TAP top app download banner
theAsianparent Indonesia Logo
theAsianparent Indonesia Logo
kemendikbud logo
Panduan Produk
Keranjang
Masuk
  • Kehamilan
    • Kalkulator perkiraan kelahiran
    • Tips Kehamilan
    • Trimester Pertama
    • Trimester Kedua
    • Trimester Ketiga
    • Melahirkan
    • Menyusui
    • Kehilangan bayi
    • Project Sidekicks
  • Anak
    • Bayi Baru Lahir
    • Bayi
    • Balita
    • Prasekolah
    • Anak
    • Praremaja & Remaja
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
    • Pengasuhan Anak
    • Edukasi Prasekolah
    • Edukasi Sekolah Dasar
    • Edukasi Remaja
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
    • Keluarga
    • Doa Islami
    • Pernikahan
    • Seks
    • Berita Terkini
  • Kesehatan
    • COVID-19
    • Info Sehat
    • Penyakit
    • Vaksinasi
    • Kebugaran
  • Gaya Hidup
    • Korea Update
    • Hiburan
    • Travel
    • Fashion
    • Kebudayaan
    • Kecantikan
    • Keuangan
  • Nutrisi
    • Resep
    • Makanan & Minuman
    • Sarapan Bergizi
  • Ayah manTAP!
    • Kesehatan Ayah
    • Kehidupan Ayah
    • Aktivitas Ayah
    • Hobi
  • VIP

Terserang virus Japanese Encephalitis, balita ini mendadak koma dan akhirnya meninggal

Bacaan 4 menit
Terserang virus Japanese Encephalitis, balita ini mendadak koma dan akhirnya meninggal

Kejadian ini begitu cepat dan tidak disangka-sangka...

Penyakit Japanese Encephalitis mungkin masih terdengar asing di telinga Anda. Namun, penyakit yang disebabkan oleh nyamuk ini ternyata cukup mematikan.

Kisah balita yang terkena penyakit Japanese Encephalitis

penyakit japanese encephalitis

Seperti yang terjadi pada seorang balita bernama Gavriella (2) yang mendadak demam pada hari Rabu, 10 Januari 2018. Suhu tubuhnya mencapai 38 derajat Celcius.

Advertisement

Gavriella mengeluh perutnya sakit tetapi tidak diare. Keesokan hari tanggal 11 Januari 2018, tubuhnya masih panas sehingga ia diberikan obat penurun demam.

Malam harinya, Gavriella dibawa ke Rumah Sakit Mitra Kelapa Gading. Dokter Retno mendiagnosis Gavriella terkena virus.

Selagi menunggu obat dari apotek, balita ini masih aktif berlari-lari. Ibunya, Yulia, mencoba menidurkan Graviella sambil digendong dan diberi susu.

Tak lama ia menggigil dan langsung dibawa ke UGD. Saat dibaringkan di ranjang, Gavriella kejang-kejang dan suhu tubuhnya menjadi 41 derajat.

Gavriella membutuhkan asupan oksigen sehingga ia pun dipasangi alat monitor. Ketika itu jantung Gavriella berdenyut kencang dan ia muntah-muntah sehingga dokter memasukkannya ke PICU (Pediatric Intensive Care Unit atau ICU khusus anak).

Tanggal 12 Januari pukul 6 pagi, dokter jaga PICU melaporkan bahwa Gavriella mengalami tiga kali kejang. Selang satu jam kemudian, ia mulai kritis dan tidak sadarkan diri.

Pukul 11 siang, Graviella menjalani CT Scan dan hasilnya menunjukkan ada pembengkakan pembuluh darah di otak belakang. Belakangan diketahui Graviella mengidap penyakit Japanese Encephalitis.

Berbagai upaya dilakukan demi kesembuhan Gavriella, termasuk melakukan penggalangan dana untuk membantu meringankan beban orangtuanya.

Sayangnya, Tuhan berkehendak lain. Tanggal 19 Januari 2018, Gavriella meninggal setelah berjuang selama kurang lebih seminggu.

balita meninggal karena penyakit japanese encephalitis

Postingan ayah Gavrriella, Ridwan Xu.

Selamat jalan, Gavriella sayang! Doa kami untukmu dan keluarga yang ditinggalkan.

Apa itu penyakit Japanese Encephalitis?

Japanese Encephalitis adalah penyakit radang otak yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini banyak terjadi di kawasan Asia dan disebarkan oleh nyamuk Culex tritaeniorhynchus.

Manusia bisa tertular penyakit Japanese Encephalitis apabila ia digigit nyamuk Culex yang terinfeksi. Biasanya nyamuk ini lebih aktif ketika malam.

Nyamuk Culex ini banyak terdapat di area persawahan dan irigasi. Di Bali, kasus Japanese Encephalitis cukup tinggi disebabkan banyaknya sawah dan peternakan babi di area tersebut.

Penyakit Japanese Encephalitis biasanya meningkat di kala musim hujan.

Artikel terkait: Ribuan Bayi Baru Lahir di Brazil Mengalami Kerusakan Otak, Diduga Akibat Virus Zika

Gejala penyakit Japanese Encephalitis

Awalnya penyakit ini hanya menimbulkan gejala ringan atau bahkan tidak ada gejala sama sekali. Gejala pertama muncul sekitar 5 – 15 hari setelah seseorang digigit nyamuk Culex yang terinfeksi.

Berikut ini gejala Japanese Encephalitis:

  • demam tinggi
  • menggigil
  • sakit kepala
  • mual
  • lemas
  • muntah
  • kaku pada tengkuk, terutama pada pasien dewasa
  • disorientasi
  • koma (kesadaran menurun)
  • kejang, terutama pada pasien anak-anak
  • lumpuh

Gejala tersebut biasanya membaik setelah fase kritis terlewati. Namun, 20 – 30% pasien yang terserang Japanese Encephalitis mengalami gangguan saraf kognitif.

Karena sebagian besar gejala penyakit ini mirip dengan penyakit umum lainnya, Anda butuh berkonsultasi ke dokter dan melakukan pemeriksaan laboraturium.

Biasanya uji lab bukan hanya dengan mengambil sampel darah melainkan juga pemeriksaan cairan sumsum. 

Vaksin untuk mencegah Japanese Encephalitis

Hingga saat ini belum ada pengobatan yang secara khusus untuk menyembuhkan Japanese Encephalitis. Biasanya obat-obatan yang diberikan hanya untuk menyembuhkan gejala-gejala yang dialami pasien.

Pasien yang positif terserang virus Japanese Encephalitis diharuskan menjalani rawat inap agar dapat dilakukan observasi secara intensif.

Cerita mitra kami
Si Kecil Kejang Demam? Tenang, Dokter Spesialis Anak Siaga 24 Jam di Mayapada Hospital
Si Kecil Kejang Demam? Tenang, Dokter Spesialis Anak Siaga 24 Jam di Mayapada Hospital
Butuh yang Manis Biar Kerja Lancar? Ini Tips Atasi Sugar Craving Agar Tetap Produktif di Kantor
Butuh yang Manis Biar Kerja Lancar? Ini Tips Atasi Sugar Craving Agar Tetap Produktif di Kantor
Generasi Sandwich: Ngurus Dua Generasi, Jangan Lupa Cek Gula Sendiri!
Generasi Sandwich: Ngurus Dua Generasi, Jangan Lupa Cek Gula Sendiri!
Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Ciri Pilek Alergi dan Pilek Biasa pada Anak
Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Ciri Pilek Alergi dan Pilek Biasa pada Anak

Namun, jangan khawatir! Ada cara untuk mencegah penyakit mematikan ini yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk. Anda bisa mengenakan anti nyamuk yang sesuai untuk kulit.

Kenakan pakaian yang menutupi tubuh ketika sedang berada di luar rumah. Gunakan kelambu saat tidur.

Hindari kegiatan malam hari terutama di area persawahan yang banyak terdapat nyamuk Culex.

Cara lain adalah dengan vaksin Japanese Encephalitis yang dapat diberikan sejak anak berusia 2 bulan hingga dewasa. Vaksin ini perlu diberikan 2 kali dengan jarak 28 hari.

Vaksin booster dapat diberikan pada orang dewasa (di atas 17 tahun) dengan jangka waktu minimal 1 tahun setelah dua dosis vaksin diberikan.

Semoga informasi ini bermanfaat.

 

Referensi: Kitabisa.com, Hello Sehat

Baca juga:

Cek Jadwal Lengkap Imunisasi Anak Terbaru 2023 dan Cara Mengatasi Efek Sampingnya

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Giasinta Angguni

  • Halaman Depan
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Terserang virus Japanese Encephalitis, balita ini mendadak koma dan akhirnya meninggal
Bagikan:
  • 17 Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi pada Anak, Cek!

    17 Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi pada Anak, Cek!

  • Mengenal Vaksin HPV untuk Cegah Kanker Serviks, Cara Kerja dan Efektivitasnya

    Mengenal Vaksin HPV untuk Cegah Kanker Serviks, Cara Kerja dan Efektivitasnya

  • 50 Arti Mimpi yang Sering Terjadi, Lengkap dengan Penjelasannya!

    50 Arti Mimpi yang Sering Terjadi, Lengkap dengan Penjelasannya!

powered by
  • 17 Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi pada Anak, Cek!

    17 Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi pada Anak, Cek!

  • Mengenal Vaksin HPV untuk Cegah Kanker Serviks, Cara Kerja dan Efektivitasnya

    Mengenal Vaksin HPV untuk Cegah Kanker Serviks, Cara Kerja dan Efektivitasnya

  • 50 Arti Mimpi yang Sering Terjadi, Lengkap dengan Penjelasannya!

    50 Arti Mimpi yang Sering Terjadi, Lengkap dengan Penjelasannya!

Daftarkan email Anda sekarang untuk tahu apa kata para ahli di artikel kami!
  • Kehamilan
  • Tumbuh Kembang
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Home
  • TAP Komuniti
  • Beriklan Dengan Kami
  • Hubungi Kami
  • Jadilah Kontributor Kami
  • Tag Kesehatan


  • Singapore flag Singapore
  • Thailand flag Thailand
  • Indonesia flag Indonesia
  • Philippines flag Philippines
  • Malaysia flag Malaysia
  • Vietnam flag Vietnam
© Copyright theAsianparent 2025. All rights reserved
Tentang Kami|Tim Kami|Kebijakan Privasi|Syarat dan Ketentuan |Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti