Penelitian covid-19 terbaru: Coronavirus juga menyerang sistem saraf otak

Penelitian covid-19 terbaru: Coronavirus juga menyerang sistem saraf otak

Tak hanya pernapasan, otak dan jantung pun jadi sasaran virus mematikan covid-19

Penelitian covid-19 pada beberapa pasien virus corona di dunia, menghasilkan temuan baru. Beberapa pasien dilaporkan mengalami gejala yang mirip penyakit saraf.

Para ahli menyebut ada kemungkinan virus corona covid-19 yang selama ini menyerang saluran napas, dalam beberapa kasus langka juga bisa menyerang otak.

Penelitian covid-19 : Beberapa kasus infeksi corona gejalanya mirip penyakit saraf

penelitian covid-19 fitur

Sebagai contoh seorang pasien pria berusia 74 tahun dari kota Boca Raton, Amerika Serikat (AS), datang ke instalasi gawat darurat (IGD) dengan keluhan batuk dan demam.

Pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda pneumonia namun keesokan harinya sang pasien kehilangan kemampuan bicara.

Dr Alessandro Padovani dari University of Brescia, Italia, juga melaporkan hal yang sama. Tempatnya bertugas bahkan sampai membuka unit khusus, NeuroCovid, untuk merawat pasien positif virus corona yang mengalami gejala penyakit saraf.

Artikel terkait : Hilangnya indera penciuman dan perasa bisa menjadi tanda Covid-19, ini penjelasannya

Gejala penyakit saraf yang pernah dilaporkan pada pasien, di antaranya kejang, kebingungan, pusing, sakit kepala, mengigau, kebas, hingga stroke.

Pasien positif corona di Wuhan mengalami gejala gangguan saraf

Penelitian covid-19 terbaru: Coronavirus juga menyerang sistem saraf otak

Hal ini diungkap para ahli dalam sebuah penelitian yang dipublikasi dalam British Medical Journal (BMJ) pada 26 Maret 2020. Jurnal tersebut menulis, sekitar 22 persen dari 113 pasien positif corona yang meninggal di Wuhan mengalami gejala gangguan saraf.

“Kemungkinan ada indikasi virus bisa menyerang otak dalam kasus-kasus langka,” komentar ahli saraf dr Elissa Fory dari Henry Ford Health System seperti dilansir dari Nytimes.

Teerawat Hemachuta, kepala Pusat Informasi untuk Penyakit Menular yang di Universitas Chulalongkorn, Thailand, memosting di akun Facebooknya tentang temuan serupa.

penelitian covid-19

Dokter Teerawat menemukan bahwa ada kasus covid-19 di China di mana pasien mengalami demam, sakit kepala, dan kantuk.

Hasil pemeriksaan menemukan adanya covid-19 dalam cairan serebrospinal pada pasien. Dan virus itu juga merusak medula oblongata pasien sehingga ia sulit bernafas.

Medulla oblongata adalah bagian otak yang berperan mengendalikan fungsi beberapa sistem tubuh, Seperti pernapasan, pencernaan, detak jantung, dan menelan. Bagian otak ini juga menjadi penghubung antara pons dan saraf tulang belakang.

Penelitian covid-19 : Penurunan fungsi paru-paru hingga kurangnya suplai oksigen ke otak

Penelitian covid-19 terbaru: Coronavirus juga menyerang sistem saraf otak

Sementara itu ada juga teori lain yang menyebut kemungkinan gejala penyakit saraf muncul karena penurunan fungsi paru-paru berdampak pada kekurangan oksigen ke otak.

“Kami masih dalam masa-masa awal. Jadi kami masih belum tahu pastinya,” kata neurolog dr Robert Stevens dari Johns Hopkins School of Medicine.

Dilansir dari Asiaone, sebuah kasus coronavirus baru alias covid-19 di China, juga ditemukan fakta bahwa virus ini tidak hanya merusak paru-paru dan sistem pernapasan. Tetapi juga otak dan jantung.

Artikel terkait : Mirip tapi tidak sama! Ini perbedaan gejala covid-19, flu, dan pilek

Dokter Teerawat mengatakan, ada laporan seorang pasien corona dengan dengan ensefaliti (radang otak) yang juga pasien influenza. Radang otak terjadi pada orang-orang dengan sistem imun rendah, seperti orang tua dan anak-anak.

Memang, gejala  Ensefalitis atau radang otak diawali dengan gejala ringan yang mirip flu, seperti demam, sakit kepala, muntah, tubuh terasa lelah, serta nyeri otot dan sendi.

Oleh karena itu, dokter Terawaat menyimpulkan, kasus covid-19 mungkin menunjukkan tidak hanya kelainan di paru-paru tetapi juga otak dan jantung.

Waspadai gejala virus covid-19

penelitian covid-19

Gejala awal infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa berupa gejala flu, seperti demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala.

Setelahnya, pasien bisa mengalam demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Gejala-gejala tersebut muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus Corona.

Namun, secara umum ada 3 gejala yang menunjukkan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:

  • Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius)
  • Batuk
  • Sesak napas

Segera ke dokter bila Anda mengalami gejala infeksi virus Corona (COVID-19) seperti yang disebutkan di atas, terutama jika gejala muncul 2 minggu setelah kembali dari daerah yang memiliki kasus COVID-19 atau berinteraksi dengan penderita infeksi virus Corona.

Demikian informasi tentang penelitian terbaru covid-19, semoga Parents sehat selalu!

Referensi : Asiaone, Nytimes
Baca juga :

Bayi 4 bulan positif corona setelah mudik, bagaimana cara pencegahannya?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

febri

Country ...

Jumlah kasus

...+ 0 Hari ini

Jumlah sembuh

...

Jumlah kematian

...+ 0 Hari ini

Jumlah kritis

...

Untuk mengetahui update terbaru tentang Covid-19