ia memang tidak melahirkan Bara lewat rahimnya, tetapi ia tahu betul bahwa ia telah melahirkan anaknya langsung dari hatinya yang paling murni.

Dokter Oka menyarankan Chasyha untuk mencoba menyusui Bara langsung. Setelah mencoba menyusui langsung, anaknya masih menangis terus, aerolanya pun lecet. Belakangan baru diketahui bahwa anaknya memiliki tongue tie dan lip tie. 

Di tengah rasa sakit saat menyusui, ia selalu meneguhkan diri dengan berkata pada dirinya sendiri di dalam hati, ”saya tidak merasakan sakitnya melahirkan, jadi kalau hanya sakit karena menyusui. Seharusnya saya bisa terima.”

Bara sempat menjalani operasi untuk menghilangkan tongue tie dan lip tienya. Dari balik tirai, perasaannya sebagai ibu sangat sedih dan tidak tega membayangkan anaknya yang kesakitan saat dioperasi. Karena tidak kuat hati mendengar tangisan itulah, maka diputuskan bahwa suaminya yang akan menemani Bara di meja operasi.

Selain membenahi struktur mulur Bara, usaha untuk memproduksi ASI lebih banyak lagi agar Bara dapat makan dengan kenyang terus dilakukannya. Misalnya konsumsi teh fenugreek, kacang-kacangan, buah-buahan, dan terus menerus menjaga perasaan bahagia agar ASI yang mengalir juga lancar.

Hasilnya tak mengecewakan. Ia akhirnya mulai berhasil memproduksi lebih dari 30 ml ASI. Bara juga makin giat menyusui.

Ia juga sempat galau ketika dalam satu bulan berat badannya anaknya hanya naik 500 gr. Padahal, yang ia tahu bahwa anak lelaki normal berat badannya naik sekitar 800 gr.

Saat curhat dengan dokter Oka mengenai berat badan tersebut, dokter menyarankan bahwa sebaiknya Bara diberi hindmilk dulu supaya target berat badannya naik. Chasyha menyiasatinya dengan melakukan pumping 5 menit hingga seluruh foremilknya keluar dan hanya tersisa hindmilk.

Sebisa mungkin, ia tak pernah membuang foremilk yang ia pumping. Ia sudah berniat di dalam hati untuk menyimpannya, siapa tahu ada bayi lain yang akan membutuhkannya.

Hasilnya luar biasa, berat Bara naik 1500 gram dalam satu bulan. Bulan berikutnya naik lagi menjadi 1400 gram. Ia sangat bersyukur bahwa perasaan gagal yang sempat menerpanya dan kesedihan saat Bara dioperasi terbayar sudah dengan perkembangan tumbuh kembang Bara yang pesat.

Kini, Bara sudah berusia 4 bulan dengan berat badan mencapai 7 kilogram.

Sebagai ibu adaptor yang semangat memberi ASI, ia menyarankan bahwa calon ibu adaptor sebaiknya bertemu dengan konselor laktasi yang ‘cocok’ dan segera memulai program Induksi Laktasi sebelum bayi lahir.

“Jika keadaanya sekarang anak adopsi sudah lahir, tapi berniat memberikan ASI tidak ada salahnya mencoba program ini,” sarannya.

Ia melanjutkan, “Kemarin saya juga sempat diundang di group yang membernya adalah para ibu adopter. Beberapa sudah mulai mencoba menghubungi konselor laktasi di kotanya dan mulai menjalani program ini. Jadi yang pertama harus dilakukan adalah temui konselor laktasi dulu, untuk tahapan dan proses mungkin para konselor laktasi yang bisa menjelaskan.”

Menjadi ibu dengan hati

Chasyha merasakan bahwa setiap kali menatap anaknya tidur, ada rasa haru, sayang, bahagia, dan khawatir yang langsung menerpanya. Di satu sisi ia sangat ingin memberikan segala yang terbaik untuk anaknya dengan segenap rasa cinta. Di sisi lainnya, ia khawatir jika suatu hari akan gagal jadi ibu yang baik untuk Bara.

Ia menyadari sepenuhnya, menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah. Baik menjadi orangtua kandung maupun adopsi.

“Jika ingin mengadopsi anak seperti saya, maka saran saya adalah, niatkan dulu sepenuh hati. Karena kelihatannya merawat anak ini adalah hal yang mudah, padahal banyak yang harus dikorbankan. Waktu, tenaga, dan pikiran kita harus benar-benar kita fokuskan terhadap perawatan anak.”

Ia melanjutkan, “merawat anak bukan hanya merawat bayi. kita harus siap secara finansial juga untuk biaya kesehatan dan sekolah anak tersebut.”

Bara, yang status secara legal sudah menjadi anak sahnya kini tumbuh jadi anak yang sehat dengan pertumbuhan tubuh yang baik. Hingga kini pun, Chasyha rutin mengonsumsi booster ASI berupa Domperidone, Asifit, dan kadang minum teh maupun susu almond.

Stok ASI yang selalu disiapkan Chasyha untuk didonorkan / Foto: dok pribadi.

Produksi ASI yang berlimpah membuatnya mampu menjadi donor untuk bayi lainnya. Seperti yang beberapa waktu lalu terjadi, ia memberikan ASI donor kepada seorang bayi kerabatnya yang premature.

