Parents, belajar kelola keuangan keluarga yang sehat dari ahlinya, yuk!

Parents, belajar kelola keuangan keluarga yang sehat dari ahlinya, yuk!

Pemasukan dan pengeluaran rumah tangga berjalan seimbang, mungkinkah dilakukan?

Banyak orang menganggap pengelolaan pengeluaran rumah tangga tak lebih dari mencatat pemasukan dan pengeluaran semata, namun masih sedikit yang menyadari pentingnya mengelola arus kas keluarga atau dikenal dengan cashflow bulanan.

Padahal, hal inilah yang menjadi pondasi utama perencanaan keuangan yang lancar dan tanpa hambatan dalam keluarga kecil Anda.

Tujuan utama pengelolaan pengeluaran rumah tangga yang baik, seperti apa?

Idealnya, terdapat 3 tujuan utama yang sebaiknya dicapai dalam merencanakan keuangan keluarga yang baik yaitu sebagai berikut:

  • Keamanan finansial (financial security) yakni suatu kondisi saat kebutuhan keuangan dalam jangka pendek (1 – 12 bulan ke depan) sudah terpenuhi;
  • Kenyamanan finansial yaitu kebutuhan keuangan dalam jangka menengah (1 – 5 tahun) dan jangka panjang (lebih dari 5 tahun) sudah memiliki gambaran yang jelas;
  • Kebebasan finansial (financial freedom) saat penghasilan pasif dan hasil dari investasi lebih besar dari pengeluaran.

“Kalau di dalam aplikasi Finansialku.com itu kita ada piramida perencanaan keuangan. Posisi paling bawah aman finansial. Aman finansial adalah ketika cashflow Anda sehat, tidak memiliki utang konsumtif serta sudah memiliki dana darurat dan investasi,” ungkap Melvin Mumpuni, Founder dan Financial Planner Finansialku dalam acara Media Luncheon #PunyaSimpenanEmasLebih bersama Treasury di South Quarter, Kamis (2/5) lalu.

Piramida perencana keuangan (Source: Instagram @melvin_mumpuni)

Ciri keuangan keluarga yang sehat

Melansir laman Finansialku.com, terdapat beberapa ciri yang menandakan keuangan keluarga ideal dan sehat. Apa saja?

  • Memiliki pendapatan tetap, entah penghasilan bulanan, pekerjaan tambahan atau usaha sampingan
  • Adanya anggaran pengeluaran yang jelas; Tentukan alokasi dana untuk memenuhi kebutuhan pokok, tabungan, membayar cicilan dan kebutuhan lainnya
  • Memiliki dana darurat, idealnya 12x pengeluaran bulanan untuk Anda yang sudah berkeluarga
  • Mampu melunasi cicilan, tagihan kartu kredit sebaiknya tidak melebihi 10% dari penghasilan
  • Memiliki asuransi kesehatan, jiwa dan aset pribadi.
  • Tabungan dan investasi; Sebagian orang hanya mengandalkan tabungan untuk menyimpan uang yang nyatanya tidak sepenuhnya mampu melawan inflasi. Dengan begitu, alangkah baiknya Parents mulai berinvestasi sesuai tujuan keuangan saat ini. Kini sudah banyak jenis investasi yang bisa dipilih mulai dari yang minim risiko seperti emas dan deposito hingga investasi dengan risiko menengah hingga tinggi seperti reksa dana dan saham
  • Menyisihkan dana pensiun, hal ini krusial untuk memenuhi kebutuhan di hari tua dan tentunya tidak menyusahkan anak dan cucu kelak
  • Memiliki rencana keuangan adalah poin lain yang tak kalah penting. Siasati dengan menyusunnya sendiri di rumah atau Anda juga bisa meminta bantuan perencana keuangan yang terpercaya.

Mengelola pengeluaran rumah tangga untuk keuangan ideal

Dalam kesempatan yang sama, Melvin menuturkan kriteria umum yang sebaiknya diperhatikan sebelum menata casflow yang seimbang yaitu kondisi keuangan mumpuni.

“Disini saya pakai kriteria umum ya, yaitu penghasilan harus lebih besar dibandingkan pengeluaran, rasio tabungan minimal 20% bahkan kalau bisa angkanya semakin bertambah. Lalu cicilan diusahakan maksimal 30% dan punya penghasilan pasif maksimal 50%,” sambungnya.

Terdapat dua cara untuk mengupayakan arus kas keluarga yang seimbang yakni menambah pendapatan dan menghemat pengeluaran. Pertama, tidak mengandalkan hanya satu sumber pendapatan saja.

“Kebanyakan orang sampai berusia 40 tahun itu hanya mengandalkan satu engine saja, padahal jika ada masalah ya akan habis semua. Untuk itu akan lebih baik jika ada sumber lainnya, misalnya dengan mencari pendapatan tambahan,” ujar Melvin.

Melvin menjelaskan hal ini sebaiknya tidak dilakukan sembarangan dan ada satu hal yang perlu digaris bawahi yaitu jangan sampai mengganggu pekerjaan utama yang menjadi sumber penghasilan utama saat ini. 

Hal lain yang bisa dilakukan tentu saja dengan berinvestasi. Namun, hasil imbal balik investasi sebaiknya juga digunakan untuk hal yang produktif. Dengan kata lain uang tersebut menghasilkan passive income yang menguntungkan untuk keuangan kita.

“Kalau semisal ada utang lunasi dulu, sisanya gunakan untuk hal yang produktif. Aset seperti tas misalnya, kalau disewakan dan menghasilkan perputaran uang berarti produktif,” sambung Melvin lagi.

Hal yang juga unik adalah metode Melvin yang justru kurang sepakat dengan pembagian arus kas dengan persentase, di saat metode ini gencar menjadi trik andalan perencana keuangan di luar sana. Menurutnya, persentase tidak fleksibel karena sulit diterapkan apalagi untuk pekerja yang penghasilannya masih terbilang kecil.

Alih-alih membagi porsi pengeluaran dengan diagram angka, Melvin mengutamakan skala prioritas dalam pengeluaran.

“Misalnya jika Anda menganggap dana pendidikan anak itu penting, maka itulah yang harus diselesaikan lebih dulu. Keuangan seseorang dilihat dari penentuan prioritas, beda skala prioritas tentu beda hasilnya,” pungkas Melvin.

Bagaimana, sudahkah Parents mengatur pengeluaran rumah tangga dengan baik?

Baca juga :

Kakeibo, menabung ala ibu rumah tangga Jepang yang wajib Bunda tiru

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner