Waspadai 5 Penyakit Gangguan Kejang Pada Bayi yang Wajib Anda Ketahui

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Sebelum panik, cari tahu jenis kejang pada anak. Tak semua kejang pasti berpengaruh pada otak sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahuinya.

Semua orangtua ingin bayi mereka sehat. Namun, kadang bayi lahir dengan membawa penyakit bawaan tertentu yang membuat orangtua harus berusaha keras untuk dapat menjaga kesehatan bayinya lebih dari yang lain. Salah satu penyakit yang biasa ada pada bayi adalah penyakit gangguan kejang.

Berikut ini 5 jenis gangguan kejang yang barangkali dialami oleh si kecil dan harus segera mendapatkan perawatan dokter:

1.  Encephalopathy mioklonik

Awal encephalopathy mioklonik dikaitkan dengan mioklonus, yaitu berupa kedutan otot cepat yang datang pada awal masa kelahiran bayi. Electroencephalogram (EEG) sangat normal dalam kasus ini.

Sayangnya, bayi akan tetap benar-benar tergantung pada orang lain. Kasus yang banyak terjadi adalah, lebih dari setengah bayi penderita gangguan ini akan meninggal pada tahun pertama kehidupannya.

2. Sindrom Ohtahara

Encephalopathy epilepsi dini juga dikenal sebagai sindrom Ohtahara. Sindrom ini akan sangat mempengaruhi anak-anak ketika mereka berusia beberapa minggu atau bulan.

Terjadinya kejang akan sangat sering dan cukup parah. Sindrom Ohtahara memiliki pola EEG khas yang membantu dalam diagnosis. Mereka yang bertahan hidup dengan gangguan kejang ini bisa jadi akan mengalami kecacatan permanen yang berdampak pada perkembangan tumbuh kembangnya.

3. Sindrom West

Sindrom West adalah nama yang diambil dari seorang dokter Inggris bernama William James West yang menemukan penyakit pada tahun 1841.

Sindrom West dikaitkan dengan triad klasik yamg terjadi pada kejang infantil, pola EEG abnormal yang disebut hypsarrhythmia, dan regresi perkembangan. Sindrom West terjadi pada sekitar satu per 1900-1 per 3900 kelahiran bayi.

Obat yang tersedia yang dapat mengobati gangguan, termasuk vigabatrin atau corticotropin. Bahkan obat ini biasanya tidak memiliki dampak yang terlalu besar untuk menyembuhkan bayi.

4. Migrasi Kejang Parsial parah

Gangguan kejang jenis ini biasanya terjadi pada tujuh bulan pertama kehidupan bayi. Kejang jenis ini awalnya jarang terjadi, namun frekuensi kejang akan meningkat jelang 50 hari usia bayi.

Kejang juga akan meningkat dalam berbagai tingkatan durasi. Kadang terjadi hanya beberapa detik dan kadang juga sampai beberapa menit.

EEG akan tampak menunjukkan bahwa gangguan kejang dimulai pada berbagai wilayah otak, dan selalu selalu dimulai dengan cara yang sama. Gangguan kejang jenis ini biasanya sangat sulit atau tidak mungkin untuk dikontrol dan berpotensi menyebabkan perkembangan anak terganggu.

5. Sindrom Dravet

Sindrom Dravet dimulai pada tahun pertama kehidupan pada bayi yang sebelumnya tampak sehat. Penampakan awal gangguan kejang biasanya akan tampak saat anak sedang demam.

Dengan berjalannya waktu, anak akan memiliki banyak jenis kejang. Termasuk kejang umum, kejang parsial, dan gangguan kejang mioklonik. EEG awal akan terlihat normal, tetapi akan jadi lebih lambat dari waktu ke waktu.

Antara usia 1 dan 4, anak yang mengalami gangguan kejang akan kehilangan tahapan masa pertumbuhannya. Gangguan kejang bisa jadi akan susah disembuhkan kendati sudah mencoba segala macam jenis pengobatan.

16 sampai 18 persen anak-anak dinyatakan meninggal setelah terjadinya serangan gangguan kejang. Bisa jadi karena epileptikus, tenggelam, atau kematian tiba-tiba akibat epilepsi (SUDEP).

Gangguan kejang yang terjadi hanya sebentar tidak akan berdampak pada otak bayi. Namun jika gangguan kejang tersebut bertahan selama lima menit lebih dan sering terjadi, maka otak bayi akan rusak dan pertumbuhannya juga akan terhambat.

Sebelum memutuskan untuk membawa bayi ke dokter saat gangguan kejang terjadi, beberapa hal harus diperhatikan agar dapat mempermudah diagnosa dokter. Berikut yang harus diperhatikan:

  • Berapa durasi kejang yang terjadi?
  • Apa saja bagian tubuh bayi yang paling tampak berdampak selama kejang? Mata, kaki, tangan, atau justru punggung?
  • Apa yang ditampakkan oleh bayi ketika kejang? Menggeliat, melotot, tubuh kaku, atau gerakan lain yang menampakkan bahwa ia sedang sangat menderita.
  • Memastikan bahwa bayi Anda telah melakukan hal baik sebelum episode kejang terjadi. Misalnya, bayi sudah makan maupun cukup istirahat.

Melihat anak yang kita sayangi sedang kejang memang sangat menyayat hati. Namun Anda juga harus memastikan bahwa tidak ada benda keras yang akan menimpanya atau tak ada obyek lain yang barangkali dapat menyakitinya saat kaki maupun tangannya melakukan gerakan tertentu.

Anda perlu melakukan tes electroencephalogram (EEG), yang nantinya akan dapat menelusuri gelombang listrik dari otak. Bisa juga tes pencitraan otak, seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan, untuk menentukan penyebab gangguan kejangnya.

 

Referensi: Very Well, Parents, Baby Center.

Baca juga:

Mengatasi Kejang Demam Pada Anak

 





Kesehatan ibu dan anak