Pengalaman Menyusui yang Menyakitkan Karena Mastitis

Pengalaman Menyusui yang Menyakitkan Karena Mastitis

Pengalaman menyusui setiap ibu sangat berbeda, ada yang lancar saat menyusui, ada pula yang ASI-nya tidak keluar sama sekali. Bahkan beberapa kondisi membuat ibu harus menahan sakit yang luar biasa ketika menyusui.

Pengalaman menyusui yang dialami ibu tidak selalu menyenangkan, seringkali ibu harus menahan rasa sakit saat mulut si kecil menyedot puting terlalu keras. Atau malah payudara ibu mengalami lecet sehingga terasa sangat sakit ketika sedang menyusui.

Artikel Terkait: Puting Lecet Saat Menyusui, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sayangnya, banyak ibu yang tidak diberitahu bahwa mereka bisa menghadapi pengalaman menyusui yang menyakitkan. Mereka baru diberi informasi setelah mereka mengalaminya sendiri.

Akan lebih baik jika para ibu diberi peringatan sebelumnya, bahwa proses menyusui tidak selalu lancar dan baik-baik saja. Ada kalanya ibu harus menunggu selama berhari-hari sebelum bisa menyusui, bahkan merasakan frustasi saat ASI pertamakali mengalir keluar dari tubuh ibu, yang disebut D-MER.

Artikel Terkait: D-MER, Rasa Frustasi Saat Menyusui yang Dialami Ibu Paska Melahirkan

Seorang ibu bernama Remi Peers, membagikan kisah perjuangannya menyusui putranya yang bernama Rudy. Dia merasakan pengalaman menyusui yang menyakitkan. Ia tak tahu mengapa tidak ada seorangpun yang pernah memberitahunya soal ini.

This is mastitis. After hitting the 1 year breastfeeding mark last Sunday I felt compelled to share my story. Breastfeeding did NOT come easy for me. My milk came in after 5 days. I wasn’t aware that it could take that long, I didn’t even necessarily know what “milk coming in” meant. (Nobody ever taught me.) I was the only mother breastfeeding on my ward. One women did try to breastfeed, but switched to formula after 12 hours because she “had no milk” (nobody taught her either.) While the other babies slept with full bellies, my son screamed and cried attached to my breast through the night. (What was cluster feeding? Nobody told me) When I got home, problems started to arise-my nipple literally cracked in half. I have never felt such pain, I dreaded every feed, but persisted with tears in my eyes until I was healed. (Nobody taught me that breastfeeding could be painful, nobody taught me what a good latch looked like) When feeding my son out in public I would either go to the bathroom or pump at home and feed him with a bottle. Because I felt embarrassed and as though I would make others uncomfortable. This resulted in clogged ducts and engorgement. (I feed freely in public now, and have done for a long time. Fuck this backwards society!) Then came mastitis. I remember waking up at 3am shivering, putting on my dressing gown and extra blankets and trying to feed my son. The pain. It was excruciating. I was shaking and sweating but freezing to my bones. At 5 am I woke up my boyfriend and told him I thought I needed to go to the hospital. We got my stepdad, a doctor, he took my temperature and said it was slightly high, but to take a paracetamol and try and sleep. 7am comes, I’ve had no sleep, and now I’m vomiting, he takes my temp again. 40 c. I had developed sepsis overnight. This was because I was not able to recognise the more subtle signs of mastitis (as I had seen no redness that day) I was rushed to resus, given morphine, anti sickness and the strongest antibiotics they could give, and separated from my baby for two nights. I was Heartbroken. Continued in comments…

A post shared by MamaClog (@mamaclog) on

Dia menulis:

Ini adalah mastitis. Setelah tepat satu tahun menyusui anakku, saya merasa terdorong untuk membagikan kisahku.

Menyusui TIDAK mudah untukku. ASI-ku baru keluar setelah lima hari. Dan saya sama sekali tidak tahu bahwa hal itu bisa terjadi.

Saya bahkan tidak tahu, apa makna ‘ASI datang’, (Tidak ada seorangpun yang pernah mengajariku).

Saya adalah satu-satunya ibu yang menyusui di bangsal. Seorang ibu telah mencoba menyusui anaknya, namun berlaih ke susu formula setelah 12 jam ‘ASI-nya tidak ada’ (tidak ada orang yang memberitahunya juga).

Sementara bayi lain tidur dengan perut kenyang, putraku menjerit dan menangis di dekapanku sepanjang malam. Apa itu Cluster Feeding (bayi sering menyusu saat baru lahir)?, tidak ada seorangpun yang memberitahuku.

Ketika saya pulang ke rumah, masalah mulai memuncak ketika putingku mengalami retakan, dan benar-benar terbelah menjadi dua.

Saya takut untuk menyusui, namun berusaha menahannya sambil menangis hingga saya sembuh. (Tidak ada yang pernah memberitahuku, bahwa menyusui bisa sangat menyakitkan. Tidak ada yang mengajariku, pelekatan yang sempurna itu seperti apa).

Ketika berada di tempat umum, saya harus pergi ke toilet atau memompa di rumah, dan menyusui Rudy dengan botol. Karena saya merasa malu, takut membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Ini menyebabkan pembengkakan dan saluran ASI tersumbat. (Sekarang saya menyusui secara bebas di tempat umum, dan telah melakukannya dalam waktu lama. Persetan dengan masyarakat yang berpikiran terbelakang!)

Kemudian, saya terkena mastitis. Saya ingat bangun jam tiga pagi dengan tubuh menggigil, saya memakai baju dan menambahkan selimut serta mencoba menyusui Rudy.

Rasa sakit itu. Sangatlah menyiksaku. Badan saya gemetar dan berkeringat, namun saya merasa kedinginan hingga menusuk tulang.

Jam lima pagi, saya membangunkan pasanganku dan memberitahunya, bahwa saya harus pergi ke rumah sakit.

Kami menghubungi ayah tiriku yang seorang dokter, dia memeriksa suhu tubuhku dan mengatakan bahwa saya mengalami demam ringan.

Dia menyuruhku untuk minum obat dan mencoba tidur. Jam tujuh pagi, saya belum bisa tidur, malah muntah-muntah. Ayah memeriksa suhu tubuhku lagi. Ternyata suhunya 40 derajat celcius.

Saya mengalami keracunan darah dalam semalam. Hal ini terjadi karena saya tidak mengenali gejala dan tanda-tanda mastitis. (Karena saya tidak melihat kulit yang memerah hari itu)

Artikel Terkait: Mastitis, Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya

Saya segera dibawa ke rumah sakit, diberikan obat antibiotik terkuat yang mereka miliki. Dan dipisahkan dari anakku selama dua malam. Perpisahan itu membuat saya merasa sangat patah hati.

Masih banyak yang bisa diceritakan. Namun poin saya adalah, kurangnya dukungan dan edukasi terhadap proses menyusui adalah hal yang buruk.

Edukasi mengenai hal mendasar tentang menyusui, berbagai masalah yang bisa timbul saat menyusui, dan bagaimana mengatasinya. Bagaimana cara mengenali penyakit saat menyusui, serta cara menyembuhkannya.

Untungnya, gejala keracunan darah yang dialami Remi bisa pulih setelah 24 jam. Dan Mastitis yang ia alami sembuh setelah sembilan hari mengkonsumsi antibiotik. Dari pengalamannya ini, Remi menyimpulkan bahwa pengalaman menyusui itu tidak mudah, namun masyarakat dan pihak medis sangat sedikit memberikan dukungan.

Seperti saat dirinya meminta pompa ASI selama ia dirawat di rumah sakit, namun suster malah mengatakan bahwa mereka tidak bisa menyediakannya karena di sana tidak ada ibu yang menyusui.

“Ibu tidak dibiarkan melahirkan sendiri, tetapi entah bagaimana mereka diharapkan untuk menghadapi proses menyusui seorang diri. Tidak membagikan pengalaman menyusuinya dengan orang lain,” ungkapnya seperti dikutip dari Huffington Post.

“Menyusui itu sulit,” tambahnya. “Dan hal ini seharusnya bisa kuketahui sejak awal, namun tidak. Jika calon ibu tahu betapa sulitnya menyusui sejak awal, mereka akan mempersiapkan diri dengan mengikuti kelas menyusui, membeli buku, ikut forum, dan bertanya lebih jauh.”

“Tetapi kita tidak melakukannya, karena kita menganggap bahwa proses menyusui itu sangat alami, seperti halnya bernafas. Karena tidak ada seorangpun yang pernah memberitahukannya pada kita,” tegasnya.

Artikel Terkait: Penelitian: Dukungan pada Ibu Menyusui Bantu ASI Eksklusif Menjadi Lebih Efektif

Apa yang disampaikan Remi menjadi renungan bagi semua ibu, agar selalu mengedukasi diri sendiri saat bersiap menyambut kehadiran bayi. Bukan hanya tentang cara merawat dan membesarkan anak, namun juga mengenai masalah-masalah paska melahirkan yang mungkin terjadi.

Remi menekankan, bahwa para ibu seharusnya tidak perlu merasa malu untuk bertanya, atau merasa ada yang salah dengan tubuhnya jika dia tidak bisa menyusui karena ASI tidak keluar.

Justru seharusnya masyarakat dan petugas medis menyediakan sarana serta layanan untuk membantu para ibu ini, menemukan jawaban atas apa yang sedang menimpa mereka.

Dan ibu yang terpaksa memberikan susu formula pada bayi, karena tidak mampu menyusui, tidak perlu merasa bersalah. Mereka tetaplah ibu yang sempurna, yang melakukan segalanya demi sang bayi.

 

Baca juga:

Payudara sakit saat menyusui, ini 6 penyebab dan solusinya!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

Fitriyani

app info
get app banner