Chasyha masih berharap bahwa ia bisa memberikan ASI pada Bara hingga usia 2 tahun. Karena, sepanjang pengetahuannya, belum ada ibu yang jalani prosedur induksi laktasi yang dapat bertahan menyusui sampai anak usia 2 tahun.

“Jika saya bisa susui Mas Bara sampai 2 tahun, mungkin saya orang Indonesia pertama yang berhasil sejauh itu. Karena biasanya banyak yang produksi ASInya berkurang di tengah jalan dan menyerah. Saya juga punya kekhawatiran itu. Makanya saya terus memacu produksi ASI dengan rajin konsumsi booster.

Ia juga bersyukur bahwa dirinya belum pernah memberikan susu formula pada anaknya. Sekalipun, saat sedih ASInya sedikit itu dia selalu berpikir jalan pintas dengan susu formula.

“Mungkin ASI memang bukan hal yang selalu jadi pilihan orangtua. Namun ASI sudah pasti jadi pilihan terbaik untuk bayi,” tuturnya mantap.

Sekalipun kini ASInya sudah lancar, ketakutan lain sempat hinggap di dalam benaknya. Misal, bagaimana saat gigi Bara nanti sudah tumbuh? Apakah drama areola yang lecet akan terulang kembali?

“Tapi dokter Oka bilang, yang penting anaknya diajak bicara baik-baik. Maka tidak akan ada masalah yang berarti nantinya,” tirunya.

Sekalipun sebelumnya ia sudah menemui banyak dokter kandungan agar bisa melahirkan anak sendiri dari rahimnya, kini ia sudah merasa cukup aan bersyukur. Di dalam singgasana hatinya, Bara lah anak yang selama ini ia nanti dan idamkan.

Penjelasan dokter tentang induksi laktasi

Dr.Oka Dharmawan, IBCLC, MARS menjelaskan bahwa pada prinsipnya, proses induksi laktasi yang ia lakukan adalah merangsang payudara ibu untuk berubah menyiapkan dirinya agar dapat memberi asi.

Dalam proses induksi laktasi digunakan hormon progesteron dan estrogen untuk membuat payudara seolah-olah ada proses kehamilan, sehingga payudara memperbanyak alveoli (kelenjar asi) dan ibu akan merasa payudaranya berubah secara bertahap.

Kemudian, payudara tersebut dibantu mengisi ASI dengan bantuan domperidon, yang umumnya digunakan sebagai obat muntah. Di mana domperidon ini membantu meningkatkan kadar hormon prolaktin yang bertugas merangsang produksi ASI, sehingga payudara yang dirangsang oleh estrogen dan progesteron memiliki ASI.

“Setelah beberapa hari (biasanya 10 hari), saya akan ajarkan ibu teknik pijat laktasi yang saya pelajari dari Arugan. Pijat ini membantu meningkatkan produksi asi dan mengeluarkan asi ibu,” terang dokter yang sering dibantu oleh istrinya ini saat mengajari pasien pijat relaktasi.

“Jika ASI ibu mulai menetes, akan saya minta ibu melakukan pemerahan teratur yang frekuensi memerahnya meningkat secara bertahap setiap harinya untuk meningkatkan permintaan sehingga produksi ASInya meningkat.”

Menurutnya, keberhasilan induksi bukan pada disiplin konsultasi. Tapi disiplin mengelola payudara, “merawatnya agar memproduksi asi, menetek bayi sesering mungkin dan senantiasa happy. Karena happy penyebab produksi ASI berlimpah.” imbuhnya.

Dengan rendah hati, dokter Oka mengungkapkan bahwa apa yang dilakukannya adalah hasil dari belajar banyak di Perkumpulan Konsultan Laktasi Internasional Indonesia, “saya bukan yang pertama melakukan ini. Ada banyak guru guru saya yang lebih dahulu berhasil melakukannya, dan punya pengalaman terhadap lebih banyak ibu.”

Dokter Oka juga menyarankan para ibu untuk berkonsultasi seputar menyusui pada para konselor ASI yang jumlahnya banyak sekali, “ada Perkumpulan Konselor Menyusui, ada Perkumpulan Konsultan Laktasi Internasional, ada Sentra Laktasi Indonesia, dan ada Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia.”

Artikel terkait: Penjelasan dokter Wiyami Pambudi, SPA, IBCLC tentang induksi laktasi.

Selain membantu para ibu adopsi di Bali untuk menyusui anaknya sendiri, dokter Oka juga mengelola sebuah komunitas bernama Rumah ASI Bali yang beranggotakan lebih dari 400 ibu. Tujuan utama program ini adalah untuk mengajak ibu lainnya untuk menyusui anaknya.

Dengan semangat mengASI, ibu akan dapat memberikan asupan terbaik pada anaknya. Jika ibu adopsi saja bisa, maka ibu yang melahirkan anaknya sendiri pun jangan mudah menyerah.

Semoga para ibu yang melahirkan anaknya dari hati, maupun yang melahirkan anaknya dari rahim selalu diberi kekuatan lebih untuk bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya. Apapun itu.

 

Baca juga:

Promil Gagal 8 Kali Selama 8 Tahun, Pasangan ini Akhirnya dikaruniai Anak Kembar Lewat Program Bayi Tabung

 





Kisah Mengharukan